RADARSOLO.COM - Masjid Darussalam terletak di Dukuh Kedunggudel, Kelurahan Kenep, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Sukoharjo.
Ada banyak kisah pitutur yang melegenda dan berkembang tentang sejarah masjid di lokasi ini.
Banyak narasi yang menyebutkan Islam masuk di daerah Kedunggudel pada abad ke-14 dan Masjid Darussalam ikut dibangun pada abad tersebut.
Pendirinya adalah Kyai Lombok. Salah seorang ulama asal pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, yang kabarnya merupakan santri salah seorang walisongo.
Ada juga yang menyebutkan masjid ini dibangun pada 20 Agustus 1837.
Dalam legenda pitutur yang berkembang di masyarakat sekitar, dahulu saat masa kolonial Belanda, raja Keraton Kasunanan Surakarta Pakubuwono VI sering kali mengadakan pertemuan dengan Pangeran Diponegoro secara sembunyi-sembunyi di dalam Masjid Darussalam ini.
Pada masa kolonial Belanda, Masjid Darussalam pernah dihujani bom sebanyak 21 kanon.
"Atas izin kuasa Allah SWT tak ada satupun yang berhasil meledak, padahal waktu itu tujuan Belanda ingin menghanguskan Kedunggudel. Menurut cerita nenek moyang kami juga bom jenis Canon berbentuk seperti jantung pisang, Alhamdulillah tidak ada yang hancur," ujar Sehono, takmir di Masjid Darussalam.
Secara arsitektur masjid ini cukup unik. Di sini kepala Masjid Darussalam berbentuk bunga wijaya kusuma yang merupakan pusaka bathara kresna.
Di dalam Masjid Darussalam terdapat mimbar kuno dengan bentuk ornamen yang terbuat dari kayu jati. Mengusung gaya saat zaman Majapahit.
Terdapat juga 16 tiang untuk menyanggah masjid agar tetap kokoh dan kuat. Dibangunan agar salat berjamaah di lokasi ini lebih nyaman.
Tepat di belakang masjid ada makam Kyai Lombok yang sering dikunjungi oleh para peziarah.
Selain mempunyai mimbar kuno, di dalam masjid juga masih ada sumur kuno yang diberi nama Kyai Pleret.
Sumur bersejarah ini dahulunya dikabarkan untuk menyimpan harta perang dari Pakubuwono VI ke Pangeran Diponegoro.
Di bulan suci Ramadan, Masjid Darussalam mengadakan berbagai macam jenis kegiatan keagamaan.
Selain menjadi tempat salat berjamaah, di sini menyediakan takjil untuk berbuka puasa. Setiap harinya ada enam warga untuk memberi takjil dengan seikhlasnya.
Untuk buka bersama dengan menu yang berat, biasanya hanya sekali dalam sebulan berpuasa dan menu makanannya berkuah. Biasanya seperti soto, bakso, atau timlo.
Sehono mengungkapkan, alasan memilih menu berkuah ini sebagai menu utama saat berbuka puasa bersama adalah karena ingin menikmati kebersamaannya.
"Dan alasan makanan buka bersama yang ini ga pake nasi box itu ya karena biar kebersamaannya lebih terasa. Kalau misal pake nasi box, mesti nanti dibawa ke rumah masing-masing. Kalau ginikan kan jadinya makan di sini sama-sama,"ucapnya. (mg7/mg8/nik)
Penulis: Siti Fatimah
Fotografer: Nazla Khairunnisa
Editor : Niko auglandy