Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Tiga Kali Tersandung Bursa Transfer, Janji Kehati-hatian Persis Solo Masih Dipertanyakan

Hernindya Jalu Aditya Mahardika • Minggu, 8 Februari 2026 | 22:19 WIB
Clayton Da Silveira Da Silva resmi jadi pemain baru Persis Solo.
Clayton Da Silveira Da Silva resmi jadi pemain baru Persis Solo.

RADARSOLO.COM – Bursa transfer paruh musim BRI Super League 2025/2026 resmi ditutup pada 6 Februari lalu.

Seiring berakhirnya periode tersebut, Persis Solo memastikan proses perombakan skuad yang mereka lakukan untuk menghadapi putaran kedua kompetisi telah rampung. Fokus klub kini diarahkan sepenuhnya pada persiapan tim di sisa musim kompetisi.

Dalam periode transfer tersebut, Laskar Sambernyawa tercatat mendatangkan total 11 pemain asing.

Langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi memaksimalkan kuota pemain asing sesuai regulasi liga. Manajemen berharap komposisi baru tersebut mampu mendongkrak performa tim pada paruh kedua musim.

Namun, dinamika perekrutan pemain asing kembali menghadirkan tantangan tersendiri bagi Persis Solo. Kasus terbaru datang dari striker asal Brasil, Clayton da Silveira da Silva.

Pemain berusia 30 tahun itu dinyatakan tidak memenuhi syarat untuk tampil di BRI Super League setelah proses verifikasi oleh PSSI.

Persis Solo sejatinya telah meresmikan kedatangan Clayton pada Sabtu (31/1/2026) melalui akun Instagram resmi klub.

Akan tetapi, empat hari berselang, klub kembali mengumumkan bahwa sang pemain tidak dapat diregistrasi untuk paruh kedua kompetisi.

Situasi ini membuat Persis harus mengambil langkah lanjutan dalam waktu singkat.

Berdasarkan informasi yang berkembang, kendala utama dalam proses verifikasi Clayton berkaitan dengan klub terakhir yang dibelanya, Diamond Harbour.

Klub tersebut berkompetisi di kasta kedua Liga India, sementara regulasi hanya memperbolehkan pemain dari kasta tertinggi India Super League untuk berkiprah di Indonesia Super League. Faktor tersebut menjadi salah satu dasar keputusan federasi.

Melalui kanal resmi klub, manajemen Persis Solo menyampaikan bahwa berbagai upaya telah dilakukan untuk meregistrasi Clayton.

Manajemen menegaskan bahwa sang pemain tidak pernah tampil di kompetisi kasta kedua Liga India karena liga tersebut tidak digulirkan pada musim 2025/2026 akibat permasalahan sponsor.

Clayton disebut hanya bermain dalam laga eksibisi bersama Diamond Harbour.

Status kompetitif terakhir Clayton sendiri tercatat bersama Perak FC di Malaysia Super League. Meski demikian, penjelasan tersebut belum cukup mengubah keputusan federasi.

Persis Solo akhirnya memilih untuk menghormati regulasi yang berlaku sembari mencari solusi terbaik bagi semua pihak.

Sebagai langkah lanjutan, manajemen memutuskan untuk meminjamkan Clayton ke PSMS Medan.

Keputusan ini diambil agar sang pemain tetap mendapatkan menit bermain, sekaligus menghindari situasi yang dapat merugikan pemain maupun klub.

Persis Solo menilai langkah tersebut sebagai solusi paling realistis dalam kondisi yang ada.

Akibat insiden ini, banyak pihak khususnya suporter menganggap manajemen tidak belajar dari kesalahan-kesalahan sebelumnya.

Padahal manajemen sendiri juga sudah menyatakan akan kehati-hatian dalam transfer yang akan mereka lakukan.

"Yang ada kita bisa belajar dari pengalaman tahun kemarin, sampai hari ini juga. Banyak kok teman-teman tanya ke saya via media sosial dan segala macamnya. Ojo kapusan brosur lagi," ucap Ginda Ferachtriawan Direktur Persis Solo kepada tim Jawa Pos Radar Solo.

Insiden ini menjadi torehan buruk Persis Solo karena ini ketiga kalinya terlibat masalah dalam perekrutan pemain.

Di awal musim 2025/2026, Persis Solo sudah terlibat dua masalah terkait transfer pemain, yakni Fuad Sule dan Mateo Kocijan.

Di awal musim, Persis Solo mendatangkan Fuad Sule untuk memperkuat lini tengah mereka menghadapi BRI Super League 2025/2026.

Namun beberapa hari berselang, pihak Persis Solo baru mengetahui bahwa Fuad Sule datang dengan membawa sanksi larangan bertanding yang berlaku di seluruh dunia.

Akibat sanksi tersebut, Fuad Sule harus terpinggirkan selama 9 laga pertama.

Untuk mengatasi masalah Fuad Sule, pihak Laskar Sambernyawa merekrut pemain dengan posisi serupa, yakni Mateo Kocijan yang didatangkan pada detik-detik akhir bursa transfer. Namun pemain Kroasia tersebut justru tidak pernah datang ke Solo.

Insiden ini jelas membuat manajemen Persis Solo dan pelatih saat itu, Peter de Roo marah besar dan menegur sang pemain.

Alasan Kocijan tak menginjakkan kaki di Solo, ternata tersiar kabar dari media Kroasia bahwa sang pemain sudah tergabung dengan mantan klubnya di sana, yakni NK Tehnicar 1974.

Rentetan persoalan tersebut menegaskan bahwa dinamika transfer tidak hanya soal agresivitas mendatangkan pemain, tetapi juga ketepatan administrasi dan ketelitian dalam membaca regulasi.

Persis Solo kini dihadapkan pada tuntutan untuk memperkuat koordinasi teknis dan nonteknis agar perombakan skuad tidak kembali tersendat oleh persoalan di luar lapangan.

Dengan bursa transfer yang telah resmi ditutup, ruang koreksi kini sepenuhnya berada pada optimalisasi materi yang ada.

Persis Solo tidak lagi memiliki pilihan selain memastikan stabilitas tim dan fokus pada target kompetitif di sisa musim BRI Super League 2025/2026, sembari menjadikan rangkaian kasus transfer ini sebagai catatan evaluasi penting bagi langkah klub ke depan. (hj/nik) 

Editor : Niko auglandy
#Bursa Transfer #Super League #persis solo #liga 1