Pertumbuhan Energi Hijau Indonesia: UNS dan Anurag University, India, Berkolaborasi Mengembangkan Penyimpanan Energi Baterai yang Lebih Cerdas menuju Net Zero Emission (NZE) 2060

Tri wahyu Cahyono • Dipublikasikan Minggu, 19 Juli 2026 | 17:19 WIB
Produk unggulan  Smart Battery Management System (BMS) UNS.  Alat ini dapat difungsikan sebagai pengganti genset dengan kapasitas yang dapat dikustomisasi. (DOK.UNS)
Produk unggulan Smart Battery Management System (BMS) UNS. Alat ini dapat difungsikan sebagai pengganti genset dengan kapasitas yang dapat dikustomisasi. (DOK.UNS)

RADARSOLO.COM - Transisi Indonesia menuju sistem energi rendah karbon kini memasuki fase yang menentukan.

Dengan target pemerintah sebesar 69,5 GW kapasitas pembangkit listrik baru hingga tahun 2034, yang 76% di antaranya diproyeksikan berasal dari sumber energi terbarukan, kebutuhan akan sistem kelistrikan yang lebih fleksibel, andal, dan cerdas menjadi semakin mendesak.

Arah kebijakan nasional ini berkaitan erat dengan komitmen jangka panjang Indonesia untuk mencapai Net Zero Emission (NZE) 2060.

Sekaligus mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) melalui sistem energi yang lebih bersih, pemanfaatan sumber daya yang bertanggung jawab, serta kemitraan internasional yang lebih kuat.

Baca Juga: D3 Kebidanan Sekolah Vokasi UNS Tingkatkan Pengetahuan Ibu Nifas melalui Pendampingan Perawatan Postpartum Berbasis Komunitas di Puskesmas Sangkrah

Menjawab tantangan tersebut, tim peneliti dari Universitas Sebelas Maret (UNS) tengah mengembangkan kerangka optimasi tingkat lanjut untuk Battery Energy Storage System (BESS) yang mempertimbangkan dua faktor riil penting yang sering terabaikan dalam perencanaan konvensional.

Yaitu ketidakpastian energi terbarukan yang bersifat variabel dan degradasi baterai.

Penelitian ini dipimpin Dr. Chico Hermanu Brillianto Apribowo dan dilaksanakan dalam kerangka Program International Research Network EQUITY THE Impact Rankings 2025.

Salah satu elemen kunci proyek ini adalah kolaborasi internasional dengan Dr. Srikanth Goud B, Associate Professor, Department of Electrical and Electronics Engineering, Anurag University, Hyderabad, India.

Penelitian ini berfokus pada tantangan teknis yang semakin berkembang dalam sistem transisi energi.

Sumber energi terbarukan seperti pembangkit listrik tenaga surya fotovoltaik dan tenaga angin memang esensial bagi upaya dekarbonisasi.

Namun keluarannya secara alamiah bersifat intermiten dan tidak pasti. 

Variabilitas ini dapat menimbulkan berbagai persoalan operasional pada jaringan listrik, di antaranya deviasi frekuensi, tekanan ramping, curtailment, dan risiko keandalan.

BESS diakui secara luas sebagai solusi strategis untuk meningkatkan fleksibilitas sistem, menyerap surplus pembangkitan energi terbarukan, dan mendukung operasi jaringan yang stabil. 

Namun demikian, sistem baterai juga mengalami degradasi seiring waktu, dan mengabaikan degradasi ini dalam model perencanaan dapat berujung pada umur pakai yang lebih pendek, biaya siklus hidup yang lebih tinggi, dan keputusan investasi yang tidak optimal.

Baca Juga: Tingkatkan Daya Saing, Pusat Studi Halal UNS Gelar Pelatihan Sistem Penjaminan Produk Halal bagi UMKM di Solo

Untuk menjawab kesenjangan tersebut, penelitian UNS ini mengembangkan sebuah alat Battery Energy Storage System (BESS) yang terintegrasi dengan Smart Battery Management System (BMS) dengan optimasi machine learning yang mengintegrasikan pemodelan degradasi baterai, integrasi sistem energi baru terbarukan (EBT), serta limitasi dalam operasional sistem tenaga listrik ke dalam satu model terpadu. 

Alat ini dapat difungsikan sebagai pengganti genset dengan kapasitas yang dapat dikustomisasi. 

Pengujian produk BMS terintegrasi panel surya. (DOK.UNS)
Pengujian produk BMS terintegrasi panel surya. (DOK.UNS)

Melalui integrasi BMS, alat ini mampu menentukan mekanisme pengisian yang optimal, energi keluaran, serta strategi operasi BESS yang optimal yang dapat meminimalkan biaya, meningkatkan fleksibilitas, dan menurunkan emisi.

Di luar kontribusi teknisnya, penelitian ini juga membawa implikasi ekonomi yang penting.

Sistem penyimpanan baterai yang lebih andal dan hemat biaya dapat mempercepat penerapan energi terbarukan, mengurangi ketergantungan pada pembangkit pemikul beban puncak berbahan bakar fosil, serta meningkatkan produktivitas sistem kelistrikan yang menopang industri, sektor jasa, dan infrastruktur digital.

