RADARSOLO.COM - Momentum 26 tahun berdirinya Pasoepati dimaknai bukan sekadar perayaan seremonial. Usia tersebut menjadi ruang refleksi atas perjalanan panjang kelompok suporter Persis Solo yang telah melewati berbagai fase dinamika sepak bola nasional. Pada titik ini, Pasoepati menegaskan komitmen untuk berbenah dan memperkuat peran strategisnya sebagai elemen pendukung klub.
Dalam perayaan tahun ini, Pasoepati mengusung slogan “2angkul Kem6ali”. Slogan tersebut dipilih bukan tanpa makna, melainkan sebagai simbol semangat rekonsiliasi dan persatuan antarsuporter. Langkah ini sekaligus menjadi penanda arah gerak Pasoepati ke depan.
Presiden DPP Pasoepati Arif Djodi Purnomo menjelaskan, slogan tersebut mengandung pesan kuat untuk kembali merangkul seluruh elemen suporter. Tidak hanya di lingkup internal, tetapi juga secara nasional. Tujuannya adalah membangun kembali jalinan silaturahmi yang lebih harmonis.
“Makna 26 kami artikan dengan slogan 2angkul Kem6ali, dengan harapan bisa kembali merangkul arus bawah serta hubungan silaturahmi dengan seluruh suporter se-Indonesia,” ujar Arif.
Dia menambahkan, langkah tersebut juga ditujukan untuk memperkuat hubungan antarelemen suporter di Kota Solo. Dengan demikian, potensi gesekan bisa ditekan sejak dini.
Sebagai kelompok suporter yang tergolong senior, Pasoepati menyadari posisinya memiliki tanggung jawab moral yang besar. Kedewasaan dalam bersikap menjadi nilai penting yang terus didorong di internal organisasi. Hal itu dinilai penting demi menjaga iklim sepak bola yang sehat.
Arif menegaskan, edukasi terhadap anggota menjadi salah satu fokus utama Pasoepati saat ini. Menurutnya, suporter tidak cukup hanya fanatik terhadap klub, tetapi juga harus mampu bersikap dewasa dan peka terhadap lingkungan sosial.
“Kami berharap semua anggota bisa lebih dewasa, berguna, serta peka terhadap kondisi di masyarakat dan dunia suporter,” tegasnya.
Evaluasi internal pun menjadi agenda yang terus berjalan. Pasoepati menilai proses belajar dari pengalaman masa lalu merupakan bagian penting dalam perjalanan organisasi. Dengan cara tersebut, kesalahan yang sama tidak kembali terulang.
“Evaluasi kami adalah belajar, berkaca, dan selalu berbenah agar bisa menjadi suporter yang lebih baik,” kata Arif.
Dia menekankan bahwa proses tersebut ditujukan untuk membentuk karakter suporter yang bertanggung jawab. Tidak hanya dalam konteks mendukung tim, tetapi juga dalam kehidupan sosial.
Peran Pasoepati tidak berhenti di tribun stadion. Kelompok suporter ini juga aktif mengambil bagian dalam berbagai kegiatan sosial, baik di lingkungan suporter maupun masyarakat umum. Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya menanamkan nilai empati kepada anggota.
“Kami berperan dalam segala ranah sosial masyarakat, baik suporter maupun masyarakat umum,” ujar Arif.
Menurutnya, penanaman jiwa sosial penting agar anggota Pasoepati lebih peka terhadap kondisi lingkungan sekitar. Dengan begitu, keberadaan suporter bisa memberi dampak positif.
Memasuki usia ke-26 tahun, Pasoepati berharap dapat terus bertransformasi menjadi komunitas yang matang. Tidak hanya kuat dalam loyalitas terhadap Persis Solo, tetapi juga bijak dalam bersikap. Kedewasaan tersebut diyakini menjadi fondasi penting bagi masa depan suporter.
Arif menutup dengan harapan agar semangat 2angkul Kem6ali benar-benar terwujud dalam tindakan nyata. Dia ingin Pasoepati hadir sebagai perekat, bukan pemicu konflik.
“Harapan kami, harmonisasi antarsuporter bisa terjaga sehingga sepak bola menjadi ruang yang aman dan menyenangkan bagi semua,” pungkasnya. (hj/nik)
Editor : Niko auglandy