RADARSOLO.COM -Gagal membawa Timnas Indonesia melangkah ke Piala Dunia 2026, Patrick Kluivert resmi angkat kaki dari kursi pelatih kepala.
Keputusan PSSI tersebut langsung menjadi perbincangan publik, termasuk di kalangan sesama pelatih asal Belanda.
Salah satunya datang dari kompatriotnya, Peter de Roo. Juru taktik Persis Solo itu memilih berhati-hati menanggapi keputusan federasi. Ia enggan menilai apakah langkah pemutusan kerja sama dengan Kluivert sudah tepat atau sebaliknya.
“Yang saya tahu, pelatih selalu dinilai berdasarkan hasil. Kelemahan dari hal tersebut adalah keputusan itu tidak selalu bijaksana,” ujar Peter saat ditemui awak media.
Pelatih berlisensi UEFA Pro itu menilai, membangun tim ideal tak bisa diukur hanya dari hasil di papan skor. Proses adaptasi terhadap gaya bermain baru justru membutuhkan waktu.
“Datang ke klub baru, lalu mengubah gaya bermain, itu tidak akan langsung membaik di hari pertama. Memperkenalkan gaya bermain baru biasanya akan memburuk dulu sebelum membaik. Jadi sebagai pengambil keputusan, Anda juga harus menganalisis proses, bukan hanya hasil,” jelasnya.
Meski begitu, Peter memahami realitas dunia kepelatihan. Hasil pertandingan tetap menjadi tolok ukur utama dalam menilai kinerja seorang pelatih.
“Tapi saya tidak bisa menilai apakah itu benar atau tidak. Namun dari sudut pandang luar, begitulah cara saya melihatnya. Tapi pada akhirnya, hasil jadi ukuran — begitulah cara kerjanya,” tandasnya. (nis/nik)
Editor : Niko auglandy