Dalam konteks ini, penelitian tersebut berkontribusi langsung pada SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, khususnya dalam konteks pertumbuhan ekonomi hijau.

Penempatan baterai yang lebih cerdas dapat mendukung lahirnya rantai nilai baru dalam integrasi energi terbarukan, perancangan sistem penyimpanan, pengelolaan jaringan listrik cerdas, dan layanan energi bersih.

Seiring Indonesia memperluas ekonomi rendah karbonnya, inovasi semacam ini dapat memperkuat daya saing nasional sekaligus membuka peluang pengembangan industri yang lebih berkelanjutan.

Proyek ini juga mencerminkan pentingnya SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Baca Juga: FKOR UNS Gelar Pelatihan Para Throwball untuk Anak Berkebutuhan Khusus

Transisi energi bukan sekadar persoalan kebijakan dalam negeri, melainkan juga tantangan ilmiah dan teknologi global yang diperkaya oleh kolaborasi akademik lintas negara.

Melalui kemitraan antara UNS dan Anurag University, penelitian ini dirancang bukan hanya sebagai upaya publikasi tunggal.

Melainkan sebagai platform kerja sama akademik yang lebih luas untuk memperkuat pertukaran pengetahuan internasional dan mutu luaran ilmiah.

Rencana Kolaborasi dengan Anurag University

Kolaborasi dengan Dr. Srikanth Goud B disusun dalam sejumlah kegiatan akademik yang konkret:

(1) Pengembangan riset bersama

Kedua pihak berkolaborasi dalam mematangkan kerangka penelitian, mendiskusikan asumsi teknis, serta memperkuat pendekatan pemodelan terkait degradasi baterai, ketidakpastian energi terbarukan, dan optimasi penyimpanan energi.

(2) Publikasi ilmiah bersama

Proyek ini menargetkan publikasi bersama pada jurnal internasional bereputasi terindeks Scopus (minimal Q2), dengan judul manuskrip sementara mengenai dekarbonisasi sistem tenaga listrik dengan penetrasi energi terbarukan tinggi dan perencanaan BESS yang mempertimbangkan degradasi baterai.

(3) Working paper dan sesi diskusi riset 

Kemitraan ini mencakup pertukaran riset melalui presentasi working paper, sesi telaah teknis, dan masukan ilmiah untuk meningkatkan kekokohan, visibilitas, serta mutu akademik penelitian. 

(4) Kuliah tamu atau sesi akademik undangan 

Kolaborasi ini dapat mencakup kuliah tamu, presentasi undangan, maupun sesi berbagi akademik yang diselenggarakan secara daring atau luring untuk memperluas diseminasi riset dan membuka wawasan mahasiswa terhadap perspektif internasional.  

Baca Juga: UNS Perkuat Kolaborasi Riset Internasional lewat Hibah IRN Program EQUITY dalam Pengembangan Adsorben Biomaterial Berkelanjutan Tangani Cemaran Antibiotika Persisten di Perairan

(5) Diseminasi ilmiah internasional 

Temuan penelitian direncanakan untuk dipresentasikan dalam sedikitnya satu forum ilmiah internasional, sehingga memperluas relevansi global agenda riset transisi energi Indonesia.

(6) Penguatan jejaring akademik internasional UNS

Kolaborasi ini turut mendukung UNS dalam meningkatkan keterlibatan akademik globalnya serta memperkuat kontribusinya pada tolok ukur internasional dan inisiatif dampak terkait SDGs.

Dalam jangka panjang, hasil penelitian ini berpotensi memberikan wawasan yang bermanfaat bagi pembuat kebijakan, perencana sistem, dan pemangku kepentingan energi di Indonesia.

Terutama di wilayah dengan penetrasi energi terbarukan yang terus meningkat dan kebutuhan fleksibilitas yang terus berkembang.

Dengan memadukan sistem manajemen baterai, integrasi energi terbarukan, dan optimasi sistem tenaga listrik, penelitian ini berupaya menawarkan jalur perencanaan penyimpanan energi yang lebih realistis dan berorientasi pada implementasi bagi sistem energi yang sedang berkembang.

Pada tataran yang lebih luas, inisiatif ini menunjukkan bahwa kemajuan berarti menuju target net zero membutuhkan lebih dari sekadar investasi infrastruktur.

Diperlukan pula model yang lebih kuat, pengambilan keputusan berbasis data yang lebih baik, serta kemitraan akademik internasional yang mampu mengubah riset menjadi strategi transisi yang dapat diterapkan.

Melalui kolaborasi antara Universitas Sebelas Maret dan Anurag University, proyek ini bertujuan berkontribusi pada sistem kelistrikan yang lebih bersih, pertumbuhan hijau yang lebih kuat, serta ekosistem riset global yang semakin terhubung. (*)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
energi hijau indonesia tim peneliti uns Battery Energy Storage System (BESS) Smart Battery Management System (BMS) anurag university