RADARSOLO.COM - Ketika mendengar kata kudapan, tetikus, atau pranala, sebagian orang mungkin merasa asing. Bahkan, tidak sedikit yang menganggap kata-kata tersebut terdengar lucu atau dipaksakan. Padahal, kosakata tersebut merupakan bagian dari bahasa Indonesia yang telah dibakukan dan tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).
Di tengah derasnya penggunaan istilah asing, terutama dalam bidang teknologi dan gaya hidup, kehadiran kata-kata tersebut merupakan upaya untuk memperkaya kosakata bahasa Indonesia sekaligus menyediakan padanan istilah yang mudah dipahami oleh masyarakat.
Baca Juga: Dulu Dianggap Aneh, Ternyata Kata-Kata Ini Sudah Resmi Masuk KBBI
Salah satu kata yang cukup sering menimbulkan perdebatan adalah kudapan. Banyak orang lebih akrab dengan kata camilan atau snack. Menurut KBBI, kudapan berarti makanan ringan atau makanan kecil yang disantap di sela waktu makan utama.
Meski kata camilan juga telah masuk ke dalam KBBI, penggunaan kudapan kerap dipilih dalam konteks yang lebih formal, misalnya pada buku, artikel, atau acara resmi.
Kata lain yang juga sering menarik perhatian adalah tetikus. Istilah ini digunakan sebagai padanan dari mouse, yaitu perangkat penunjuk pada komputer. Kata tersebut dipilih karena bentuk perangkat itu dianggap menyerupai tikus dengan kabel yang menyerupai ekor.
Walaupun sebagian besar masyarakat masih menggunakan istilah mouse, kata tetikus tetap menjadi padanan resmi dalam bahasa Indonesia dan kerap ditemukan dalam buku pelajaran, kamus, maupun dokumen kebahasaan.
Ada pula kata pranala, yang menjadi padanan untuk istilah link. Dalam KBBI, pranala berarti hubungan atau sambungan menuju halaman lain dalam sebuah dokumen digital atau situs web.
Di media sosial, masyarakat lebih sering mengatakan "kirim link" daripada "kirim pranala". Meski begitu, penggunaan kata pranala semakin banyak ditemukan dalam situs web pemerintah, aplikasi layanan publik, hingga berbagai dokumen resmi.
Baca Juga: 7 Pertimbangan Sebelum Membeli iPhone 15 di Promo Salebration Blibli
Contoh lain adalah gawai, yang menjadi padanan dari gadget. Kata ini merujuk pada perangkat elektronik yang memiliki fungsi praktis, seperti telepon pintar, tablet, atau perangkat digital lainnya.
Sejak pembelajaran jarak jauh pada masa pandemi Covid-19, kata gawai semakin sering digunakan, terutama dalam dunia pendidikan dan pemberitaan.
Selain itu, ada pula istilah surel sebagai padanan dari email. Surel merupakan singkatan dari surat elektronik. Meskipun masyarakat masih lebih akrab dengan istilah email, kata surel telah lama tercantum dalam KBBI dan banyak digunakan dalam surat-menyurat resmi maupun dokumen pemerintahan.
Lalu, mengapa KBBI menghadirkan kata-kata seperti ini?
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menjelaskan bahwa salah satu tugasnya adalah mengembangkan kosakata bahasa Indonesia agar mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya. Ketika muncul istilah baru dari bahasa asing, para ahli bahasa berupaya mencari atau membentuk padanan yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia sehingga masyarakat memiliki alternatif selain menggunakan istilah asing secara langsung.
Namun, tidak semua padanan langsung diterima dan digunakan secara luas. Beberapa membutuhkan waktu hingga akhirnya menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat. Contohnya adalah kata swafoto yang dahulu terdengar asing, tetapi kini semakin dikenal sebagai padanan dari selfie. Begitu pula dengan istilah daring dan luring yang kini sudah umum digunakan dalam berbagai situasi.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa perkembangan bahasa berlangsung secara bertahap. Sebuah kata tidak serta-merta menjadi populer hanya karena telah masuk KBBI. Penggunaannya bergantung pada seberapa sering kata tersebut dipakai oleh masyarakat, media massa, dunia pendidikan, maupun instansi pemerintah.
Karena itu, ketika menjumpai kata seperti kudapan, tetikus, atau pranala, tidak perlu buru-buru menganggapnya aneh. Kata-kata tersebut merupakan bagian dari upaya memperkaya bahasa Indonesia agar tetap mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa harus selalu bergantung pada istilah asing.
Editor : Kabun Triyatno