Kenapa Bahasa Indonesia Dipilih Jadi Bahasa Persatuan?

Kabun Triyatno • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 07:50 WIB
Bahasa Indonesia dipilih sebagai bahasa persatuan karena peran historis bahasa Melayu sebagai lingua franca netral.
Bahasa Indonesia dipilih sebagai bahasa persatuan karena peran historis bahasa Melayu sebagai lingua franca netral.

RADARSOLO.COM – Indonesia memiliki ratusan bahasa daerah yang digunakan masyarakat dari Sabang sampai Merauke. Di antara keragaman tersebut, bahasa Jawa menjadi salah satu bahasa daerah dengan jumlah penutur terbesar.

Namun, ketika para pemuda mengikrarkan bahasa persatuan pada 1928, bahasa yang dipilih bukan bahasa Jawa, melainkan bahasa Indonesia yang berakar dari bahasa Melayu.

Pilihan tersebut bukan keputusan yang muncul secara tiba-tiba. Ada sejumlah alasan yang membuat bahasa Melayu memiliki posisi berbeda dibandingkan bahasa daerah lainnya.

Baca Juga: Emangnya Emoji Bisa Bohong? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Sudah Menjadi Bahasa Penghubung

Jauh sebelum Sumpah Pemuda, bahasa Melayu telah digunakan sebagai lingua franca, atau bahasa penghubung antarsuku dan antardaerah di Nusantara.

Bahasa tersebut digunakan dalam perdagangan dan komunikasi di berbagai wilayah. Penyebarannya juga tidak terbatas pada masyarakat Melayu. Karena digunakan oleh kelompok dengan latar belakang berbeda, bahasa Melayu relatif dikenal di berbagai kawasan Nusantara.

Artinya, ketika masyarakat dari daerah berbeda membutuhkan bahasa untuk berkomunikasi, mereka tidak selalu harus menggunakan bahasa daerah lawan bicaranya. Bahasa Melayu telah lebih dulu memainkan fungsi tersebut.

Baca Juga: Emoji Pertama di Dunia Bentuknya Seperti Apa? Ternyata Sederhana Banget

Tidak Melekat pada Satu Kelompok Besar

Faktor lain yang membuat bahasa Melayu cocok menjadi bahasa persatuan adalah kedudukannya yang tidak terlalu identik dengan satu kelompok etnis dominan.

Bahasa Jawa memang memiliki jumlah penutur yang besar. Namun, menjadikan bahasa dari salah satu kelompok etnis sebagai bahasa persatuan berpotensi membuat kelompok lain merasa kurang terwakili.

Sebaliknya, bahasa Melayu telah digunakan lintas kelompok dan wilayah. Sejumlah kajian menyebut pemilihan bahasa Melayu juga berkaitan dengan kebutuhan membentuk identitas nasional yang tidak terikat pada kepentingan kedaerahan tertentu.

Bukan Sekadar “Bahasa yang Simpel”

Anggapan bahwa bahasa Indonesia dipilih karena strukturnya sederhana perlu dilihat lebih hati-hati.

Memang, bahasa Indonesia memiliki karakter tata bahasa yang berbeda dari sejumlah bahasa lain. Namun, alasan historis pemilihannya tidak semata-mata karena mudah dipelajari.

Bahkan, kajian kebahasaan menunjukkan bahwa ragam Melayu yang kemudian menjadi bahasa Indonesia tidak tepat jika hanya disebut sebagai Melayu Pasar. Ragam Melayu yang berkembang dalam pendidikan dan pergerakan kebangsaan turut berperan dalam pembentukan bahasa Indonesia.

Jadi, faktor utamanya lebih berkaitan dengan sejarah penggunaan, persebaran, fungsi sebagai bahasa penghubung, dan kemampuannya menjembatani kelompok yang berbeda.

Baca Juga: Kok Ada Orang yang Hampir Tidak Pernah Pakai Emoji? Ternyata Bukan Berarti Galak

Nama “Bahasa Indonesia” Sudah Muncul Sebelum 1928

Menariknya, istilah “bahasa Indonesia” bahkan sudah digunakan sebelum Sumpah Pemuda.

Tokoh pers Muhammad Tabrani menggunakan istilah tersebut dalam surat kabar Hindia Baroe sejak 1926. Ia bahkan telah memandang bahasa Indonesia sebagai bagian dari gagasan persatuan untuk mencapai kemerdekaan.

Dua tahun kemudian, para pemuda mengikrarkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan melalui Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.

Sejak saat itu, bahasa Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga menjadi simbol persatuan di tengah keberagaman bahasa dan budaya.

Hingga kini, peran tersebut masih terasa. Bahasa Indonesia memungkinkan masyarakat dari berbagai daerah berkomunikasi tanpa harus meninggalkan bahasa daerah masing-masing. Pemerintah juga terus mendorong prinsip mengutamakan bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah, dan menguasai bahasa asing.

Dengan demikian, pemilihan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan bukan sekadar soal bahasa mana yang paling banyak penuturnya atau paling mudah dipelajari. Bahasa yang sudah lebih dulu berfungsi sebagai jembatan antarkelompok justru menjadi salah satu fondasi yang membantu masyarakat yang beragam membangun identitas sebagai satu bangsa. (inayah choirunisa)

Editor : Kabun Triyatno
inayah choirunisa indonesia bahasa melayu persatuan