Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

BONGKAR ARSIP: Final Piala Polda Jateng 2015 Berjalan Mencekam, Diwarnai Gas Air Mata, Perang Batu, dan Penalti Hantu

Niko auglandy • Minggu, 3 Agustus 2025 | 02:20 WIB

 

NIKKO AUGLANDY/RADAR SOLO  CHAOS: Pemain persis Solo mengerubuti wasit yang memimpin laga melawan PSIS Semarang di Stadion Jatidiri (2/8/2015).
NIKKO AUGLANDY/RADAR SOLO CHAOS: Pemain persis Solo mengerubuti wasit yang memimpin laga melawan PSIS Semarang di Stadion Jatidiri (2/8/2015).
 

 

RADARSOLO.COM - Tepat 10 tahun lalu, mimpi Persis Solo untuk menjadi juara Piala Polda Jateng 2015 harus kandas secara tragis. Dalam laga final yang penuh drama dan kerusuhan, Laskar Sambernyawa harus mengakui keunggulan tuan rumah PSIS Semarang usai kalah dengan skor agregat 2-1.

Namun bukan hanya hasil akhir yang dikenang, melainkan juga serangkaian kekacauan yang membayangi turnamen tersebut.

Piala Polda Jateng sendiri merupakan turnamen dadakan yang digelar sebagai respons atas dibekukannya PSSI oleh Kemenpora pada 2015. Kala itu, Indonesia Super League (ISL) dan Divisi Utama 2015 dihentikan di tengah jalan, memaksa banyak klub membubarkan timnya.

Untuk mengisi kekosongan kompetisi, Asprov PSSI Jawa Tengah menggagas turnamen ini, diikuti oleh klub-klub seperti PSIS Semarang, Persis Solo, Persijap Jepara, PSIR Rembang, PSCS Cilacap, Persibas Banyumas, dan Persip Pekalongan.

Persis Solo yang saat itu dilatih Aris Budi Sulistyo tampil impresif sejak fase grup.

Mereka menembus final dengan permainan solid, menciptakan Derby Jateng yang panas dan penuh gengsi melawan PSIS. Namun, apa yang seharusnya menjadi pesta sepak bola, berubah menjadi mimpi buruk.

Final leg pertama digelar di Stadion Jatidiri, Semarang, pada 4 Juli 2015. Ribuan suporter Pasoepati dan B6 (kini bernama Surakartans) memadati stadion.

Awalnya, Pasoepati hanya mendapat kuota 2.000, namun jumlah yang hadir diperkirakan mencapai 3.000 lebih.

Suasana aman mulai berubah ketika laga berjalan. Pada menit ke-27, striker PSIS Johan Yoga mencetak gol sundulan, yang membuat stadion bergemuruh. Tak lama berselang, kericuhan pecah.

Entah siapa yang memulai, namun benda-benda keras mulai beterbangan dari arah tribun suporter masing-masing. Polisi melepaskan tembakan gas air mata untuk meredam situasi, namun justru membuat suasana semakin kacau.

Salah satu wartawan Jawa Pos Radar Solo, Nikko Auglandy, yang meliput langsung dari stadion, terkena dampaknya.

Dia dan  suporter dari Solo terpaksa menyelamatkan diri ke bawah tribun, mencari air untuk membersihkan matanya yang perih. Banyak suporter, wartawan, panpel, hingga pihak keamanan ikut merasakan hal serupa.

Diluar stadion odol (pasta gigi) dibagikan untuk meredakan iritasi mata akibat gas air mata yang dirasakan penonton dan suporter.

Laga akhirnya dihentikan dan dijadwalkan ulang. Namun kericuhan tak berhenti di dalam stadion. Di kawasan Jatingaleh, tak jauh dari hotel tempat menginap tim Persis, perang batu antar suporter kembali pecah hingga dini hari.

I Komang Putra, pelatih kiper Persis saat itu, membandingkan insiden itu dengan kerusuhan tahun 2000.

"Kejadian di Jatidiri mirip ricuh di Manahan (saat laga Pelita Solo vs PSIS Semarang) 2000. Saat itu saya dan pemain PSIS baru bisa keluar stadion sampai dini hari," ucap I komang putra, Pelatih kiper Persis Solo saat itu yang 2000 silam main untuk PSIS Semarang.

Final leg kedua yang semestinya digelar di Stadion Manahan pada 11 Juli 2015 pun harus diundur hingga 30 Juli 2015. Pertandingan berakhir imbang tanpa gol, namun tetap diwarnai kericuhan.

Suporter Persis kembali ricuh meskipun suporter PSIS tidak melakukan awayday. Bahkan hakim garis Sumanto Hamkan sempat terkapar akibat lemparan benda keras dari tribun.

Puncak drama terjadi saat leg pertama yang sempat tertunda, akhirnya dilanjutkan pada 2 Agustus 2015, dimulai dari menit ke-27.

Persis sempat menyamakan kedudukan lewat gol Ferryanto menjelang babak pertama berakhir. Skor agregat 1-1 membuat asa Persis meraih gelar tetap terbuka.

Namun semuanya buyar di menit akhir. Wasit memberikan tambahan waktu 4 menit, tetapi peluit panjang tak kunjung dibunyikan. Justru sebaliknya, wasit menunjuk titik putih karena menganggap Rico Fernando, bek Persis, melakukan pelanggaran.

Pemain PSIS sukses mengeksekusi penalti. Tak lama kemudian, peluit panjang dibunyikan. PSIS dinyatakan sebagai juara.

"Gelar juara sudah di tangan, tapi akhirnya dirampas wasit. Harapan itu luntur karena hasil pertandingan yang mengecewakan. Saya dan teman-teman minta maaf kepada semua pihak, termasuk Pasoepati," ujar Ferryanto saat itu.

Kenangan pahit di Semarang tersebut masih membekas di benak suporter dan pemain Persis hingga kini. Sebuah laga yang seharusnya menjadi panggung kebanggaan, justru berubah jadi luka kolektif yang masih dikenang 10 tahun kemudian. (*)

 

Editor : Niko auglandy
#persis solo #liga 1 #psis semarang