Menjamu PSM, kubu host sejatinya sedang dihinggapi optimisme tinggi. Menyusul kemenangan dua gol tanpa balas, atas juara back-to-back Liga 1 Bali United di matchday ke-10, 15 September lalu. Apalagi Stadion Manahan dikenal angker bagi tim-tim papan atas. Bahkan pemimpin klasemen sementara Madura United, juga pernah merasakan sengatan Persis, 23 Agustus lalu.
Skuad asuhan Rasiman sudah berkoar, bakal menjadikan PSM sebagai raksasa ketiga yang dijadikan korban selanjutnya. Kans tersebut terbuka lebar, setelah winger muda Irfan Jauhari membawa Persis unggul pada menit ke-23.
Menerima sodoran dari fullback kiri M. Abduh Lestaluhu, Jauhari berhasil merangsek masuk ke jantung pertahanan PSM. Sempat mengecoh bek lawan, tendangan winger asal Ngawi, Jawa Timur ini bersarang telak di pojok kanan gawang PSM yang dikawal M. Reza.
Sial, keunggulan tersebut hanya seumuran jagung. Permainan spartan yang mengandalkan pasukan muda, membuat PSM mampu menyamakan kedudukan 1-1 pada menit ke-43. Melalui kaki bomber impor asal Jepang Kenzo Nambu.
Caretaker Persis Solo Rasiman cukup kecewa dengan gol balasan PSM. Gol yang sedikit berbau keberuntungan tersebut, tak lepas dari peran striker jangkung asal Brasil Everton Nascimento De Mendonca.
Berawal dari set piece, bola langsung mengarah tepat di depan gawang Persis yang dikawal Gianluca Pandeynuwu. Everton berhasil memenangi duel udara melawan Fabiano Beltrame. Sundulannya langsung mengarah ke Kenzo yang berdiri bebas. Tanpa ampun, sontekan pelan Kenzo berhasil menggetarkan gawang tuan rumah.
“Sayangnya di akhir babak pertama kami kecolongan gol. Ini agak sulit buat kami. Memang dua pemain lawan tinggi sekali (Everton dan Yuran Fernandes),” keluh Rasiman usai laga.
Di paro kedua, perubahan strategi diterapkan Rasiman. Alfath Faathier, M. Shulton Fajar, Irfan Jauhari, Andri Ibo, hingga Samsul Arif ditarik keluar. Digantikan Irfan Bachdim, Taufiq Febriyanto, Ferdinand Sinaga, Jaimerson Xavier, serta Althaf Indie.
“Babak kedua kami more dominant. Ketika game mulai strech, saya coba lakukan pergantian. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan pergantian ini. Namun sayangnya kami tidak bisa memenangkan pertandingan,” imbuh Rasiman yang pernah menjadi asisten pelatih Madura United tersebut.
Bukannya menambah gol, bond kebanggan wong Solo justru harus kehilangan satu pemain. Jaimerson di-espulso (kartu merah) wasit, setelah kedapatan menggampar muka Yuran Fernandes menit ke-85. Bermain dengan 10 pemain, Persis tetap mendominasi permainan. Sayang, tak ada satupun gol tambahan tercipta.
“Bukan hasil yang menggembirakan. Kami merasa bermain lebih baik, terutama di babak pertama. Kami bisa me-manage PSM, terbukti kelebihan mereka tidak keluar. Sehingga chances bisa dicetak dan Jauhari score,” beber Rasiman.
Kekecewaan juga tergambar di wajah Irfan Jauhari. Kendati di laga kemarin dia mencatatkan namanya di papan skor. Sekaligus gol perdananya sepanjang musim ini. “Hasilnya kurang memuaskan,” hematnya.
Dari kubu PSM, alenatore Bernardo Tavares tak kalah meradang. Dia juga kecewa timnya tidak bisa pulang dengan poin absolut. Anehnya, dia mengambinghitamkan pengadil lapangan sebagai biang keladi.
“Terima kasih kepada suporter kami (yang datang langsung ke Stadion Manahan). Kami tidak ada masalah dengan Persis. Mereka memiliki tim yang bagus. Mungkin jika hal tersebut (wasit adil), hasilnya bisa berbeda,” koarnya.
Hasil imbang ini membuat Persis naik dua strip ke peringkat 12 dengan tabungan 11 poin. Sedangkan bagi PSM, tambahan satu poin di Manahan membuat Juku Eja (julukan PSM Makassar) gagal mendongkel Madura United di posisi puncak. PSM masih tertahan di peringkat kedua dengan 22 poin. (nis/fer) Editor : Damianus Bram