RADARSOLO.COM - Pernah tiba-tiba ikut menyanyikan lagu yang terakhir didengar bertahun-tahun lalu, tetapi kesulitan mengingat materi yang baru dipelajari semalam?
Fenomena ini ternyata bukan sekadar kebiasaan. Cara otak memproses lagu dan teks membuat lirik lebih mudah tersimpan dalam ingatan dibandingkan bacaan biasa.
Lirik lagu pada dasarnya juga merupakan rangkaian bahasa, sama seperti kalimat dalam buku. Bedanya, lirik dipadukan dengan melodi, irama, dan pengulangan yang membuat otak lebih mudah mengenali pola.
Ketika sebuah lagu diputar berulang kali, otak secara tidak sadar membangun hubungan antarkata sehingga proses mengingat menjadi lebih kuat.
Selain itu, musik juga berkaitan erat dengan emosi. Lagu yang membangkitkan rasa senang, sedih, atau nostalgia akan lebih mudah melekat dalam ingatan.
Tak heran jika banyak orang masih hafal lagu masa kecil, lagu iklan, atau lagu yang sempat populer beberapa tahun lalu, meski sudah lama tidak mendengarkannya.
Baca Juga: Kenapa Dance Brazil Mendadak Viral? Ternyata Berawal dari Tarian Bernama “Passinho do Jamal”
Proses ini berbeda ketika seseorang membaca buku. Teks umumnya hanya mengandalkan kata-kata tanpa bantuan melodi atau ritme.
Jika tidak dibaca berulang atau dipelajari dengan strategi tertentu, informasi dalam buku cenderung lebih mudah terlupakan.
Saat bernyanyi, otak juga bekerja lebih kompleks karena memproses lirik, nada, ritme, dan emosi secara bersamaan. Aktivitas tersebut membuat lebih banyak bagian otak terlibat sehingga jejak memori yang terbentuk menjadi lebih kuat.
Dilansir dari Jurnal Kronik berjudul Kajian Pemahaman Materi Sejarah melalui Penerapan Metode Pembelajaran Mengubah Lirik Lagu pada Jenjang SMA dan Perguruan Tinggi, menunjukkan bahwa mengubah materi sejarah menjadi lirik lagu mampu menciptakan suasana belajar yang lebih santai dan menyenangkan. Aktivitas bernyanyi membantu peserta didik lebih antusias, meningkatkan motivasi belajar, sekaligus memperkuat daya ingat terhadap materi yang dipelajari.
Penelitian tersebut juga menjelaskan bahwa metode mengubah lirik lagu memberi ruang bagi peserta didik untuk mengekspresikan pemahamannya terhadap materi sejarah secara kreatif.
Selain mengasah kemampuan berbahasa, cara ini turut melatih kecerdasan musikal dan sosial karena peserta didik tidak hanya menghafal, tetapi juga mengolah kembali informasi menjadi bentuk yang lebih mudah dipahami.
Meski demikian, lagu bukan berarti dapat menggantikan peran buku. Keduanya memiliki fungsi yang berbeda dalam proses belajar.
Buku tetap menjadi sumber informasi yang lebih lengkap dan mendalam, sedangkan lagu dapat dimanfaatkan sebagai media untuk membantu mengingat konsep-konsep penting melalui irama dan pengulangan.
Di tengah berkembangnya berbagai metode pembelajaran, temuan ini menunjukkan bahwa belajar tidak selalu harus dilakukan dengan cara yang kaku.
Memadukan bahasa dengan musik dapat menjadi alternatif yang menyenangkan sekaligus efektif untuk membantu informasi bertahan lebih lama dalam ingatan. Mungkin inilah alasan mengapa lirik lagu sering kali masih terngiang di kepala, bahkan ketika isi buku yang baru selesai dibaca mulai terlupakan.
Editor : Kabun Triyatno