RADARSOLO.COM – Penjajahan mungkin sudah berakhir puluhan tahun lalu. Namun, pengaruhnya tidak selalu hilang bersamaan dengan berakhirnya kekuasaan kolonial.
Salah satu jejak yang masih dapat ditemukan hingga sekarang adalah bahasa.
Kata-kata yang digunakan sehari-hari, bahasa yang dianggap lebih bergengsi, hingga bahasa yang perlahan ditinggalkan suatu komunitas dapat berkaitan dengan sejarah panjang hubungan kekuasaan.
Dalam kajian sosiolinguistik, hubungan antara bahasa dan kekuasaan tersebut juga bersinggungan dengan kajian postkolonialisme.
Baca Juga: Sering Dipakai di Sekolah dan Kampus, Istilah Pendidikan Ini Ternyata Berasal dari Bahasa Belanda
Kolonialisme tidak hanya mengatur wilayah dan pemerintahan. Dalam banyak konteks sejarah, kolonialisme juga membawa sistem pendidikan, administrasi, agama, serta bahasa yang kemudian menciptakan hubungan sosial baru.
Bahasa Bisa Ikut Mengikuti Kekuasaan
Bahasa penjajah kerap memperoleh posisi berbeda dibandingkan bahasa masyarakat lokal. Bahasa tersebut dapat digunakan dalam pemerintahan, pendidikan, perdagangan, atau lingkungan elite.
Akibatnya, kemampuan menggunakan bahasa tertentu dapat menjadi modal sosial.
Fenomena tersebut masih terasa hingga sekarang. Bahasa Inggris, misalnya, memiliki posisi kuat dalam pendidikan, bisnis, teknologi, hiburan, dan komunikasi internasional.
Baca Juga: Bisa Paham Tanpa Kata, Apakah Emoji Sudah Menjadi Bahasa?
Penggunaan bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari bahkan sudah menjadi hal biasa di banyak lingkungan urban. Ungkapan seperti meeting, deadline, update, weekend, atau check dapat muncul di tengah kalimat bahasa Indonesia.
Namun, tidak semua penggunaan tersebut dapat disebut sebagai sisa kolonialisme secara langsung. Bahasa Inggris memperoleh posisi global melalui sejarah yang panjang dan faktor geopolitik modern, termasuk pengaruh ekonomi, teknologi, pendidikan, serta industri budaya.
Justru di sinilah persoalannya menjadi menarik: sebuah bahasa dapat terus memiliki kekuatan setelah kekuasaan politik yang dahulu membawanya sudah berubah.
Ketika Bahasa Lokal Perlahan Bergeser
Jejak kolonialisme juga dapat dilihat dari sisi yang berbeda.
Ketika suatu bahasa memperoleh kedudukan lebih tinggi, bahasa lain dapat kehilangan ruang penggunaannya. Anak-anak mungkin tidak lagi mempelajari bahasa leluhur secara aktif. Orang tua kemudian lebih sering menggunakan bahasa yang dianggap lebih berguna untuk sekolah, pekerjaan, atau kehidupan di lingkungan yang lebih luas.
Dalam sosiolinguistik, proses ketika suatu komunitas secara bertahap berpindah dari satu bahasa ke bahasa lain dikenal sebagai language shift.
Baca Juga: 7 Bahasa Gaul Viral Gen Alpha yang Bikin Generasi Lain Bingung
Sementara itu, language attrition mengacu pada berkurangnya kemampuan atau penggunaan bahasa yang sebelumnya dikuasai seseorang atau komunitas.
Proses tersebut tidak selalu terjadi karena penjajahan. Urbanisasi, migrasi, pendidikan, perkawinan antarkelompok, media massa, dan globalisasi juga dapat mempercepatnya.
Namun, sejarah kolonial dapat menjadi salah satu faktor yang menjelaskan mengapa bahasa tertentu sejak awal memiliki posisi sosial yang lebih kuat daripada bahasa lainnya.
Jejaknya Bahkan Masuk ke Bahasa Indonesia
Menariknya, hubungan kolonial juga meninggalkan jejak dalam kosakata bahasa Indonesia. Sejumlah kata yang kita gunakan sekarang memiliki sejarah kontak dengan bahasa Belanda, seperti kantor, polisi, kualitas, apel, handuk, asbak, dan wortel.
Pengaruh tersebut bukan berarti bahasa Indonesia “menjadi bahasa Belanda”. Justru bahasa Indonesia menunjukkan bagaimana sebuah bahasa dapat menyerap unsur asing, mengubah bentuknya, lalu menggunakannya dalam sistem bahasa sendiri.
Hal serupa terjadi ketika bahasa Indonesia terus menerima pengaruh bahasa Inggris pada era digital.
Kita sekarang mengatakan “download”, “upload”, “meeting”, atau “deadline” dalam percakapan tanpa selalu menyadari bahwa pilihan tersebut juga mencerminkan perubahan kebutuhan dan lingkungan sosial.
Bahasa Tidak Pernah Netral dari Sejarah
Karena itu, ketika seseorang berbicara menggunakan bahasa tertentu, yang terdengar bukan hanya pilihan kata. Ada sejarah pendidikan, perdagangan, migrasi, kekuasaan, dan hubungan antarbudaya yang mungkin berada di belakangnya.
Kolonialisme memang sudah berlalu.
Namun, sejarah dapat bertahan dalam sesuatu yang paling sering kita gunakan setiap hari: bahasa. (inayah choirunisa)
Editor : Kabun Triyatno