Kecintaan Fani Supriyanto terhadap dunia olahraga tak lepas dari peran ayahnya yang dulu merupakan seorang atlet voli. Dara manis kelahiran 30 Mei 2004 ini mengikuti jejak sang ayah dengan bergelut di bidang bola voli awalnya, sebelum akhirnya tambatan hatinya malah bergeser ke dunia sepak bola yang kini digelutinya.
“Ikut latihan sama cowok, waktu itu,” jawab Fani ketika ditanya awal mula dirinya menekuni sepakbola.
Perempuan asal Banjarnegara menjelaskan, dia memulai karir sepak bolanya melalui seleksi Timnas U-16 Putri pada Agustus 2018 lalu. Kala itu, skuad Garuda Pertiwi tengah melakukan pemusatan latihan untuk menghadapi Kualifikasi Piala Asia U-16 Putri 2019 di Kirgizstan. Karena kekosongan posisi penjaga gawang, pelatih Timnas U-16 Putri kala itu Rully Nere membuka seleksi, dan Fani mendapat berkah karena jadi salah satu yang terpilih.
“Waktu itu ada pemusatan latihan U-16 di Banjarnegara. Posisi, saya asli Banjarnegara, jadi saya bisa ikut. Saya ikut seleksi kiper, alhamdulillah saya lolos,” ucap Fani.
Sebulan berselang, Fani bersama 19 pemain lain terbang ke Kirgistan. Fani ternyata harus bersabar, dia jadi kiper ketiga. Namun dia tetap bersyukur karena akhirnya diberi kepercayaan bermain melawan China Taipei (21/9/2018).
Timnas U-16 sempat memimpin klasmen grup D, setelah meraih kemenangan atas Palestina (3-2), dan Kirgistan (3-0). Namun akhirnya merasakan kekalahan beruntun, yakni saat bertemu Australia (2-3), dan China Taipei (1-3). Sayang dengan Raihan enam poin ini, membuat Timnas gagal lolos ke Piala Asia U-16 2019.
Walau gagal, setidaknya kualitas Fani mulai semakin dilirik. Bahkan tak berselang lama, Fani kembali dipanggil PSSI untuk gabung dengan Timnas Putri Indonesia. Tepatnya untuk mengikuti turnamen FAS Women’s International Quadrangular 2018 di Singapura, 23-25 November 2018. Kejuaraan ini diikuti empat negara, yakni Singapura, Indonesia, Maladewa dan Luxembourg. Indonesia jadi juru kunci, karena di laga pertama kalah (0-1) dari Luxembourg, dan di laga kedua kalah adu penalti dari Maladewa 1-3, setelah di waktu normal bermain imbang 0-0.
Pengalamannya bersama Timnas membuat CEO PSIS Semarang Yoyok Sukawi terpukau, dan merekrutnya untuk membela PSIS Putri di ajang Liga 1 Putri 2019. Ini liga wanita pertama yang digelar di Indonesia.
Sayang gara-gara pandemi Covid-19, hingga hari ini Liga 1 putri belum ada kejelasan kapan akan digelar lagi. Saat ini Fani sudah pindah ke Persis Women, dan sudah resmi jadi pemain tim ini sejak 17 Juni 2022. “Semoga saya bisa memberikan yang terbaik buat tim ini,” terangnya.
Selain fokus berlatih bersama Persis, Fani juga tetap laris manis dengan pemanggilan timnas yang masih diterimanya. Dia sempat dipanggil untuk ikut kualifikasi Piala Asia 2022 di Tajikistan pada September 2021.
Dalam turnamen itu, Indonesia berada dalam Grup C bersama Singapura, Irak, dan Korea Utara. Dengan alasan pandemi, Irak dan Korea Utara memutuskan mundur dari kompetisi, sehingga Indonesia hanya menghadapi Singapura. Fani berhasil menjadi starter dalam pertandingan yang digelar dua leg tersebut, 24 dan 27 September 2021. Fani berhasil menjaga gawangnya nirbobol dan agregat 2-0, dan mengantarkan Indonesia lolos ke babak grup di putaran final Piala Asia Wanita 2022 di India.
Awal 2022, dia kembali dipanggil gabung Timnas Wanita, khusus untuk membela Indonesia dalam Grup B Piala Asia 2022 itu. Sayang Indonesia babak belur. Fani menjadi kiper utama saat Indonesia kalah 0-4 dari Thailand dan 0-18 menghadapi Australia. Di laga penutup melawan Filipina, Fani dicadangkan oleh tim kepelatihan.
Tahun lalu Fani juga terbang ke Filipina, saat berjuang di ajang AFF Women Championship 2022 dan berlanjut dia masuk skuad Timnas U-18 di ajang Piala AFF Wanita U-18 2022 di Palembang di tahun yang sama.
Hasil yang belum optimal bersama timnas tentu menjadi pembelajaran buatnya. Dia ingin meraih hasil yang baik di setiap pertandingan, baik di kejuaraan nasional maupun internasional.
Di Persis Women dia terus menempa diri. “Saya akan bekerja keras untuk latihan, agar bisa menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya,” harap Fani. (mg8/nik) Editor : Damianus Bram