Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Potret Pesantren Marginal Di Solo, Rangkul Anak Punk, Anak Jalanan, hingga Preman dan Disabilitas Untuk Belajar Agama

Alfida Nurcholisah • Minggu, 8 Maret 2026 | 18:53 WIB

 

Anak punk, anak jalanan, dan eks preman dengan seksama mengikuti Pesantren Marginal di Masjid Raya Fatimah, Minggu (8/3).
Anak punk, anak jalanan, dan eks preman dengan seksama mengikuti Pesantren Marginal di Masjid Raya Fatimah, Minggu (8/3).

RADARSOLO.COM - Semua manusia memiliki kedudukan setara di hadapan Allah SWT. Tak terkecuali preman, anak jalanan (anjal), termasuk penyandang disabilitas.

Di bulan suci Ramadan 1447 Hijriah ini, Yayasan Seniman Eling Gusti menggandeng dengan Baznas RI, merangkul 100 orang kelompok marginal.

Mulai dari anak punk, eks preman, hingga penyandang tunanetra untuk mengikuti Pesantren Marginal Cahaya Ramadan.

Kegiatan ini serentak diadakan di 20 kabupaten/kota di 11 provinsi di Indonesia. Di Solo, kegiatan dipusatkan di Masjid Raya Fatimah, Sabtu-Minggu (7-8/3).

Ketua Yayasan Seniman Eling Gusti Ikhsan Adi Kurniawan menjelasan, pesantren ini lahir dari keprihatinan terhadap kelompok marginal.

Sebab mereka sering tidak memiliki akses untuk belajar agama secara kontinyu.

“Kami ingin mengangkat kaum marginal seperti preman, anak punk, dan juga tunanetra. Karena mereka ini jarang sekali mendapatkan tempat untuk belajar agama,” jelas Adi, Sabtu (7/3).

Adi menambahkan, momentum Ramadan dimanfaatkan untuk memberikan asupan ilmu agama. Sekaligus membangun kesadaran untuk memperbaiki diri.

“Harapannya melalui kegiatan ini, mereka dan kita semua berkomitmen untuk berbuat lebih baik dari sebelumnya,” imbuhnya.

Selama dua hari pesantren, diisi berbagai kegiatan keagamaan. Mulai dari kajian Islam, salat lima waktu, salat Tarawih, hingga kajian seni wayang jemblung sebagai metode dakwah.

Ikhsan mengakui, tantangan terbesar yakni mencari dan mengajak kaum marginal agar bersedia ikut serta.

“Anak punk agak sulit dicari, karena secara administrasi tidak punya KTP. Tapi setelah kami temui di Karanganyar dan melakukan pendekatan, Alhamdulillah mereka mau hadir sekira 40 orang,” ujar Adi.

Sebagai bentuk dukungan, panitia juga memberikan transportasi dan santunan kepada para peserta.

Sementara itu, Divisi Pendidikan Dakwah Baznas RI Reno Fathur Rahman menambahkan, kegiatan ini menyasar empat kelompok masyarakat. mulai dari anjal dan pengamen, anak punk dan preman, penyandang disabilitas, serta komunitas rentan.

Reno berharap, kegiatan ini bisa merangkul semua kalangan masyarakat. terutama kaum marginal untuk ikut meramaikan bulan suci Ramadan.

“Program ini bagian dari penyaluran dana zakat dari para muzakki, yang dikelola Baznas melalui asnaf fisabilillah. Jadi dengan dana zakat, kami manfaatkan untuk dakwah. Total anggaran pelaksanaan kegiatan di 20 titik mencapai Rp 750 juta,” urai Reno. (alf/fer)

Editor : fery ardi susanto
#Anjal #pesantren marginal #anak punk #Masjid Raya Fatimah Solo #disabilitas #Kaum Marjinal #tunanetra #anak jalanan