RADARSOLO.COM – Deg! Hantaman keras melayang ke kubu Persis Solo. Bukan pukulan fisik yang mendarat, melainkan kekalahan yang menyesakkan dada.
Melawan 10 pemain, Laskar Sambernyawa –sebutan Persis Solo– tetap keok dengan skor 2-0 (1-0) di tangan Persib Bandung pada matchday ke-10 Liga 1 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Senin (27/10) malam.
Statistiknya jomplang. Anak asuh Peter de Roo hanya unggul dalam penguasaan bola, dengan torehan 63 persen.
Di luar itu, nihil. Persis mati kutu. Nol tembakan mengarah ke gawang jadi catatan paling menyesakkan.
Sepanjang laga, Persis hanya mampu menciptakan dua peluang – itu pun melenceng jauh.
Sebaliknya, Persib Bandung yang bermain pincang justru tampil efektif. Luciano Guaycochea, pencetak gol pertama Maung Bandung, harus mandi lebih cepat setelah menekel Kodai Tanaka.
Lewat tinjauan VAR, wasit mengganjarnya dengan kartu merah.
Namun keunggulan jumlah pemain tak membawa berkah bagi Persis. Justru gawang Muhammad Riyandi kembali bobol.
Kerja sama apik Beckham Putra dan Ulliam Barros membuat Persib memperlebar keunggulan menjadi 2-0 pada menit ke-48. Skor itu bertahan hingga peluit panjang dibunyikan.
“Ini hantaman yang luar biasa. Ketika kamu bermain melawan 10 orang dan kamu sulit untuk membuat gol,” ujar Sutanto Tan, perwakilan pemain Persis Solo, usai laga.
Sutanto mengakui, timnya kesulitan menembus rapatnya lini belakang Persib yang tetap kokoh meski bermain dengan 10 pemain.
“Mereka membuat compact defence yang bagus. Di situ kami sebenarnya butuh beberapa hal, salah satunya kreativitas. Kami agak kesulitan di sana. Sebagai pemain, tentu kecewa. Tapi apa yang bisa saya perbuat kalau tidak berkembang di pertandingan berikutnya,” tegasnya.
Senada, pelatih kepala Peter de Roo juga mengaku kecewa.
Dia menyebut Persib tampil dengan pertahanan yang sangat disiplin.
“Saya sudah tahu datang ke sini melawan tim yang back-to-back juara pasti akan sulit. Salah satu kesulitan kami adalah mengontrol laga di awal. Persib bisa mencetak gol dari skema yang tidak kami perkirakan, " ucap Peter.
“Meskipun Persib tadi mendapatkan kartu merah, mereka bermain dengan lini pertahanan yang begitu bagus dan kami tidak banyak melakukan penetrasi ke daerah lawan,” lanjutnya.
De Roo menambahkan, setelah turun minum, anak asuhnya kembali kesulitan mengontrol permainan. Lini pertahanan juga tak rapi dan sering melakukan kesalahan mendasar.
“Seperti yang dibilang tadi, mungkin 50:50. Ketika melawan Persib, orang pasti akan bilang kemungkinan besar akan kalah karena mereka jauh lebih baik dibandingkan kami. Tapi kami sudah mencoba yang terbaik, hanya saja hasilnya belum sesuai harapan,” pungkasnya. (nis/nik)
Editor : Niko auglandy