Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Inovasi Keranda Jenazah Ergonomis Karya Mahasiswa ISI Solo Raih Juara Dua Di Masjid Zayed: Lebih Ringan, Kuat, dan Beban Seimbang

Alfida Nurcholisah • Jumat, 13 Maret 2026 | 16:51 WIB

Keranda jenazah karya Robiantoro Rinto Wijaya, mahasiswa Program Studi (Prodi) Desain Interior Institut Seni Indonesia (ISI) Solo.
Keranda jenazah karya Robiantoro Rinto Wijaya, mahasiswa Program Studi (Prodi) Desain Interior Institut Seni Indonesia (ISI) Solo.

RADARSOLO.COM - Lomba Desain Keranda Jenazah digelar Masjid Raya Sheikh Zayed Solo, dalam rangka Semarak Ramadan 2026. Hasilnya, sederet inovasi keranda berhasil diciptakan oleh para pemenang.

Seorang di antaranya Robiantoro Rinto Wijaya, mahasiswa Program Studi (Prodi) Desain Interior Institut Seni Indonesia (ISI) Solo.

Keranda kreasi Robiantoro Rinto Wijaya menghadirkan inovasi desain yang mengutamakan aspek ergonomi, keamanan, dan higienitas.

Inovasi tersebut mengantarkannya meraih juara II dalam Lomba Desain Keranda Jenazah.

Rinto menjelaskan, desain yang ia rancang berangkat dari pengamatan terhadap keranda yang umum digunakan masyarakat.

Menurutnya, banyak keranda belum memerhatikan kenyamanan pengusung, termasuk aspek kebersihan.

“Saya mencoba membuat desain keranda yang lebih ergonomis bagi pengusung jenazah. Distribusi bebannya dibuat lebih seimbang, sehingga tidak terlalu membebani bahu. Materialnya pilihan, agar lebih ringan tetapi tetap kuat,” kata Rinto, Jumat (13/3).

Robiantoro Rinto Wijaya juara dua desain keranda jenazah di Masjid Zayed Solo.
Robiantoro Rinto Wijaya juara dua desain keranda jenazah di Masjid Zayed Solo.

Salah satu inovasi yang dihadirkan, yakni pada bagian pegangan keranda. Pegangan dilapisi karet atau spons berbentuk lembaran, dengan finishing kain ripstop yang dikenal kuat dan tahan lama.

“Kain ripstop sering dipakai untuk seragam tentara, karena kuat dan tahan lama. Bantalan ini dibuat lebih empuk agar tidak terlalu menekan bahu saat keranda diangkat. Di bagian pegangan kain, juga dilengkapi dengan felcro agar mudah dibersihkan setelah pemakaian,” imbuhnya.

Selain itu, keranda juga dilengkapi sistem pegangan pop-up yang memungkinkan pegangan dapat dilipat untuk memperingkas dimensi ketika disimpan atau dipindahkan.

“Dari sisi keamanan, keranda sayang lengkapi dengan tali pengikat jenazah. Saya pakai tali buckles agar posisi jenazah tetap stabil saat diusung.

Beralih pada bagian alas, Rinto menggunakan metal sheet yang dibentuk melengkung ke bawah.

Desain ini bertujuan agar posisi jenazah tidak mudah bergeser, sekaligus memudahkan aliran air saat proses pemandian.

“Bagian alas dibuat sedikit melengkung ke bawah, supaya jenazah tetap stabil dan juga memudahkan air mengalir ketika proses pemandian. Sehingga lebih higienis,” ujarnya.

Meningkatkan mobilitas, keranda juga dilengkapi roda pada bagian bawah. Ini untuk memudahkan proses pemindahan, tanpa harus diangkat.

Sementara itu, rangka utama keranda menggunakan material stainless steel yang tahan karat, kuat, serta mudah dibersihkan.

Sehingga mendukung aspek kebersihan dalam penggunaan jangka panjang.

Menurut Rinto, konsep desain ini juga mempertimbangkan kemudahan produksi.

Komponen yang digunakan dipilih dari material yang mudah ditemukan di pasaran. Termasuk mudah dalam proses perakitan.

“Saya melihat desain keranda yang sudah ada, kemudian mencari komponen utama yang mudah didapatkan. Dari situ saya mencoba melakukan inovasi, agar lebih nyaman dan fungsional,” ungkapnya.

Desain tersebut masih berupa konsep rancangan. Terkait realisasinya, merupakan kewenangan Masjid Raya Sheikh Zayed Solo.

Selama proses perancangan, Rinto mengaku sempat menghadapi tantangan. Terutama saat mengumpulkan data ukuran yang sesuai dengan dimensi tubuh manusia.

“Saya sempat simulasi bersama teman, untuk menentukan kedalaman, panjang, dan lebar keranda. Ya supaya sesuai dengan dimensi tubuh manusia,” katanya.

Sementara itu, dosen pembimbing Eko Sri Haryanto mengatakan, proses perancangan dilakukan secara intensif dalam waktu relatif singkat melalui diskusi dan konsultasi berkelanjutan.

“Keranda yang beredar di masyarakat umumnya belum memperhatikan distribusi beban yang baik dan aspek higienitas. Melalui desain ini kami mencoba menawarkan solusi yang lebih manusiawi bagi pengusung jenazah tanpa menghilangkan nilai sakral dalam prosesi pemakaman,” jelasnya.

Rinto berharap, desain bikinannya tidak hanya menjadi konsep yang menumpuk di meja. Tetapi dapat direalisasikan dan dimanfaatkan secara luas.

“Saya berharap desain ini nantinya bisa direalisasikan di berbagai tempat. Sehingga memudahkan para pengusung jenazah dan memberi manfaat bagi masyarakat,” bebernya. (alf/fer)

Editor : fery ardi susanto
#lomba desain keranda jenazah #Masjid Zayed #mahasiswa ISI Solo #mahasiswa isi surakarta #masjid raya sheikh zayed al nahyan solo #Masjid Raya Sheikh Zayed Solo