Seperti diketahui, Liga 1 2022/2023 waktu kickoff paling awal digelar pukul 15.30, sedangkan paling terakhir dimulai 20.30. FIFA meminta jadwal terakhir kedepannya adalah pukul 17.00, termasuk digelar akhirnya pekan, yakni Sabtu dan Minggu.
“Kami sebagai suporter sangat setuju sekali. Apalagi melihat teman-teman kan tidak semuanya naik motor, mungkin juga ada yang naik akomodasi umum juga. Jadi mereka msh bisa naik untuk menuju pulang (kalau pertandingan tidak selesai terlalu malam),” terang Presiden DPP Pasoepati Maryadi Gondrong kepada Jawa Pos Radar Solo kemarin.
Sebelumnya karena efek pertandingan malam, keluarga besar suporter Persis Solo sempat berduka. Lantaran ada salah seorang keluarga besar mereka, yakni Atok Prayodika meninggal dunia karena kecelakaan dalam perjalanan ke Jogja. Suporter asal Cawas Klaten tersebut pulang usai melihat pertandingan Persis Solo melawan Bali United di Stadion Manahan, Kamis (15/9). Kala itu pertandingan baru kickoff 20.30, dan baru selesai pukul 22.15. usai pertandingan Antok langsung pulang ke Jogja karena tengah membangun rumah di sana, namun nahas dia mengalami kecelakaan disana.
Gondrong juga mengakui dari sisi keamanan,tentu membantu pihak keamanan untuk mengantisipasi adanya hal-hal yang tidak diinginkan.
”Dari segi keamanan mungkin bisa lebih memudahkan dalam hal koordinasi, bilamana ada pertandingan tertentu yang betul-betul menyedot perhatian masyarakat umum maupun suporter untuk datang ke stadion,” ujarnya.
Di lain sisi wacana kickoff Liga 1 paling akhir dimulai 17.00 disambut positif oleh panitia pelaksana (panpel) pertandingan Liga 1 di Stadion Manahan. Pihaknya tak menampik ada kendala dan proteksi yang lebih yang dialami panpel kalau menggelar pertandingan malam hari.
Ketua Panpel Stadion Manahan Ginda Ferachtriawan mengatakan, terkait jadwal pertandingan yang diberikan operator kompetisi memang kadang jadi problem buat panpel maupun pihak keamanan.
"Sering kami mendapat jadwal (malam, Red). Tidak hanya Liga 1 saja. Bahkan waktu Persis masih di Liga 2 atau ada laga pramusim seperti Piala Presiden dulu juga sering dapat jatah main malam. Malah pernah sehari ada dua pertandingan, sore dan malam. Itu malah makin repot," ujarnya.
Ginda mengakui banyak kendala dalam sisi sarpras di lingkungan Manahan yang dirasa kurang mendukung.
"Kalau untuk (sarpras) di dalam stadion sudah memadai, tapi kawasan sekitarnya yang belum siap. Terutama soal penerangan. Masih tidak layak. Sangat gelap, terutama di area parkir sepeda motor," terang pria berstatus anggota DPRD Surakarta tersebut.
"Jadi ketika ada pertandingan malam, kami harus keluar modal tambahan. Yaitu menambah penerangan di titik-titik yang masih gelap. Seperti parkir, area patung Manahan, hingga di sekitar pintu masuk," sambungnya.
Ginda juga mengakui di ring dua atau kawasan pintu keluar masuk stadion, pintu keluarnya tidak banyak. Terkadang ketika pertandingan malam, para suporter yang akan meninggalkan stadion ingin cepat-cepatan keluar. "Jadi kadang desak-desakan kalau mau pulang. Soalnya budaya antre kita masih kurang," jelas Ginda.
"Kemudian CCTV di kawasan stadion juga kurang bagus untuk mengambil gambar dalam waktu lama. Kualitasnya tidak sebagus apabila cahayanya terang," tambahnya.
Ginda tak menampik, waktu optimal untuk menggelar pertandingan itu sore hari. Dimana antara pukul 15.00 hingga 17.00. "Kalau mulai pukul 17.00 itu pun kami kerepotan saat suporter pulang karena selesainya hari sudah gelap. Apalagi kalau baru dimulai malam, repotnya dobel, saat mereka datang dan pulang," pungkas Ginda. (atn/nik/dam) Editor : Damianus Bram