RADARSOLO.COM - Bagi sebagian perantau, Ramadan identik dengan rasa rindu terhadap keluarga.
Namun di negeri orang, pengalaman tersebut justru sering memberikan pelajaran hidup yang berbeda.
Seperti dirasakan Lulu Al-Kaun, warga negara Indonesia (WNI) yang kuliah di Kairo, Mesir.
Ia terkesan tradisi maaidah atau berburu makanan berbuka gratis di jalanan di Kairo, Mesir.
Deretan lampu warna-warni menghiasi tiap sudut jalan di Kota Kairo, Mesir.
Lentera khas Mesir atau fanous tergantung di depan rumah-rumah warga. Berpendar lembut menyambut datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah.
Suasana meriah itu memberikan pengalaman baru bagi Lula –sapaan akrab Lulu Al-Kaun–, 20, Universitas Al-Azhar Kairo, yang tahun ini menjalani Ramadan di Mesir.
Menurutnya, perbedaan suasana Ramadan antara Indonesia dan Mesir sangat mencolok.
“Suasana menyambut Ramadan di Kairo sangat meriah. Warga menghias rumah dengan lentera fanous dan lampu warna-warni di sepanjang jalan. Rasanya hidup sekali. Semua orang benar-benar antusias menyambut Ramadan,” ujarnya.
Tidak hanya dekorasi, budaya berbagi makanan juga kental terasa. Banyak kedai, restoran, hingga lembaga keagamaan menyediakan menu buka puasa gratis. Bahkan di Masjid Al-Azhar, tersedia program buka bersama (bukber) gratis selama sebulan penuh.
Satu lagi yang bikin Lula terkesan, yakni tradisi maaidah atau berburu makanan gratis. Menjelang waktu berbuka, orang-orang di Kaior berbondong-bondong berburu hidangan yang dibagikan gratis di jalanan.
“Jadi, di sini itu war menu buka puasa gratis. Kalau di Indonesia kan war takjil yang kita beli dan bayar,” bebernya.
Jauh dari keluarga, Lula harus menyiapkan sendiri menu sahur dan berbuka puasa. Alhasil kerinduan terhadap masakan rumah tak terelakkan. “Yang bikin kangen itu waktu ikut pesantren di Indonesia,” hematnya.
Bagi Lula, tantangan terberat yakni perubahan cuaca ekstrem. Namun, pengalaman itu justru mengajarkannya untuk mandiri dan selalu bersyukur.
“Di mana pun seseorang menjalani ibadah puasa Ramadan, bulan suci ini selalu memiliki ruang istimewa untuk meraih kemenangan pribadi,” ujarnya.
Sementara itu, Lula berpesan agar setiap kesempatan menjalani ibadah Ramadan di negeri orang, dimanfaatkan sebaik mungkin. Bisa diambil hikmahnya dari setiap pengalaman yang hadir.
“Sehangat-hangatnya ruang kelana yang dilalui untuk menghabiskan Ramadan, rumah atau tanah air akan senantiasa paling hangat. Ramadan di Indonesia tetap memiliki tempat tersendiri di hati,” ujarnya. (mg1/mg2/fer)
Editor : fery ardi susanto