RADARSOLO.COM - Fakultas Teknik (FT) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menutup rangkaian Science and Engineering Summer Camp 2026 melalui Gala Dinner di Hall Lantai 2 Gedung Induk Siti Walidah UMS, Jumat malam (24/7).
Program internasional perdana tersebut mempertemukan mahasiswa lintas negara untuk mengembangkan inovasi berbasis persoalan nyata di masyarakat, khususnya sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Dekan Fakultas Teknik UMS Mochamad Solikin mengatakan, konsep tersebut sengaja dirancang untuk memberikan pengalaman berbeda kepada mahasiswa.
Menurutnya, seorang insinyur harus mampu hadir dan memberikan solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat.
Baca Juga: Mahasiswa UMS Bikin Lampu PJU Panel Surya, Tahan Menyala 14 Jam Dan Dilengkapi Sensor Kabut
“Mungkin ketika datang ke sini, kalian membayangkan summer camp yang berisi kunjungan ke museum atau destinasi wisata. Namun di sini kalian justru datang ke usaha kecil, belajar memahami persoalan mereka, lalu memberikan ide dan solusi,” ujarnya.
Solikin menekankan, kontribusi seorang engineer tidak terbatas oleh wilayah maupun negara. Karena itu, mahasiswa perlu memiliki pola pikir bahwa ilmu teknik harus dapat dimanfaatkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
“Engineers without borders, tidak ada batas bagi seorang engineer. Dunia adalah tempat kami berkontribusi. Engineer hadir bukan untuk menghindari masalah, tetapi untuk menjawab masalah,” tegasnya.
Ketua Panitia Science and Engineering Summer Camp 2026 Mohammad Nasrul Mubin ST MT menyebut, program tersebut mendapat antusiasme tinggi. Panitia menerima 176 pendaftar dari sejumlah negara di Asia, Timur Tengah, dan Afrika.
Baca Juga: Anomali Bisnis Jasa Layanan Anjem di Kampus UNS Solo: Sistem Sociopreneur Yang Hidupkan Pasar Lokal
Setelah melalui seleksi administrasi dan wawancara, terpilih 20 peserta yang mengikuti program.
Mereka terdiri atas 11 mahasiswa internasional, enam mahasiswa FT UMS, dan tiga mahasiswa Universitas Muhammadiyah PKU (UMPKU) Surakarta.
Selama kegiatan, peserta mengikuti kelas design thinking dan startup.
Mereka juga melakukan kunjungan lapangan ke UMKM batik untuk memetakan persoalan, belajar membatik secara langsung, kemudian menyusun proyek inovasi yang dipresentasikan di hadapan dewan juri.
Salah satu peserta, Moh’d Khamis Moh’d, mahasiswa asal Tanzania dari Nusa Putra University mengaku, tertarik mengikuti program karena pendekatan inovasi yang dikaitkan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).
“Sebagai seorang engineer, saya belajar bagaimana berinovasi tanpa menghilangkan budaya lokal. Itu pengalaman yang sangat berharga,” ujarnya. (alf/nik)
Editor : fery ardi susantoSumber : Radar Solo