Cetak Ulang Buku Sekolah Jangan Jadi Proyek, Akademisi: Harus Perkuat Literasi

Alfida Nurcholisah • Dipublikasikan Selasa, 25 Agustus 2026 | 16:45 WIB
Kepala Akreditasi Nasional dan Internasional LPPMP UNS Muhammad Rohmadi. (Alfida Nurcholisah/Radar Solo)
Kepala Akreditasi Nasional dan Internasional LPPMP UNS Muhammad Rohmadi. (Alfida Nurcholisah/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Rencana pencetakan ulang buku sekolah dinilai perlu dibarengi pembenahan kualitas bahan ajar.

Buku yang diterbitkan jangan sekadar berorientasi proyek, tetapi harus benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan peserta didik di setiap jenjang.

Kepala Akreditasi Nasional dan Internasional LPPMP Universitas Sebelas Maret (UNS) Muhammad Rohmadi mengatakan, buku pendamping masih penting di tengah semakin kuatnya penggunaan teknologi oleh anak-anak.

Perkembangan teknologi, menurut dia, belum sepenuhnya diimbangi dengan kesiapan literasi masyarakat.

“Kalau mau kita jujur, kondisi anak ketika berbincang masalah digital itu bagus, tetapi ketika baca buku tidak dilakukan. Buku pendamping itu memang perlu,” ujarnya, Selasa (25/8).

Baca Juga: Menkomdigi Meutya Respons Kasus Jualan Starlink Di Mentawai: Ada Pembinaan Supaya Berizin

Dia menilai kedekatan anak dengan gawai, gim, dan berbagai konten digital tidak otomatis membuat kemampuan literasi mereka meningkat.

Sebaliknya, budaya membaca dan kemampuan membaca kritis perlu terus diperkuat.

“Perkembangan teknologi ini tidak diimbangi dengan kesiapan edukasi masyarakatnya. Edukasi literasi digital masyarakat kita sangat rendah,” jelasnya.

Menurut Rohmadi, pencetakan ulang buku sekolah seharusnya menjadi momentum memperbaiki kualitas bahan ajar.

Buku perlu menguatkan enam literasi dasar, termasuk literasi baca-tulis dan numerasi, sekaligus membekali siswa dengan kemampuan literasi digital.

Dia mengingatkan agar pengadaan buku tidak hanya berorientasi proyek.

Sebab, jika hanya mengejar pencetakan dan pengadaan, substansi buku justru berpotensi terabaikan.

“Saya sepakat kalau hanya berorientasi proyek ya jangan dilakukan. Hanya akan jadi bancakan seperti yang sudah-sudah. Itu harus dimulai perubahannya,” tegasnya.

Rohmadi menambahkan, proses penyusunan buku juga perlu melibatkan editor bahasa dan editor ahli sesuai bidang keilmuan.

Dengan demikian, materi yang disajikan tidak hanya memenuhi kebutuhan penerbitan, tetapi juga memiliki kualitas akademik dan sesuai dengan kompetensi siswa.

Baca Juga: Dikira Hari Ini Grebeg Maulud Keraton Solo, Banyak Pengunjung Kecele

“Kadang apa yang ditulis tidak sesuai bidangnya, hanya berbasis proyek jualan. Kalau tidak melalui konsep kurasi dari editor ahli harus menyesuaikan,” katanya.

Dia mencontohkan buku untuk siswa sekolah dasar hingga jenjang pendidikan menengah.

Materi, bahasa, bentuk penyajian, hingga tingkat kesulitan harus disesuaikan dengan usia pembaca.

“Menulis buku harus menyesuaikan pembacanya. Misalnya anak TK lebih banyak cerita, gambar, dan dialog. Begitu pun tingkat atasnya. Sehingga anak-anak kita memiliki kompetensi yang sesuai dengan umurnya,” paparnya.

Karena itu, pencetakan ulang buku sekolah menurutnya tidak cukup hanya memperbanyak eksemplar.

Pemerintah dan pemangku kepentingan pendidikan perlu memastikan buku tersebut relevan dengan kebutuhan pembelajaran, kontekstual, serta dapat menjadi sumber belajar mandiri maupun berkelompok.

Selain buku, penguatan kapasitas guru dan siswa juga dinilai penting.

Baca Juga: 6.440 KK Penerima Bansos di Wonogiri Terdeteksi Transaksi Judol

Guru perlu mendapatkan pelatihan agar mampu memanfaatkan bahan ajar secara optimal, sedangkan siswa perlu dibiasakan membaca, memahami informasi, dan menulis secara kritis.

“Harus ada pelatihan dan penguatan untuk guru dan siswa supaya konsep literasi kritis tidak hanya membaca tapi juga menulis,” tandasnya. (alf/fer)

Editor : fery ardi susanto
Sumber : Radar Solo
buku pendamping buku sekolah literasi