RADARSOLO.COM - Hampir setiap hari kita mengucapkan kata "maaf", baik saat datang terlambat, tidak sengaja menyenggol orang, maupun melakukan kesalahan yang lebih serius.
Namun, pernahkah memperhatikan bahwa dalam situasi tertentu orang justru memilih mengatakan "mohon maaf"? Misalnya, "Mohon maaf atas ketidaknyamanannya" atau "Kami mohon maaf atas keterlambatan layanan."
Sekilas kedua ungkapan tersebut memiliki tujuan yang sama, yakni menyampaikan permintaan maaf. Akan tetapi, dari sudut pandang linguistik, keduanya memiliki nuansa yang berbeda. Perbedaan itu tidak hanya terletak pada pilihan kata, tetapi juga pada konteks, hubungan antarpenutur, dan tingkat kesantunan yang ingin ditunjukkan.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata maaf memiliki arti pembebasan seseorang dari hukuman atau tuntutan karena suatu kesalahan. Selain itu, kata ini juga digunakan sebagai ungkapan penyesalan, permintaan ampun, atau permintaan izin. Sementara itu, kata mohon berarti meminta dengan hormat.
Ketika kedua kata tersebut digabungkan menjadi "mohon maaf", maknanya bukan sekadar mengulang kata "maaf", melainkan memperkuat unsur permohonan yang disampaikan secara lebih sopan.
Dalam kajian pragmatik, yaitu cabang linguistik yang mempelajari makna bahasa berdasarkan konteks pemakaiannya, permintaan maaf termasuk salah satu bentuk tindak tutur.
Baca Juga: Pinjam Buku di Perpustakaan Wonogiri Bisa Diantar Ojol, Begini Caranya
Artinya, saat seseorang mengucapkan "maaf", ia tidak hanya menyampaikan kata-kata, tetapi juga melakukan tindakan sosial berupa pengakuan atas kesalahan dan upaya memperbaiki hubungan dengan lawan bicara.
Ungkapan "maaf" umumnya digunakan dalam situasi yang bersifat akrab atau informal. Misalnya, seorang teman berkata, "Maaf ya, aku terlambat," atau "Maaf, tadi tidak sempat membalas chat." Kalimat seperti ini terasa wajar karena hubungan antarpenutur sudah dekat sehingga tidak memerlukan bentuk yang terlalu formal.
Berbeda halnya dengan "mohon maaf". Ungkapan ini lebih sering digunakan dalam situasi resmi atau ketika penutur ingin menunjukkan penghormatan yang lebih besar kepada lawan bicara.
Baca Juga: Tujuh Emoji Populer yang Jadi Bahasa Rahasia Gen Z
Misalnya, pengumuman dari sebuah perusahaan yang berbunyi, "Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi," atau seorang pembawa acara yang mengatakan, "Mohon maaf apabila terdapat kesalahan selama acara berlangsung." Penambahan kata mohon memberikan kesan lebih santun sekaligus menunjukkan kesungguhan dalam meminta pengertian.
Perbedaan nuansa juga terlihat ketika kedua ungkapan itu ditempatkan dalam kalimat yang sama. Kalimat "Maaf, saya terlambat" terdengar cukup natural ketika diucapkan kepada teman atau rekan kerja. Namun, saat berbicara kepada tamu, pelanggan, dosen, atau khalayak umum, banyak orang lebih memilih mengatakan, "Mohon maaf atas keterlambatan saya." Pilihan tersebut mencerminkan adanya penyesuaian bahasa terhadap situasi dan hubungan sosial.
Meski demikian, bukan berarti "mohon maaf" selalu lebih baik daripada "maaf". Dalam komunikasi sehari-hari, penggunaan bahasa justru perlu disesuaikan dengan konteks. Menggunakan ungkapan yang terlalu formal kepada teman dekat bisa terasa kaku, sementara menggunakan bentuk yang terlalu santai dalam situasi resmi dapat dianggap kurang sopan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa bahasa bukan hanya soal memilih kata yang benar secara tata bahasa, tetapi juga soal memahami kapan dan kepada siapa kata tersebut digunakan. Kesantunan dalam berbahasa tidak selalu ditentukan oleh panjang atau pendeknya kalimat, melainkan oleh kemampuan penutur menyesuaikan pilihan bahasa dengan situasi yang dihadapi.
Karena itu, baik "maaf" maupun "mohon maaf" sama-sama memiliki tempat dalam komunikasi. Keduanya bukanlah bentuk yang saling menggantikan, melainkan pilihan bahasa yang digunakan sesuai kebutuhan. Memahami perbedaan kecil seperti ini membantu kita berkomunikasi dengan lebih tepat sekaligus menunjukkan bahwa bahasa Indonesia memiliki kekayaan makna yang sering kali tidak disadari dalam percakapan sehari-hari.
Editor : Kabun Triyatno