‘Campur-Campur’ Bahasa Makin Biasa di Percakapan Sehari-hari, Mengapa?

Inayah Choirunisa • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:02 WIB
Penggunaan bahasa Indonesia yang diselingi bahasa asing atau daerah merupakan bentuk adaptasi fleksibel sesuai situasi dan lingkungan.
Penggunaan bahasa Indonesia yang diselingi bahasa asing atau daerah merupakan bentuk adaptasi fleksibel sesuai situasi dan lingkungan.

RADARSOLO.COM – “Nanti aku kabarin, but I’m not sure bisa datang atau enggak.”

Kalimat seperti itu mungkin terdengar biasa dalam percakapan sehari-hari. Begitu pula ketika seseorang mengatakan, “Dia lucu banget, gemes pisan,” atau “Aku literally capek hari ini.”

Bahasa Indonesia dalam percakapan ternyata tidak selalu hadir sendirian. Bahasa Inggris, bahasa daerah, bahkan istilah dari bahasa lain dapat muncul di tengah kalimat tanpa membuat lawan bicara kebingungan.

Fenomena tersebut kerap dikaitkan dengan istilah seperti “bahasa Jaksel”, bahasa gaul, atau sekadar kebiasaan anak muda. Dalam linguistik, penggunaan lebih dari satu bahasa dalam sebuah percakapan dapat dipelajari melalui konsep campur kode dan alih kode.

Baca Juga: Salah Dengar Lirik Bisa Bikin Lagu Jawa Mendunia

Beda Campur Kode dan Alih Kode

Campur kode terjadi ketika unsur bahasa lain disisipkan ke dalam bahasa yang sedang digunakan. Misalnya, seseorang mengatakan, “Aku literally nggak tahu harus jawab apa.”

Bahasa utama dalam kalimat tersebut tetap bahasa Indonesia, tetapi ada kata dari bahasa Inggris yang ikut digunakan.

Hal berbeda terjadi pada alih kode. Fenomena ini terjadi ketika penutur berpindah dari satu bahasa ke bahasa lain dalam suatu percakapan.

Contohnya, seseorang berbicara menggunakan bahasa Indonesia, kemudian beralih menggunakan bahasa Inggris ketika melanjutkan pembicaraan. Pergantian tersebut dapat dipengaruhi oleh topik, lawan bicara, situasi, atau tujuan tertentu.

Baca Juga: Makin Sulit Dibedakan, Kenali Ciri Video AI agar Tak Mudah Terkecoh

Batas antara keduanya memang tidak selalu terasa jelas dalam percakapan sehari-hari. Namun, secara sederhana, campur kode lebih terlihat sebagai penyisipan unsur bahasa lain, sedangkan alih kode melibatkan perpindahan kode bahasa yang digunakan.

Bukan Berarti Tidak Bisa Berbahasa Indonesia

Kebiasaan mencampur bahasa juga tidak otomatis menunjukkan seseorang tidak mampu menggunakan bahasa Indonesia dengan baik.

Pilihan bahasa sangat bergantung pada situasi dan lingkungan sosial. Seseorang mungkin menggunakan bahasa Indonesia formal ketika berbicara dengan dosen atau menulis laporan, tetapi menggunakan bahasa campuran ketika berbincang dengan teman.

Lawan bicara juga berpengaruh. Jika kedua orang sama-sama memahami bahasa Inggris, misalnya, penggunaan istilah seperti actually, literally, atau anyway dapat berlangsung secara spontan.

Dalam situasi lain, bahasa daerah dapat digunakan untuk menciptakan kedekatan atau menunjukkan identitas kelompok.

Media Sosial Ikut Membentuk Kebiasaan

Perkembangan media sosial membuat pertemuan berbagai bahasa semakin mudah ditemukan. Pengguna internet setiap hari terpapar konten dari berbagai negara sehingga kosakata asing ikut masuk ke percakapan.

Baca Juga: Kenapa Sih Emoji Baru Muncul Tiap Tahun? Ini Rahasianya!

Kata-kata yang awalnya hanya ditemukan dalam film, lagu, gim, atau media sosial kemudian dapat digunakan dalam percakapan sehari-hari.

Hal tersebut juga membuat batas antara bahasa formal dan informal semakin terlihat. Kata yang dianggap tidak lazim dalam tulisan resmi bisa terasa sangat wajar ketika digunakan dalam percakapan bersama teman.

Pada akhirnya, bahasa memang tidak pernah benar-benar diam. Penuturnya terus menyesuaikan pilihan kata dengan siapa mereka berbicara, di mana percakapan berlangsung, dan pesan seperti apa yang ingin disampaikan.

Jadi, ketika seseorang tiba-tiba menyelipkan “actually”, “anyway”, “lah”, atau bahasa daerah dalam percakapan, belum tentu ia sedang berusaha terlihat keren.

Bisa jadi, ia hanya sedang menggunakan bahasa sebagaimana mestinya: menyesuaikannya dengan situasi dan lingkungan sosial. (inayah choirunisa)

Editor : Kabun Triyatno
inayah choirunisa percakapan kode indonesia bahasa