Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Kisah Tur Ferroviario Mozambik ke Indonesia Part #6: Stadion Sriwedari Solo Menggema, Timnas Indonesia B Beri Pembelajaran Berharga

Niko auglandy • Minggu, 18 Januari 2026 | 12:15 WIB
Ilustrasi pertandingan klub Ferroviário asal Mozambik di Indonesia, 1955 silam
Ilustrasi pertandingan klub Ferroviário asal Mozambik di Indonesia, 1955 silam

RADARSOLO.COM - Usai melakoni rangkaian laga panjang di Jakarta, Bandung, Padang, hingga Surabaya, klub asal Mozambik Ferroviário akhirnya menggeser perjalanan turnya ke Stadion Sriwedari, Kota Solo pada 1 Januari 1956, dalam turnya di Indonesia saat itu. 

Dalam pertandingan tersebut, Timnas Indonesia B harus mengakui keunggulan Ferroviário dengan skor 2-4, setelah babak pertama berakhir imbang 1-1.

Timnas Indonesia B menurunkan komposisi pemain dari berbagai daerah. Djudju asal Padang dipercaya mengawal gawang. Lini belakang diisi Latandang (Makassar), Idris (Padang), Rukma (Bandung), Marjoso (Pati), dan Willy (Padang).

Sementara sektor serang mengandalkan Sjamsuddin (Medan), Kian An (Semarang), San Liong (Surabaya), serta Anwar Daulay (Medan).

Di babak kedua, pelatih memasukkan Lateko (Bandung) dan Danu (Semarang) untuk menambah daya gedor.

Pertandingan berjalan seimbang sejak awal. Timnas Indonesia B membuka keunggulan lebih dulu lewat gol Sjamsuddin pada menit ke-17. Namun, Ferroviário mampu menyamakan kedudukan pada menit ke-30 melalui Viani, sehingga skor 1-1 bertahan hingga turun minum.

Memasuki babak kedua, Ferroviário tampil lebih efektif. Amaral membawa tim tamu berbalik unggul pada menit ke-60.

Timnas Indonesia B sempat bangkit ketika Anwar Daulay mencetak gol penyeimbang pada menit ke-70. Harapan publik Sriwedari kembali menyala.

Namun, keunggulan mental dan ketajaman Ferroviário menjadi pembeda.

Mereka mengambil alih kendali permainan dan menambah dua gol lewat pemain pengganti, yang memastikan kemenangan 4-2 bagi klub asal Mozambik tersebut.

Catatan Java Bode: Finishing Jadi Pembeda

Koran berbahasa Belanda Java Bode edisi 2 Januari 1956 mencatat laga ini sebagai kemenangan kedua Ferroviário selama tur di Indonesia.

Dalam laporannya disebutkan, kedua tim bermain relatif seimbang, terutama di babak pertama.

Namun, penyelesaian akhir Ferroviário dinilai jauh lebih baik dibanding Timnas Indonesia B. Java Bode menyoroti solidnya kerja sama pemain PSSI-B, tetapi lemahnya finishing membuat banyak peluang terbuang sia-sia.

Media tersebut juga mencatat bahwa setelah skor kembali imbang di babak kedua, Ferroviário tampil lebih dominan dan konsisten mengambil inisiatif serangan hingga memastikan kemenangan di Stadion Sriwedari.

Laga ini sekaligus menutup perjalanan Ferroviário di Indonesia—sebuah tur yang meninggalkan jejak penting dalam sejarah awal sepak bola internasional di Tanah Air. (bersambung ke part #7)

Editor : Niko auglandy
#mozambik #solo #Ferroviario #indonesia #Stadion Sriwedari