RADARSOLO.COM - Kamu mau bilang, "kuda makan rumput" tapi yang keluar malah "kuda raman mukput"? Atau mungkin pernah salah mengucapkan kata sampai teman-teman langsung tertawa? Tenang, hal seperti ini ternyata sangat umum terjadi.
Fenomena tersebut dikenal sebagai speech error atau kekeliruan tutur dalam dunia psikolinguistik. Salah satu bentuknya adalah kekeliruan assembling, yaitu kesalahan yang terjadi ketika otak sedang menyusun bunyi, kata, atau kalimat sebelum akhirnya diucapkan.
Linguis Victoria A. Fromkin, yang banyak meneliti tentang speech errors, menjelaskan bahwa kesalahan seperti ini bukan terjadi karena seseorang tidak memahami bahasa atau lupa kosakata. Justru sebaliknya, otak sedang bekerja sangat cepat untuk memilih kata, menyusun bunyi, lalu mengirimkannya ke organ bicara. Dalam proses yang berlangsung hanya dalam hitungan detik itulah, kadang terjadi "salah susun" sehingga bunyi atau kata tertukar.
Baca Juga: Pernah Bilang "Gan" atau "Sob"? Bahasa Ternyata Juga Punya Umur
Misalnya, seseorang ingin mengatakan "kuda makan rumput", tetapi yang terucap justru "kuda raman mukput". Bunyi pada beberapa kata saling bertukar posisi sehingga kalimat terdengar lucu, padahal maksudnya tetap sama.
Pendapat serupa juga dijelaskan oleh Willem J. M. Levelt. Menurutnya, sebelum seseorang berbicara, otak harus melewati beberapa tahap, mulai dari menyusun ide, memilih kata yang tepat, merangkai bunyi, hingga akhirnya mengucapkannya. Proses ini berlangsung sangat cepat sehingga terkadang terjadi kesalahan kecil dalam tahap penyusunan atau assembly.
Baca Juga: Tujuh Emoji Populer yang Jadi Bahasa Rahasia Gen Z
Hal ini menunjukkan bahwa otak tidak menghasilkan sebuah kalimat secara utuh dalam satu waktu, melainkan merakitnya sedikit demi sedikit. Itulah mengapa kekeliruan assembling lebih mudah terjadi ketika seseorang sedang berbicara terlalu cepat, merasa gugup, kelelahan, mengantuk, atau memikirkan banyak hal sekaligus.
Kalau kamu pernah mengalaminya, tidak perlu khawatir. Kekeliruan seperti ini merupakan hal yang normal dan bisa dialami siapa saja. Supaya lebih jarang terjadi, ada beberapa cara sederhana yang bisa dicoba.
Baca Juga: Mengapa Nama Hari dalam Bahasa Indonesia Banyak Berasal dari Bahasa Arab?
Pertama, cobalah memperlambat tempo berbicara. Dengan berbicara sedikit lebih pelan, otak memiliki waktu yang cukup untuk menyusun kata sebelum diucapkan.
Kedua, latih kelenturan otot bicara dengan mengucapkan kalimat-kalimat yang sulit, misalnya "Kuku kaki kakak kakekku kaku-kaku" secara berulang. Latihan seperti ini dapat membantu koordinasi antara otak dan organ bicara.
Ketiga, biasakan memberi jeda singkat setelah menyelesaikan satu kalimat. Selain membantu mengatur napas, jeda ini juga memberi kesempatan bagi otak untuk menyiapkan kalimat berikutnya.
Keempat, hindari berbicara terlalu banyak ketika tubuh sedang sangat lelah atau mengantuk. Kondisi fisik yang kurang prima dapat memengaruhi konsentrasi sehingga peluang terjadinya kekeliruan tutur menjadi lebih besar.
Terakhir, biasakan membaca buku atau artikel dengan suara lantang selama lima hingga sepuluh menit setiap hari. Selain melatih pelafalan, kebiasaan ini juga membantu otak semakin terampil menyusun kata dan bunyi ketika berbicara.
Editor : Kabun Triyatno