Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

BONGKAR ARSIP: Kisah dibalik Gagalnya Persis Solo vs Tim Hindia Belanda, Tukang Cukur dan Penjual Sate Dadakan Disuruh Main

Niko auglandy • Senin, 27 Oktober 2025 | 04:09 WIB

 

ilustrasi seseorang tengah mengajah penjual sate, tukang kebun dan pemotong rambut untuk bermain bola.
ilustrasi seseorang tengah mengajah penjual sate, tukang kebun dan pemotong rambut untuk bermain bola.

RADARSOLO.COM - Sebelum Indonesia merdeka, sepak bola bukan sekadar hiburan. Ia menjadi arena perlawanan, tempat rakyat bisa bersuara tanpa senjata. Namun, bahkan di lapangan hijau, ketimpangan antara penjajah dan pribumi tetap terasa kuat.

Redaktur olahraga Jawa Pos Radar Solo, Nikko Auglandy, menemukan catatan menarik yang menggambarkan bagaimana kelicikan pihak Belanda sempat mempermalukan bond pribumi pada tahun 1935.

Kisah ini ditemukan, salah satunya yang dibahas oleh buku Soeratin Sosrosoegondo: Menentang Penjajahan Belanda Dengan Sepak Bola Kebangsaan karya Eddi Elison dan Politik dan Sepak Bola di Jawa 1920-1942 karya Sri Agustina Palupi.

Kala itu, dikisahkan NIVB (Nederlandsch Indische Voetbal Bond/federasi sepak bola Hindia Belanda pesaing PSSI) sepakat menggelar laga persahabatan melawan Persis Solo.

Panitia sudah bekerja keras menyiapkan segala keperluan: dari lapangan hingga tiket yang ludes diserbu penonton. Antusiasme warga Solo luar biasa—karena hanya di pertandingan sepak bola mereka bisa meluapkan sumpah serapah kepada penjajah, tanpa takut ditangkap.

Namun, kejadian tak terduga terjadi di hari pertandingan. Ketika penonton mulai memenuhi stadion, induk sepak bola Belanda (NIVB) tiba-tiba melarang klub anggotanya bertanding melawan tim pribumi yang bernaung di bawah PSSI.

Panitia pun panik. Pertandingan terancam batal, sementara ribuan pasang mata sudah menunggu di tribun.

Di tengah situasi genting itu, secercah harapan datang dari PSIM Jogja. Klub sesama anggota PSSI itu bersedia datang ke Solo sebagai pengganti kesebelasan Belanda.

Meski pertandingan harus ditunda beberapa jam, tak satu pun penonton beranjak. Mereka menunggu dengan sabar, demi melihat tim pribumi tetap bertanding di tanah sendiri.

Kehadiran PSIM di Stadion Sriwedari bukan hal mudah. Di balik layar, ada kerja keras Soeratin—pendiri PSSI—bersama istrinya, Sri Woelan. Ketua Persis saat itu, dr. Sahir, meminta langsung bantuan kepada Soeratin agar mencari tim pengganti.

Sri Woelan dan istri dr. Sahir berjuang ke sana kemari, menyisir kota demi mengumpulkan para pemain PSIM yang tengah sibuk dengan keseharian mereka. Ada yang berprofesi sebagai penjual sate, tukang cukur, tukang kebun, bahkan sais delman.

Namun berkat kegigihan dan semangat kebangsaan, mereka akhirnya berhasil membentuk tim darurat untuk turun ke lapangan Sriwedari.

Pertandingan itu pun tetap berlangsung, menjadi simbol perlawanan rakyat lewat sepak bola. Sebuah kisah yang menunjukkan, bahkan ketika dijegal dan dicurangi, semangat pribumi untuk berdiri sejajar tidak pernah padam. (*)

Editor : Niko auglandy
#Timnas Hindia Belanda #persis solo #NIVB