Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Empat Rumah Ibadah Jadi Posko Mudik Lebaran di Solo, Dua Masjid, Serta Masing-Masing Satu Vihara Dan Gereja

Antonius Christian • Senin, 16 Maret 2026 | 17:40 WIB

Jamaah tidur siang di Masjid Sri Sarsanti Soejitno Pajang, Laweyan, Solo.
Jamaah tidur siang di Masjid Sri Sarsanti Soejitno Pajang, Laweyan, Solo.

RADARSOLO.COM - Kelancaran arus mudik dan balik Lebaran bukan hanya tanggung jawab pemerintah, TNI/Polri, dan instansi terkait lainnya.

Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Solo juga ikut andil untuk itu.

Dibuktikan dengan menyiapkan empat rumah ibadah ramah pemudik, Lebaran 2026 ini.

Rumah ibadah ramah pemudik tersebut yakni Masjid Sri Sarsanti Soejitno Pajang, Laweyan; Masjid Muqqorobien Al Faruq Joglo, Banjarsari; GBI Gendengan, Laweyan; serta Vihara Dharma Sundara Pucangsawit, Jebres.

Keempat rumah ibadah ini dipilih karena lokasinya strategis dan dilalui pemudik.

Kepala Kantor Kemenag Kota Solo Ulin Nur Hafsun menjelaskan, rumah ibadah ramah pemudik merupakan pengembangan dari program masjid ramah pemudik pada tahun-tahun sebelumnya.

Tahun lalu, disiapkan sejumlah masjid untuk tempat istirahat bagi pemudik.

“Lebaran tahun kemarin, di Solo ada beberapa masjid yang kami siapkan. Alhamdulillah pengurus masjid berkenan mendukung,” jelas Ulin, Senin (16/3).

Lebaran 2026 ini, program tersebut diperluas dengan melibatkan rumah ibadah lintas agama. Langkah ini diharapkan memperluas layanan, sekaligus mencerminkan semangat toleransi dan kebersamaan antarumat beragama.

“Kalau tahun sebelumnya hanya masjid, tahun ini kami tambah satu gereja dan satu vihara,” imbuh Ulin.

Masjid Sri Sasanti Suyitno Pajang disiapkan untuk melayani pemudik yang melintas di jalur alternatif menuju Sukoharjo, Yogyakarta hingga wilayah selatan seperti Gunungkidul dan Pacitan.

Lokasi masjid tersebut berada tidak jauh dari jalur yang sering dilalui kendaraan pemudik dari arah Solo menuju wilayah selatan.

Sementara Masjid Muqqorobien Al Faruq Joglo di kawasan simpang Joglo, merupakan salah satu titik pertemuan arus kendaraan dari berbagai arah.

Lokasi tersebut juga relatif dekat dengan jalur lingkar kota serta akses tol sehingga dinilai strategis bagi pemudik yang melintas di kawasan utara Kota Solo.

Adapun GBI Gendengan berada di kawasan pusat kota Solo, tepatnya di sekitar area Gendengan yang cukup ramai dilalui kendaraan.

Posko ini diharapkan dapat dimanfaatkan pemudik yang melintas di jalur dalam kota.

Sedangkan Vihara Dharma Sundara Pucangsawit, berada di wilayah timur Kota Solo yang berbatasan dengan kawasan Karanganyar dan jalur menuju Sragen.

Lokasi tersebut juga menjadi jalur yang cukup ramai dilalui pemudik dari arah timur menuju Kota Solo maupun sebaliknya.

Ulin menuturkan, penunjukan rumah ibadah tersebut merupakan hasil koordinasi bersama Pemerintah Kota (Pemkot) Solo melalui Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra), pengurus rumah ibadah, serta Badan Amil Zakat Nasional (Baznas).

Selama periode mudik Lebaran, rumah ibadah tersebut akan dibuka selama 24 jam dan dapat dimanfaatkan oleh pemudik tanpa syarat khusus.

“Rumah ibadah ini siap buka 24 jam. Pemudik bisa beristirahat sejenak, menggunakan fasilitas toilet dan MCK yang bersih, serta menikmati minuman dan makanan ringan yang disediakan,” katanya.

Selain itu, di masing-masing lokasi juga disiapkan fasilitas tambahan seperti tempat pengisian daya telepon genggam, ruang istirahat yang nyaman, serta area yang dipisahkan antara laki-laki dan perempuan untuk menjaga kenyamanan pemudik.

Program Rumah Ibadah Ramah Pemudik ini akan beroperasi selama sepuluh hari, mulai H-5 hingga H+5 Lebaran.

Selama periode tersebut, petugas dan relawan akan berjaga secara bergantian di masing-masing lokasi.

Untuk mendukung operasional posko, Kemenag Solo melibatkan sejumlah relawan dari Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) yang merupakan para penyuluh agama lintas agama di lingkungan Kemenag.

Selain itu, turut dilibatkan relawan dari Baznas Tanggap Bencana serta pengurus rumah ibadah setempat.

“Petugasnya berasal dari tiga unsur, yakni penyuluh agama dari IPARI, relawan Baznas Tanggap Bencana, serta pengurus rumah ibadah yang bersangkutan,” jelasnya.

Ulin menambahkan, berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, pemudik yang memanfaatkan fasilitas rumah ibadah ramah pemudik, biasanya datang secara bergantian untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan.

“Biasanya pemudik datang bergantian. Ada yang datang untuk istirahat sebentar, kemudian melanjutkan perjalanan lagi. Rata-rata yang singgah sekitar dua sampai tiga keluarga setiap waktu,” ujarnya. (atn/fer)

Editor : fery ardi susanto
#arus mudik lebaran solo #Arus Mudik 2026 #mudik lebaran #rumah ibadah ramah pemudik #Masjid Ramah Pemudik #lebaran 2026 #kantor kemenag surakarta