Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Meyakini Keteladanan Kepemimpinan Rasulullah SAW, Sarat Nilai Keadilan dan Toleransi

Alfida Nurcholisah • Jumat, 13 Maret 2026 | 16:38 WIB

Kepala SMPIT Nur Hidayah Bangun Rohmadi.
Kepala SMPIT Nur Hidayah Bangun Rohmadi.

RADARSOLO.COM - Keteladanan kepemimpinan Nabi Muhammad SAW dinilai tidak hanya menjadi contoh bagi umat Islam, tetapi juga relevan bagi berbagai kalangan, termasuk nonmuslim.

Nilai-nilai kepemimpinan Rasulullah seperti kepedulian sosial, keadilan, serta toleransi dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat hingga pemerintahan.

Kepala SMPIT Nur Hidayah Bangun Rohmadi menjelaskan, salah satu nilai penting yang diajarkan Rasulullah adalah kebiasaan berbagi kepada sesama.

Menurutnya, keteladanan Rasulullah tidak hanya dicontoh oleh umat muslim, tetapi juga oleh banyak pihak. Misalnya kebiasaan berbagi kepada sesama, yang juga dilakukan berbagai lembaga.

Bangun menjelaskan, dalam Alquran ditegaskan bahwa Rasulullah merupakan teladan terbaik bagi umat manusia. Seperti tercantum dalam QS Al-Ahzab ayat 21 yang berbunyi:

“Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.”

Menurut Bangun, Rasulullah selalu mengajarkan toleransi. Hal tersebut terlihat ketika beliau memimpin masyarakat Madinah, yang terdiri dari berbagai kelompok agama seperti muslim, Yahudi, dan Nasrani.

Dalam kondisi tersebut, Rasulullah tidak memaksakan aturan yang sama kepada semua kelompok masyarakat.

“Rasulullah memimpin masyarakat yang beragam. Namun kebijakan yang diambil selalu mempertimbangkan kondisi masyarakat. Tidak semuanya disamaratakan,” ujar Bangun.

Keteladanan tersebut, lanjut Bangun, bukti bahwa seorang pemimpin harus mampu bersikap adil agar masyarakat merasa aman dan tenteram.

Selain itu, Bangun juga menyinggung peristiwa Perang Badar yang terjadi pada bulan Ramadan.

Saat itu, Rasulullah tidak memerintahkan seluruh masyarakat untuk terlibat dalam peperangan. Melainkan hanya mereka yang memiliki kemampuan.

“Ini mencerminkan keadilan Rasulullah dalam memimpin. Tidak semua orang dipaksa ikut berperang, hanya yang mampu saja,” jelasnya.

Dalam konsep kepemimpinan Islam, pemimpin sejati adalah pelayan bagi masyarakat.

Rasulullah memberikan pelayanan kepada semua kalangan, tanpa membedakan status sosial. Baik orang kaya, miskin, duafa, maupun anak yatim.

Menurut Bangun, pemimpin pada hakikatnya merupakan khalifah fil ard. Memiliki tanggung jawab untuk membimbing masyarakat, agar lebih dekat kepada Allah SWT.

“Jika nilai ini benar-benar diterapkan, maka masyarakat tidak hanya takut kepada pemimpin atau manusia, tetapi juga kepada Allah SWT. Dengan begitu, korupsi, pencurian, dan berbagai bentuk ketidakadilan bisa diminimalkan,” tandas Bangun. (alf/fer)

Editor : fery ardi susanto
#Ramadan 1447 H #Ramadhan 1447 H #Keteladanan Nabi Muhammad #Ramadhan 1447 Hijriah #Ramadan 1447 Hijriah #Keteladanan Rasulullah SAW #hikmah ramadan