RADARSOLO.COM - Universitas Sugeng Hartono (USH) menggelar wisuda perdana dengan cara yang berbeda.
Dalam prosesi wisuda yang berlangsung di Ruby 1 Convention Hall, Grand Mercure Solo Baru, Sabtu (22/8/2026), bahasa Indonesia, Inggris, dan Mandarin digunakan dalam rangkaian acara.
Penggunaan tiga bahasa tersebut bukan sekadar bagian dari seremoni. Bagi USH, hal itu menjadi gambaran dari model pendidikan yang diterapkan kepada mahasiswa untuk mempersiapkan mereka menghadapi dunia kerja dan peluang global.
Baca Juga: 6 Kata yang Masih Kita Pakai, Ternyata Lahir dari Kepercayaan Zaman Dulu
Wisuda bertema “Hello Future, Where Innovation Meets Global Opportunities” tersebut diikuti 57 lulusan dari Program Studi Ilmu Komputer, Bisnis Digital, dan Gizi. Para lulusan berasal dari Fakultas Teknologi, Hukum, dan Bisnis serta Fakultas Ilmu Terapan dan Humaniora.
Rerata masa studi para lulusan mencapai 3,7 tahun dengan rerata IPK 3,73.
Rektor Universitas Sugeng Hartono, Assoc. Prof. Jacob F.N. Dethan, S.T., M.Eng.Sc., PhD, mengatakan penggunaan tiga bahasa dalam wisuda merupakan cerminan dari proses pembelajaran yang dijalankan di kampus.
“Karena kita mendidik mereka pun dengan tiga bahasa. Di USH itu kuliahnya menggunakan bahasa Inggris full,” ujar Jacob.
Menurut dia, bahasa Inggris digunakan dalam proses pembelajaran, sementara mahasiswa juga mendapatkan pembelajaran bahasa Mandarin yang bersifat wajib selama tiga tahun.
Kebijakan tersebut, kata Jacob, berkaitan dengan kebutuhan dunia kerja yang terus berkembang.
Baca Juga: "Bangku", "Bank", sampai "Bangkrut": Tiga Kata Ini Saling Terhubung
Menurutnya, peluang kerja semakin banyak, tetapi sumber daya manusia yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan tersebut masih terbatas.
“Sekarang ini lowongan pekerjaan itu banyak. Tetapi orang yang berkompetensi untuk memenuhi kebutuhan itu kan sedikit,” katanya.
Dengan pendekatan tersebut, USH ingin membekali lulusan tidak hanya dengan kompetensi akademik, tetapi juga kemampuan komunikasi yang dapat mendukung mobilitas mereka di lingkungan kerja yang semakin global.
Wisuda perdana USH turut dihadiri perwakilan Pembina Yayasan Indriati Stephanie Hartono, Ketua Yayasan Indriati Tan Sauw Hwa, Plt Bupati Sukoharjo Eko Sapto Purnomo, S.E., serta Direktur Confucius Institute UNS Prof. Dr. Ahmad Yunus.
Baca Juga: Bahasa Cia-Cia di Buton pernah mengadopsi Aksara Korea
Belajar Tak Kenal Usia
Semangat pembelajaran sepanjang hayat juga terlihat dari salah satu wisudawan USH. Daniel, mahasiswa Program Studi Bisnis Digital, menyelesaikan studinya pada usia 48 tahun.
Memilih kembali belajar di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat, Daniel mengatakan keputusan tersebut didorong oleh keinginan untuk terus mengikuti perubahan zaman sekaligus memberikan teladan kepada anaknya.
“Selama kita masih bernafas, berarti kita harus banyak belajar,” ujar Daniel.
Ia memilih Bisnis Digital karena melihat semakin banyak aktivitas dan model bisnis yang bergerak ke ranah digital.
Bagi Daniel, pendidikan bukan sesuatu yang memiliki batas usia.
“Saya juga ingin memberikan contoh kepada anak saya bahwa belajar itu tidak mengenal usia,” katanya.
Kisah tersebut menjadi salah satu gambaran pesan yang disampaikan USH dalam wisuda perdananya: pendidikan tidak berhenti ketika seseorang memperoleh gelar, tetapi menjadi bagian dari proses untuk terus beradaptasi menghadapi perubahan.
Dalam kesempatan tersebut, Rektor USH juga mengingatkan para lulusan bahwa gelar bukanlah akhir dari perjalanan pendidikan.
“Mimpi tidak mengenal batas dan pembelajaran tidak pernah berakhir,” ungkap Jacob.
Ia mendorong para lulusan untuk menjadi pemimpin yang berintegritas, unggul dalam bekerja, serta mampu memberikan pelayanan dengan penuh kasih sayang.
Baca Juga: Dead Language, Begini Nasib Bahasa yang Kehilangan Penuturnya
Sementara itu, Ketua Yayasan Indriati Tan Sauw Hwa menyebut para lulusan wisuda perdana sebagai duta pertama Universitas Sugeng Hartono.
Ia berpesan agar para lulusan membawa nama dan nilai-nilai USH ketika memasuki dunia profesional, membangun usaha, melanjutkan pendidikan, maupun mengembangkan karier di tingkat internasional.
Plt Bupati Sukoharjo Eko Sapto Purnomo juga menyampaikan apresiasi kepada USH dan Yayasan Indriati.
Ia berpesan agar para lulusan menjaga nama baik almamater dengan menunjukkan kompetensi, kedisiplinan, dan integritas.
Perwakilan wisudawan, Prescila Bella Gunawan, menyampaikan bahwa perjalanan pendidikan tidak selalu berjalan mudah.
Menurutnya, proses tersebut diwarnai kegagalan dan berbagai tantangan, dengan dukungan orang tua menjadi salah satu faktor penting dalam pencapaian para lulusan.
Wisuda perdana Universitas Sugeng Hartono akhirnya tidak hanya menjadi seremoni kelulusan 54 mahasiswa. Penggunaan tiga bahasa—Indonesia, Inggris, dan Mandarin—menjadi simbol pendekatan pendidikan USH yang diarahkan pada kesiapan menghadapi dunia kerja serta peluang yang semakin terbuka di tingkat global. (wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono