RADARSOLO.COM - Perkembangan pesat tampak pada Timnas Indonesia era kini. Hal tersebut pun diakui oleh legenda-legenda sepakbola Nusantara. Tak terkecuali, kiper andalan tim Garuda era 1960-1970-an, Yudo Hardianto.
Yudo tak pernah ketinggalan informasi soal Timnas Indonesia. Berdomisili tetap di Jakarta, pria kelahiran Kota Bengawan tersebut kerap mendapatkan undangan ke home game tim Garuda.
"Saya selalu mendapat undangan. Sudah melihat kemarin lawan Australia. Saya kalau tidak di stadion saya nonton di televisi. Saya selalu mengikuti pertandingan timnas," ujar Yudo saat ditemui Jawa Pos Radar Solo di kediamannya di kawasan Laweyan, Kamis (14/11).
Kamis malam (14/11) Yudo kembali dari Solo ke Jakarta. Pada pertandingan terdekat melawan Jepang, pria yang pernah dijuluki sebagai kiper terbaik Asia tersebut akan menyaksikan penampilan Jay Idzez dan kawan-kawan.
"Malam ini saya kembali. Besok (15/11), saya dapat undangan nonton timnas," tuturnya.
Yudo sangat bangga melihat timnas era kini. Prestasinya sudah mulai merangkak naik. Terbukti, ranking FIFA Indonesia juga perlahan terkerek ke atas. Terbaru, Indonesia menduduki urutan ke-130 per 24 Oktober kemarin.
"Sekarang ini posisi timnas di Ranking FIFA sudah mulai naik. Memang sekarang posisinya prestasinya sudah kelihatan. Karena apa? adanya pemain naturalisasi berkualitas. Naiknya level karena ini. Kita harus menyadari itu," ucapnya.
Datangnya Maarten Paes juga jadi sorotan Yudo.
"Kalau saya melihat Paes, memang kiper bagus. Mengingatkan saya dahulu ketika masih bermain," ucap Yudo.
"Dia antisipasi pada posisinya bagus. Gerak gerik tangkapannya bagus. Tujuannya itu dia tahu. Positioning tepat. Selain Paes, kiper lainnya juga bagus. Termasuk Ernando Ari," lanjut eks kiper Persis Solo hingga Persija Jakarta tersebut.
Level permainan Indonesia pun sudah di atas Asia Tenggara. Bagi Yudo, Indonesia kini setara dengan Asia. Hal itu dibuktikan pada penampilan Indonesia pada empat pertandingan terakhir putaran ketiga.
"Dengan materi sekarang ini, saya harapkan minimal draw. Sekarang ini kita dianggap underdog. Karena Jepang tidak pernah terkalahkan. Namun karena kita main di kandang sendiri, spirit pasti berbeda," ungkapnya.
Setali tiga uang, legenda Persis Solo era 1960an-1970an Franz Setiabudi mengaku kualitas timnas saat ini terus meningkat. Di samping pro dan kontra naturalisasi, Franz mengakui cukup senang dengan adanya pemain-pemain naturalisasi.
"Mereka punya kualitas, pengalamannya juga mantep. Itu pendapat saya. Dengan adanya mereka juga bisa menambah semangat pemain lainnya," ucapnya pria yang akrab disapa Wewek tersebut. (nis/nik)
Editor : Niko auglandy