RADARSOLO.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mencatat sebanyak 759 calon mahasiswa mengundurkan diri dari proses penerimaan mahasiswa baru (PMB), Rabu (26/8).
Meski demikian, kampus optimis target 8.000 mahasiswa terlampaui hingga akhir pendaftaran.
Direktur Direktorat Akademik dan Admisi (DAA) UMS Triyono mengatakan, pengunduran diri tersebut salah satunya dipengaruhi calon mahasiswa yang memilih melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi negeri (PTN) maupun sekolah kedinasan.
"Conversion rate mahasiswa sebesar 78,2 persen, karena mahasiswa diterima di PTN atau sekolah kedinasan. Hal ini juga ditunjukkan angka undur diri sebesar 759 per hari ini," ujar Triyono.
Baca Juga: Goara-Goara Karya Dosen UTP Solo, Nguri-uri Permainan Tradisional Dengan Sentuhan Teknologi
Hingga Rabu (26/8), pukul 13.18, jumlah pendaftar UMS telah mencapai 28.354 orang.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 9.854 calon mahasiswa dinyatakan lolos dan telah mencetak sertifikat kelulusan.
Sedangkan 7.921 calon mahasiswa telah melakukan registrasi.
"Jika dibandingkan tahun sebelumnya jumlah pendaftar pada tanggal yang sama 28.944 atau terjadi penurunan 2,03 persen. Hal ini linier dengan penurunan jumlah mahasiswa baru secara nasional pada tahun 2025 sebesar 2,34 persen dibanding tahun 2024," jelasnya.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi UMS dalam mengejar target penerimaan mahasiswa baru tahun ini.
UMS menetapkan target sebanyak 8.000 mahasiswa baru dan optimistis angka tersebut dapat terlampaui hingga akhir periode pendaftaran.
Triyono menilai persaingan dalam mendapatkan mahasiswa baru saat ini semakin kompetitif.
Perguruan tinggi tidak hanya bersaing mendapatkan pendaftar, tetapi juga mempertahankan calon mahasiswa agar benar-benar melakukan registrasi.
Persaingan tersebut semakin kompleks karena calon mahasiswa memiliki lebih banyak pilihan.
Selain PTN dan sekolah kedinasan, jumlah program studi di berbagai perguruan tinggi juga terus bertambah dengan bidang yang relatif sama.
Baca Juga: Cetak Ulang Buku Sekolah Jangan Jadi Proyek, Akademisi: Harus Perkuat Literasi
"Tantangan yang dihadapi proses penerimaan mahasiswa baru adalah persaingan yang sangat kompetitif untuk klaster universitas unggul," jelasnya.
Menurut Triyono, pola pikir calon mahasiswa dalam memilih program studi juga mengalami perubahan.
Mereka tidak hanya mengejar prodi yang dianggap favorit, tetapi mulai mempertimbangkan kepastian masa depan, peluang kerja, reputasi sosial, fleksibilitas karier, serta kesesuaian antara biaya pendidikan dan manfaat yang diperoleh.
"Apabila menghadapi kendala biaya, bisa melalui jalur beasiswa internal atau KIP kuliah dari pemerintah. Bagi mahasiswa yang mengalami kendala kuangan saat registrasi orang tua atau wali juga dapat mengajukan pembayaran secara angsuran melalui bagian keuangan, " imbuhnya.
Triyono menambahkan, tantangan PMB tidak hanya berasal dari jumlah mahasiswa baru secara nasional yang mengalami penurunan.
Pada 2025, jumlah mahasiswa baru secara nasional turun 2,34 persen dibandingkan 2024.
Di sisi lain, jumlah program studi terus bertambah.
Kondisi tersebut membuat persaingan antarperguruan tinggi semakin ketat untuk mendapatkan mahasiswa baru.
"Jumlah program studi meningkat dan hampir sama antarperguruan tinggi. Ini membuat persaingan semakin kompetitif," ujarnya. (alf/bun)
Editor : fery ardi susantoSumber : Radar Solo