Begini Cerita Kertas Pertama yang Digunakan untuk Transaksi

Kabun Triyatno • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 14:41 WIB
Koin logam bertransformasi dari bukti titipan jiaozi hingga menjadi alat tukar, sistem ini bertumpu pada kepercayaan sosial.
Koin logam bertransformasi dari bukti titipan jiaozi hingga menjadi alat tukar, sistem ini bertumpu pada kepercayaan sosial.

RADARSOLO.COM – Sekarang, membawa beberapa lembar uang kertas di dompet terasa biasa saja. Bahkan, banyak orang mungkin tidak pernah memikirkan mengapa selembar kertas bisa memiliki nilai dan digunakan untuk membeli makanan, membayar transportasi, hingga berbelanja.

Namun, uang kertas ternyata tidak langsung diciptakan sebagai uang.

Jauh sebelum kartu debit dan pembayaran digital digunakan, masyarakat Tiongkok justru menghadapi persoalan sederhana: koin logam terlalu berat untuk dibawa.

Baca Juga: Kenapa Nama Orang Barat Sering Punya “Kode” Keluarga?

Pada masa ketika perdagangan semakin berkembang, transaksi dalam jumlah besar berarti membawa lebih banyak koin. Kondisi tersebut tentu merepotkan, terutama bagi pedagang yang harus melakukan perjalanan jauh. Dari persoalan inilah muncul gagasan menggunakan selembar kertas sebagai bukti kepemilikan uang.

Cikal bakalnya dapat ditelusuri hingga masa Dinasti Tang. Saat itu, pedagang mulai menggunakan dokumen atau surat sebagai bukti bahwa mereka telah menitipkan sejumlah uang kepada pihak tertentu. Dengan membawa dokumen tersebut, mereka tidak perlu terus-menerus membawa seluruh koin dalam perjalanan.

Jadi, pada awalnya kertas tersebut bukan uang dalam pengertian modern, melainkan semacam bukti titipan.

Baca Juga: HopeTok Muncul di Tengah Tren Doomscrolling, Kenapa Gen Z Mulai Memilih Konten yang Bikin Tenang?

Perkembangan penting kemudian terjadi pada masa Dinasti Song, sekitar abad ke-10 hingga ke-11. Aktivitas perdagangan yang semakin ramai membuat penggunaan surat atau bukti pembayaran semacam itu semakin berkembang.

Salah satu bentuk yang kemudian terkenal adalah jiaozi.

Jiaozi pada awalnya berkaitan dengan surat atau sertifikat yang dapat digunakan dalam transaksi. Pemerintah kemudian melihat manfaat sistem tersebut dan mulai mengatur penerbitan uang kertas secara lebih resmi.

Di sinilah sesuatu yang awalnya hanya berupa bukti titipan perlahan berubah menjadi alat pembayaran.

Menariknya, perubahan tersebut membutuhkan satu hal yang sampai sekarang masih menjadi dasar sistem keuangan: kepercayaan.

Bayangkan jika seseorang memberikan selembar kertas kepada pedagang sebagai pembayaran. Pedagang tentu bisa bertanya, “Memangnya kertas ini berharga?” Kertas itu sendiri tidak memiliki nilai yang sebanding dengan barang yang dibeli.

Nilainya muncul karena masyarakat percaya bahwa kertas tersebut dapat digunakan kembali untuk memperoleh barang atau ditukarkan dengan nilai tertentu.

Baca Juga: ‘Campur-Campur’ Bahasa Makin Biasa di Percakapan Sehari-hari, Mengapa?

Karena itu, sejarah uang kertas sebenarnya bukan hanya cerita mengenai penemuan benda baru. Ini juga merupakan cerita tentang bagaimana manusia membangun kesepakatan bersama mengenai nilai.

Pemerintah memiliki peran besar dalam membuat sistem tersebut dapat berjalan. Ketika penerbitan uang kertas mulai diatur dan penggunaannya diakui, masyarakat memiliki alasan yang lebih kuat untuk menerimanya dalam transaksi.

Dari sinilah gagasan uang berbentuk kertas berkembang dan kemudian menyebar ke berbagai wilayah dunia.

Jauh setelah masa Dinasti Song, sistem uang terus mengalami perubahan. Uang kertas kemudian menjadi bagian penting dari perekonomian modern, sebelum akhirnya masyarakat kembali mengalami perubahan besar dengan hadirnya kartu, transfer bank, dompet digital, hingga pembayaran menggunakan kode QR.

Kalau dipikir-pikir, semuanya memiliki prinsip yang mirip.

Kita sebenarnya tidak membutuhkan benda yang memiliki nilai intrinsik sebesar nilai yang tertulis di atasnya. Kita membutuhkan sistem yang membuat orang percaya bahwa benda atau angka tersebut dapat digunakan untuk mendapatkan sesuatu.

Dari masalah membawa uang yang berat, lahirlah salah satu perubahan terbesar dalam sejarah cara manusia berdagang. (inayah choirunisa)

Editor : Kabun Triyatno
inayah choirunisa uang kertas koin transaksi