RADARSOLO.COM - Haryanto “Tommy” Prasetyo, Karir eks pemain Persis Solo sekaligus pelatih Persis Youth di dunia kepelatihan meroket. Setelah namanya masuk jajaran staf kepelatihan Timnas Indonesia. Bergabung bersama pelatih asal Korea Selatan (Korsel) Shin Tae-yong.
DNA sepak bola tertanam kuat di darah Haryanto “Tommy” Prasetyo. Maklum, keluarga besar pria kelahiran Sukoharjo, 3 April 1978 ini memang gila bola. Ayahnya, Sutioso Budiharjo dikenal sebagai penggawa Persis Solo era 70-an. Sedangkan ibunya, Esti pernah aktif bermain di tim Putri Mojolaban, Sukoharjo.
Kakak kandung Tommy, Indriyanto Setyo “Nunung” Nugroho, juga sempat berkarir di sepak bola profesional. Pernah bergabung dengan Arseto Solo, Pelita Solo, Persijatim Solo FC, PSIS Semarang, hingga Persik Kediri. Juga pernah membela panji Timnas Indonesia.
Ogah kalah dengan kakaknya, Tommy juga malang melintang di sejumlah klub besar di tanah air. Mulai dari Pelita Solo, Persijatim Solo FC, Persijap Jepara, PSS Sleman, hingga Persis Solo.
Setelah memutuskan gantung sepatu di 2012, Tommy mulai aktif di dunia kepelatihan. Menimba ilmu kepelatihan di ibu kota, sebelum bergabung di SSB Kabomania Bogor. Bahkan sempat membentuk tim Badak Lampung FC, yang bertarung di Elite Pro Academy (EPA) U-16 pada 2019 silam.
Potensi Tommy sebagai juru racik sampai ke telinga manajemen Persis Solo. Dia didapuk sebagai asisten pelatih Persis, saat juara Liga 2 musim 2021. Saat itu dia menjadi pendamping pelatih kepala Eko Purdjianto.
Semusim berselang, Laskar Sambernyawa -julukan Persis Solo- naik kasta ke Liga 1. Sayangnya, Tommy tidak masuk jajaran tim kepelatihan. Kendati demikian dia dipercaya mengampu Persis Youth. Skuad muda Persis yang diproyeksikan untuk EPA.
Puncuk di cinta ulam pun tiba. Tahun lalu dia dipanggil mendampingi pelatih timnas Shin Tae-yong. Menjalani masa percobaan sebagai asisten pelatih. Tepatnya saat Timnas U-20 terbang ke Turki, dalam training camp pada 15 Oktober-5 November 2022.
“Awalnya tugas saya membantu coach Nova (Arianto). Karena dia asistennya coach Shin (Tae-yong). Jadi dia mencari pelatih lokal untuk membantu. Akhirnya saya dites di Turki. Saya banyak belajar dari pelatih level Piala Dunia,” ucap Tommy kepada Jawa Pos Radar Solo.
Tak disangka-sangka, sepulang dari Turki Shin Tae-yong memberi kepercayaan kepada Tommy. Akhirnya dia diikat kontrak oleh PSSI sebagai asisten pelatih.
“Akhirnya saya berangkat lagi untuk FIFA match day lawan Palestina dan Argentina. Terus nyambung lagi sampai sekarang. Saya memberi referensi untuk coach Shin,” imbuhnya.
Kinerja Tommy tak diragukan lagi. Bersama Shin Tae-yoong, Indonesia untuk pertama kalinya lolos Piala Asia 2023. Setelah dalam kualifikasi di Stadion Manahan, belum lama ini menumbangkan lawan-lawannya. Setelah melibat Chinese Taipei 9-0 (9/9), Indonesia menekuk Turkmenistan 2-0 (12/9).
Sayangnya, hanya Nova Arianto yang terlihat duduk di bench cadangan bersama Shin Tae-yoong. Lalu di mana Tommy? Rupanya dia harus puas duduk di tribun stadion. “Saya membantu pelatih, meski pas pertandingan duduk di atas (tribun). Itu karena regulasi,” beber Tommy.
Sebelum tampil di Kota Bengawan, gelandang jebolan program Baretti pada 1995 itu pernah ikut meramu timnas senior. Tepatnya saat menghadapi Turkmenistan pada FIFA match day di Stadion Gelora Bung Tomo Surabaya, 8 September lalu. Dalam pertandingan tersebut, Indonesia menang dua gol tanpa balas.
“Ada event FIFA match day dan AFC yang bersamaan. AFC kan target utama beliau (Shin Tae-yong). Akhirnya dia meminta saya, termasuk coach Sofie (Imam Faizal, pelatih fisik) dan Dwi Priyo untuk mendampingi coach Choi bertugas di Surabaya. Saat tugas selesai tim dibubarkan. Baru ke Solo lagi,” urai Tommy.
Selama mendampingi Shin Tae-yoong, banyak pelajaran dikantongi Tommy. “Semua tahu siapa dia. Level dia sebagai pelatih profesional. Dia ingin hasil yang terbaik untuk negara tempatnya bekerja,” ujar Tommy.
Selama bergabung timnas, seluruh komponen baik pemain maupun staf kepelatihan selalu menerapkan budaya disiplin. Termasuk fighting spirit tinggi. “Coach Shin selalu menekankan attitude. Kalau mau jadi pemain top, ya harus kerja keras,” imbuh Tommy.
Dalam waktu dekat, Tommy akan merapat dalam training canter (TC) timnas senior. Proyeksi babak kualifikasi Piala Dunia. “Kalau jadwalnya mulainya bulan depan,” ujarnya.
Bersama Timnas, Tommy berkomitmen memberikan yang terbaik. “Support head coach, support dari coach Shin, termasuk dari staf kepelatihan sangat bagus. Saling mendukung dan maksimal dalam bekerja,” paparnya.
Di timnas, Tommy didapuk meracik daya dobrak kompartemen penyerangan. Pekerjaan ini tidak semudah membalik telapak tangan. Karena dia harus mengasung pemain berlabel bintang.
“Levelnya terbaik. Pemain bintang pasti egonya besar. Jadi harus bisa mengendalikan ego tersebut, untuk satu tujuan timnas. Demi prestasi Indonesia. Ini tantangannya,” papar Tommy.
Target ke depan, Tommy mengincar posisi sebagai pelatih kepala. Entah di timnas maupun level klub. “Secara pribadi target saya itu. Tidak mungkin saya terus-terusan menjadi asisten,” ujarnya. (nis/fer)
Editor : Damianus Bram