Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Gaya Hidup Photo

Masih Sering Salah Tulis? Ini Deretan Kata Bahasa Indonesia yang Kerap Keliru

Inayah Choirunisa • Jumat, 17 Juli 2026 | 14:28 WIB
Masih Sering Salah Tulis? Ini Deretan Kata Bahasa Indonesia yang Kerap Keliru. Gambar: Pinterest
Masih Sering Salah Tulis? Ini Deretan Kata Bahasa Indonesia yang Kerap Keliru. (Pinterest)
RADARSOLO.COM - Kesalahan penulisan dalam bahasa Indonesia masih sering ditemukan, baik di media sosial, aplikasi percakapan, hingga dokumen resmi. Menariknya, beberapa kata yang kerap digunakan sehari-hari justru sering ditulis dalam bentuk yang tidak baku karena masyarakat sudah terbiasa menggunakannya.

Padahal, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) telah menetapkan bentuk baku yang seharusnya digunakan, terutama dalam penulisan formal seperti berita, karya ilmiah, surat, maupun dokumen resmi. Berikut beberapa kata yang masih sering salah ditulis.

Baca Juga: Sunyinya Hutan Kota Sungkur: Misteri Hilangnya Kerkof Belanda dan Pemakaman Eropa di Tengah Kota Klaten

1. Risiko, bukan resiko

Kata resiko masih sangat mudah ditemukan dalam berbagai tulisan. Namun, bentuk yang diakui dalam KBBI adalah risiko.

Contoh:

Bentuk baku: Setiap investasi memiliki risiko.

Bentuk tidak baku: Setiap investasi memiliki resiko.

Baca Juga: Legendaris Sejak 1977, Sego Tumpang Congor Mbok Semi Boyolali Tawarkan Sensasi Makan di Pawon

2. Izin, bukan ijin

Penulisan ijin juga masih sering digunakan. Padahal, bentuk bakunya adalah izin.

Contoh:

Bentuk baku: Ia meminta izin kepada gurunya.

Bentuk tidak baku: Ia meminta ijin kepada gurunya.

3. Praktik, bukan praktek

Banyak orang terbiasa menulis praktek, baik dalam konteks pendidikan maupun pekerjaan. Menurut KBBI, bentuk yang benar adalah praktik.

Contoh:

Bentuk baku: Mahasiswa mengikuti praktik laboratorium.

Bentuk tidak baku: Mahasiswa mengikuti praktek laboratorium.

4. Karier, bukan karir

Kata karier juga masih sering ditulis menjadi karir. Padahal, bentuk bakunya menggunakan huruf e.

Contoh:

Bentuk baku: Ia sedang membangun karier sebagai jurnalis.

Bentuk tidak baku: Ia sedang membangun karir sebagai jurnalis.

5. Sekadar, bukan sekedar

Kesalahan lain yang cukup sering ditemui adalah penulisan sekedar. Bentuk yang benar menurut KBBI adalah sekadar.

Contoh:

Bentuk baku: Saya datang sekadar menyapa.

Bentuk tidak baku: Saya datang sekedar menyapa.

6. Silakan, bukan silahkan

Banyak orang menganggap bentuk silahkan lebih sopan. Padahal, kata yang tercantum dalam KBBI adalah silakan.

Contoh:

Bentuk baku: Silakan duduk terlebih dahulu.

Bentuk tidak baku: Silahkan duduk terlebih dahulu.

7. Antre, bukan antri

Kata antre juga termasuk yang sering keliru penulisannya. Dalam KBBI, bentuk bakunya adalah antre.

Contoh:

Bentuk baku: Pengunjung diminta antre dengan tertib.

Bentuk tidak baku: Pengunjung diminta antri dengan tertib.

8. Objek, bukan obyek

Penulisan obyek masih banyak ditemukan, terutama pada papan informasi atau tulisan di ruang publik. Bentuk baku yang benar adalah objek.

Contoh:

Bentuk baku: Pantai menjadi objek wisata favorit.

Bentuk tidak baku: Pantai menjadi obyek wisata favorit.

Kesalahan-kesalahan tersebut umumnya terjadi karena faktor kebiasaan. Bentuk yang tidak baku sudah lama digunakan dalam percakapan sehari-hari sehingga banyak orang menganggapnya sebagai bentuk yang benar. Selain itu, penggunaan yang berulang di media sosial maupun berbagai media informasi turut memperkuat anggapan tersebut.

Bahasa memang terus berkembang mengikuti penuturnya. Namun, dalam konteks resmi, penggunaan bentuk baku tetap diperlukan agar komunikasi berlangsung lebih jelas dan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Hal ini penting bagi pelajar, mahasiswa, pekerja, hingga masyarakat umum yang kerap membuat tulisan formal.

Apabila masih ragu terhadap penulisan suatu kata, KBBI Daring dapat menjadi rujukan utama. Melalui kamus tersebut, masyarakat dapat memastikan apakah kata yang digunakan sudah sesuai dengan bentuk baku atau masih termasuk bentuk yang keliru. Dengan membiasakan diri menggunakan ejaan yang benar, kualitas penggunaan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari pun dapat terus terjaga.

Editor : Kabun Triyatno
risiko antre izin praktik karier