Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Masjid Sememen Solo: Jejak Arsitektur Indies-Jawa dan Kisah Kerjayaan Nahdlatul Muslimat di Kauman

Niko auglandy • Senin, 24 Maret 2025 | 22:00 WIB

 

MEGAH: Bangunan Masjid Sememen di Kauman, Pasar Kliwon, Kota Solo.
MEGAH: Bangunan Masjid Sememen di Kauman, Pasar Kliwon, Kota Solo.

RADARSOLO.COM - Sebagai salah satu kampung tua di Solo, Kauman menyimpan eksotisme jejak masa lalu yang layak untuk terus dilestarikan.

Deretan bangunan bersejarah masih berdiri kokoh, menjadi saksi bisu keistimewaan kawasan ini sejak masa silam. Salah satunya adalah Masjid Sememen.

Masjid Sememen terletak di Jalan Trisula VI No. 1, Kauman, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Solo. Masjid ini sudah berdiri sejak tahun 1890 atas prakarsa Khatib Sememi, seorang tokoh agama bergelar Kanjeng Kyai Penghulu Tafsir Anom.

Pada awalnya, bangunan ini berbentuk langgar (musala kecil), namun seiring waktu, direnovasi menjadi masjid bergaya arsitektur Indis-Jawa, yakni perpaduan unik antara unsur Eropa dan Jawa.

Salah satu ikon khas Masjid Sememen adalah menaranya.

Menara ini tidak hanya memiliki fungsi arsitektural, tetapi juga menyimbolkan empat arah mata angin dan empat unsur alam: api, air, angin, dan tanah.

Tanah tempat berdirinya Masjid Sememen merupakan wakaf dari Ketib Sememi, yang hingga kini masih digunakan aktif oleh warga Kauman.

Lokasinya juga bersebelahan langsung dengan pondok pesantren putri yang dibangun pada tahun 1951.

Memasuki bulan Ramadan, Masjid Sememen menjadi pusat aktivitas keagamaan yang semarak. Mulai dari buka puasa bersama, salat Maghrib dan Tarawih berjamaah, hingga tadarus Alquran yang rutin dilakukan para remaja hingga pukul 23.00 WIB.

 

“Yang spesial di sini, setiap Senin malam Selasa kami selalu mengadakan peringatan Nuzulul Quran,” ujar marbot Masjid Sememen Kauman Solo Muslih kepada Jawa Pos Radar Solo.

Dikutip dari NU Online, Masjid Sememen juga menyimpan kaitan sejarah dengan sebuah lembaga pendidikan perempuan bernama Nahdlatul Muslimat (NDM).

Sekilas, nama ini memang sangat identik dengan NU (Nahdlatul Ulama) dan badan otonomnya, Muslimat NU. Namun, perlu diketahui bahwa NDM bukan bagian dari NU maupun organisasi di bawah naungan Muslimat NU.

NDM merupakan sebuah organisasi pergerakan perempuan yang berdiri di Solo pada 1931. Sebelum era 1990-an, NDM sempat berada di puncak kejayaannya.

Murid-muridnya datang dari berbagai penjuru daerah, termasuk dari wilayah Jawa Timur. Banyak yang mengira bahwa NDM berafiliasi dengan NU karena kemiripan nama.

Namun ketika diketahui bahwa NDM tidak memiliki hubungan organisasi dengan NU, perlahan santri-santri dari luar kota, khususnya dari Jawa Timur, mulai meninggalkan lembaga ini. Lama-kelamaan, NDM kehilangan pesonanya dan murid dari luar daerah pun tak lagi berdatangan.

Kisah Masjid Sememen dan NDM menjadi bagian penting dari mozaik sejarah Kauman, yang hingga kini terus menginspirasi masyarakat Solo dalam menjaga warisan budaya, spiritual, dan pendidikan. (mg7/mg8/nik)

 

Editor : Niko auglandy
#masjid #kauman