6 Kata yang Masih Kita Pakai, Ternyata Lahir dari Kepercayaan Zaman Dulu

Kabun Triyatno • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 13:17 WIB
Sejumlah kata modern seperti disaster, malaria, hingga panic menyimpan jejak kepercayaan kuno tentang bintang, mitologi, dan udara buruk.
Sejumlah kata modern seperti disaster, malaria, hingga panic menyimpan jejak kepercayaan kuno tentang bintang, mitologi, dan udara buruk.

RADARSOLO.COM – Kita sekarang mengenal malaria sebagai penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk. Panic digunakan ketika seseorang mengalami ketakutan yang datang tiba-tiba. Sementara lunatic biasanya digunakan untuk menggambarkan seseorang yang dianggap tidak waras.

Namun, jauh sebelum ilmu pengetahuan berkembang seperti sekarang, manusia belum memahami semua penyebab di balik penyakit, gangguan mental, maupun bencana. Mereka mencoba menjelaskannya berdasarkan apa yang mereka lihat dan percayai.

Menariknya, sebagian cara berpikir tersebut justru tertinggal dalam bahasa. Beberapa kata yang masih digunakan sampai sekarang ternyata menyimpan jejak kepercayaan manusia pada masa lalu.

Baca Juga: Bahasa Cia-Cia di Buton pernah mengadopsi Aksara Korea

1. Disaster

Salah satunya adalah disaster. Kata dalam bahasa Inggris ini berasal dari bahasa Italia disastro, yang berkaitan dengan gabungan dis- dan astro. Astro merujuk pada benda langit atau bintang. Secara harfiah, istilah tersebut berkaitan dengan gagasan tentang keadaan yang “bernasib buruk karena bintang”.

Pada masa lalu, posisi benda-benda langit memang pernah dipercaya memiliki pengaruh terhadap kehidupan manusia. Ketika terjadi peristiwa buruk, termasuk bencana, hubungan dengan posisi bintang atau benda langit menjadi salah satu cara manusia mencoba menjelaskannya.

Baca Juga: Dead Language, Begini Nasib Bahasa yang Kehilangan Penuturnya

2. Lunatic

Hal serupa terlihat pada kata lunatic. Istilah ini berasal dari bahasa Latin lunaticus, yang berkaitan dengan luna atau bulan. Secara harfiah, maknanya kurang lebih “terpengaruh bulan”.

Kepercayaan bahwa bulan dapat memengaruhi perilaku manusia sudah berlangsung sejak lama. Perubahan fase bulan bahkan pernah dikaitkan dengan munculnya kegilaan, perilaku aneh, hingga gangguan tidur. Dari kepercayaan tersebut, lahirlah istilah yang kemudian berkembang dalam bahasa Eropa.

3. Panic

Kalau lunatic berkaitan dengan bulan, kata panic justru berhubungan dengan sosok dalam mitologi Yunani.

Kata tersebut berakar dari nama Pan, dewa yang dalam mitologi Yunani dikaitkan dengan alam liar dan daerah-daerah terpencil. Pan dipercaya dapat menimbulkan rasa takut mendadak pada manusia yang berada di tempat sepi. Dari situlah gagasan tentang ketakutan yang muncul tiba-tiba berkembang menjadi istilah panic.

Sementara itu, ada pula istilah yang berasal dari cara manusia memahami penyakit sebelum mengetahui penyebab biologisnya.

4. Malaria

Kata malaria berasal dari bahasa Italia mal aria, yang berarti “udara buruk”. Sebelum manusia mengetahui peran nyamuk Anopheles dalam penularan malaria, penyakit tersebut pernah dikaitkan dengan udara buruk yang muncul dari rawa atau daerah lembap.

Ketika penyakit sering ditemukan di sekitar wilayah rawa, hubungan tersebut terasa masuk akal. Manusia melihat tempatnya, melihat penyakitnya, lalu menghubungkan keduanya.

Baca Juga: Kok Emoji Bisa Bikin Kita Terlihat Lebih Ramah daripada Aslinya?

5. Influenza

Hal serupa terjadi pada kata influenza. Dalam bahasa Italia, influenza berarti “pengaruh”. Istilah tersebut berkaitan dengan keyakinan lama bahwa penyakit atau wabah dapat muncul akibat pengaruh benda-benda langit maupun kekuatan yang tidak terlihat.

6. Hysteria

Sementara itu, kata hysteria memiliki sejarah yang jauh lebih kontroversial. Istilah tersebut berhubungan dengan kata Yunani hystera yang berarti rahim. Pada masa lalu, terdapat anggapan keliru bahwa berbagai gangguan perilaku atau kondisi psikologis tertentu berkaitan dengan rahim perempuan.

Pandangan tersebut kemudian berkembang dalam sejarah kedokteran dan ikut melahirkan istilah hysteria, meskipun pemahaman medis modern terhadap kondisi psikologis tentu sudah jauh berbeda.

Yang menarik, sebagian besar penjelasan lama tersebut kini telah ditinggalkan atau dianggap tidak tepat. Kita sudah mengetahui bahwa malaria disebabkan parasit yang ditularkan nyamuk, bukan udara buruk. Rasa panik tidak disebabkan oleh dewa Pan, dan fase bulan bukan penjelasan sederhana untuk kondisi kejiwaan seseorang.

Namun, bahasa menyimpan sesuatu yang ilmu pengetahuan tidak selalu bisa hapus, jejak cara manusia pernah memahami dunia.

Kata-kata tersebut menjadi semacam fosil kecil dalam percakapan sehari-hari. Kita menggunakannya tanpa memikirkan bahwa di balik satu kata bisa tersimpan keyakinan manusia tentang bintang, bulan, dewa, udara, bahkan tubuh manusia.

Barangkali memang begitu cara bahasa bekerja. Ketika manusia belum mengetahui jawabannya, mereka tetap membutuhkan kata untuk menyebut apa yang mereka alami. Dan terkadang, jawaban yang belum benar itu justru bertahan lebih lama daripada kepercayaannya sendiri. (inayah choirunisa)

Editor : Kabun Triyatno
inayah choirunisa kata ahli manusia istilah bahasa