RADARSOLO.COM - Pernah merasa cemas setiap kali nilai tidak sesuai harapan, kewalahan karena tugas yang menumpuk, atau terus membandingkan pencapaian diri dengan teman? Jika iya, bisa jadi kamu sedang mengalami academic pressure atau tekanan akademik.
Academic pressure adalah beban psikologis yang dialami siswa maupun mahasiswa akibat tingginya tuntutan untuk berprestasi. Tekanan ini dapat muncul dari berbagai arah, mulai dari ekspektasi orang tua, persaingan antarsiswa atau mahasiswa, tuntutan institusi pendidikan, hingga target tinggi yang ditetapkan oleh diri sendiri. Akibatnya, seseorang dapat mengalami stres, kecemasan, hingga kelelahan secara fisik maupun mental.
Tekanan akademik tidak muncul begitu saja. Ada banyak faktor yang dapat memicunya, seperti tuntutan untuk selalu memperoleh nilai sempurna, banyaknya tugas dengan tenggat waktu yang berdekatan, serta lingkungan belajar yang sangat kompetitif.
Di era media sosial, tekanan ini juga semakin besar karena seseorang lebih mudah membandingkan pencapaiannya dengan orang lain. Selain itu, sifat perfeksionis juga dapat membuat seseorang merasa bahwa hasil yang baik saja tidak pernah cukup.
Baca Juga: Lelah Berkepanjangan? Ini Cara Mengatasi Burnout
Jika tidak dikelola dengan baik, academic pressure dapat memberikan dampak yang serius. Dari sisi psikologis, seseorang bisa mengalami kecemasan (anxiety), overthinking, kehilangan motivasi belajar, hingga menurunnya rasa percaya diri (self-esteem).
Sementara itu, dampak fisiknya dapat berupa gangguan tidur, sakit kepala, kelelahan kronis, dan menurunnya daya tahan tubuh. Kondisi tersebut akhirnya membuat seseorang semakin sulit berkonsentrasi, lebih sering menunda pekerjaan, bahkan mengalami penurunan prestasi akademik.
Baca Juga: Kok Emoji Bisa Jadi "Word of the Year"? Ternyata Pernah Mengalahkan Kata-Kata
Kabar baiknya, tekanan akademik dapat dikelola dengan langkah-langkah sederhana. Mulailah dengan menyusun jadwal belajar yang realistis sehingga waktu untuk belajar, beristirahat, dan melakukan hobi tetap seimbang.
Saat menghadapi tugas yang terasa berat, cobalah membaginya menjadi bagian-bagian kecil agar lebih mudah dikerjakan. Ingatlah bahwa kegagalan merupakan bagian dari proses belajar dan bukan penentu nilai diri. Hindari pula kebiasaan membandingkan pencapaian dengan orang lain karena setiap orang memiliki proses yang berbeda.
Baca Juga: Duduk Lama di Depan Laptop tapi Ide Nggak Muncul? Bisa Jadi Kamu Lagi Creative Block
Selain itu, menjaga kesehatan fisik juga sama pentingnya dengan menjaga kesehatan mental. Pastikan tubuh mendapatkan waktu tidur yang cukup, mengonsumsi makanan bergizi, dan rutin berolahraga agar tetap bugar. Jika tekanan yang dirasakan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan ragu untuk mencari dukungan dari teman, keluarga, guru, dosen, maupun tenaga profesional.
Editor : Kabun Triyatno