Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Larangan Away Liga 1 Belum Dicabut, Suporter Persis Solo : Ini Pengingkaran

Mannisa Elfira • Kamis, 7 Agustus 2025 | 21:23 WIB
Suporter Persis Solo saat mengawal timnya di Stadion Manahan, sembari menyalakan flare.
Suporter Persis Solo saat mengawal timnya di Stadion Manahan, sembari menyalakan flare.

RADARSOLO.COM - Dua musim berlalu, larangan suporter tandang tetap tak dicabut. Asa untuk menyaksikan pertarungan Super League 2025/2026 dengan kehadiran suporter tim tamu kembali pupus.

Kepastian itu disampaikan Direktur Utama I League Ferry Paulus, yang menyebut bahwa FIFA masih belum memberi lampu hijau.

Di mata suporter, larangan away merupakan pengingkaran untuk kesekian kali dari PSSI maupun PT. Liga Indonesia Baru -yang sekarang I.League- pada suporter seluruh Indonesia.

Hal tersebut dibeberkan oleh perwakilan Ultras 1923, Beto.

"Dikompetisi 2024/2025 sempat dikatakan bahwa akan jadi akhir larangan away di Liga Indonesia. Berlanjut di awal musim 2025/2026 yang ternyata tidak terealisasi," tutur Beto.

Inkonsistensi narasi yang dibawa operator liga ataupun PSSI juga turut tersorot. Menurutnya, beberapa hari sebelum rilis resmi, Direktur I.League sendiri kembali menyampaikan bahwa tinggal proses finalisasi konsep dengan klub dan aparat keamanan.

Namun dalam waktu singkat, pernyataan itu berubah dengan kembali menjadikan FIFA sebagai dalih utama.

"Pertanyaannya adalah FIFA yang mana? Karena saat perwakilan PNSSI (Presidium Nasional Suporter Sepakbola Indonesia) sebagai wadah suporter Liga Indonesia yang mencakup Liga 1, Liga 2 dan Liga 3 meminta bukti keputusan itu dari rekomendasi FIFA mereka tidak bisa menunjukan," lanjut Beto.

Beto menilai, away yang seharusnya menjadi ajang silaturahmi antar suporter lebih sering menjadi ketegangan antara suporter tamu dengan pihak keamanan, begitu pula ketakutan suporter tuan rumah untuk bisa menerima saudara-saudaranya berkunjung.

"Sepertinya sudah saatnya suporter bergerak menolak larangan away tahun ini, dengan berani menerima suporter tamu dengan catatan tetap menjaga kondusifitas sebelum, saat, dan sesudah pertandingan," tegas Beto.

"Karena kalau hanya tunduk, tidak akan ada percontohan bahwa suporter layak melakukan away. Dimulai dari menerima teman-teman suporter yang berhubungan baik dan bisa saling menjaga kondusifitas. #tolaklaranganaway," sambungnya.

Lantas, apakah akan ada aksi yang dilakukan suporter dalam waktu dekat? Gerakan-gerakan ini masih digodok oleh suporter lintas kota. Menimbang-timbang aksi yang tepat untuk menolak larangan away kembali diberlakukan.

"Masih kami bahas antarsuporter lintas kota, karena kami punya wadah bernama PNSSI, kita akan coba maksimal dengan itu," tuturnya.

Mengutip dari jawapos.com, larangan away telah berlangsung selama dua musim terakhir pasca tragedi berdarah di Stadion Kanjuruhan pada 22 Oktober 2022.

PSSI pun beralasan larangan suporter tim tamu sebagai bagian dari transformasi sepak bola Indonesia bersama FIFA.

"Tadi malam kami sudah berkomunikasi dengan FIFA untuk minta persetujuan. Intinya FIFA masih akan melihat sampai sejauh mana effort dari kami untuk bisa menghadirkan penonton tadi," kata Ferry Paulus di Jakarta, Rabu (6/8).

"Jadi per hari ini FIFA masih belum mengizinkan (suporter tamu), kemudian masih ada pendalaman dan kami akan melakukan edukasi," lanjutnya.

Kini, lanjut Ferry, operator sedang fokus mengedukasi serta menjalin lebih banyak interaksi dengan para suporter. I.League bakal berbicara dengan para penggemar tiap klub sebagai upaya FIFA memberikan lampu hijau untuk Super League 2025/2026. 

"Kemudian juga akan berinteraksi banyak dengan suporter-suporter untuk bisa mendapatkan paling tidak bahwa, kami udah baik lho, kalo udah baik nanti kami akan melakukan terobosan kembali minta permohonan izin kembali dari FIFA," ujarnya.

Di sisi lain, usaha terus dilakukan. Harapannya putaran kedua Super League 2025/2026 bisa dihadiri oleh suporter tim tamu.

Sementara itu, saat ditanya soal alasan FIFA tak memberi lampu hijau, Ferry menyebutkan salah satu penyebabnya adalah adanya insiden dalam pertandingan terakhir musim lalu di Bandung.

Kendati tak menyebut spesifik, tapi pertandingann itu adalah Persib Bandung saat menjamu Persis Solo.

Saat itu, flare menyala di berbagai sudut tribun, bahkan sejumlah oknum turun ke lapangan dan merusak rumput. Saat kejadian itu, delegasi FIFA hadir langsung dan melihat insidennya.

"Sebenarnya sebelum penutupan liga kemarin, liga sudah memberikan lampu hijau makanya kita sangat senang sekali, kemudian kita juga sudah melaporkan bahwa kita sudah berkomunikasi dengan pihak kepolisian, dan kepolisian intinya menunggu keputusan dari FIFA dan semua responsnya positif," papar Ferry.

"Tetapi di pertandingan terakhir, flare lah apa dan yang lebih parahnya lagi adalah pertandingan yang disaksikan oleh delegasi fifa di penutupan di Bandung. Bahkan rumput dihancurkan dan sebagainya," ucap Ferry. (nis/nik)

Editor : Niko auglandy
#Super League #persis solo #liga 1