RADARSOLO.COM - Perombakan 17 pemain yang dilakukan Persis Solo pada paruh musim BRI Super League 2025/2026 dianggap tim kepelatihan Laskar Sambernyawa mulai menunjukkan dampak.
Namun, progres tersebut belum sepenuhnya memuaskan publik. Tekanan tetap mengarah ke kursi pelatih. Di tengah situasi itu, Pelatih kepala Persis Solo Milomir Seslija memilih berbicara terbuka soal proses yang sedang dibangunnya.
Menurut Milo -sapaan akrab Milomir Seslija-, banyak orang hanya melihat hasil akhir tanpa memahami kerja panjang di baliknya. Ia bahkan menyamakan situasinya dengan profesi wartawan yang bekerja berjam-jam untuk sebuah berita yang mungkin hanya dibaca beberapa menit.
“Orang-orang hanya melihat hasil akhirnya tapi tidak melihat bagaimana prosesnya seperti kalian yang bangun pagi menyiapkan sebuah berita dua sampai tiga jam dan hanya dibaca lima menit oleh mereka. Tapi kalian mengorbankan banyak waktu dengan keluarga untuk melakukan ini,” ujarnya dalam konferensi pers jelang laga kontra Madura United di Stadion Manahan.
Baginya, dalam sepak bola, pelatih adalah pihak paling rentan ketika hasil tidak sesuai harapan. Kritik dan serangan publik hampir selalu bermuara pada sosok di pinggir lapangan.
“Itulah kenapa titik terlemah dalam sepak bola adalah pelatihnya. Semua orang menyerang pelatihnya, itulah kenapa saya harus kuat. Semua berkata ini mustahil, saya tahu tekanannya dan karena itulah kami melakukannya,” tegasnya.
Perubahan drastis yang dilakukan Persis memang bukan tanpa risiko. Mengganti mayoritas komposisi skuad di tengah musim jelas menyisakan tantangan adaptasi taktik, pembentukan chemistry, hingga keseimbangan ruang ganti. Namun Milo menilai stagnasi justru lebih berbahaya.
Dia menyebut hasil imbang melawan PSIM sebagai bukti awal bahwa arah perubahan mulai terlihat. Meski belum menang, Persis mampu tampil lebih disiplin dan mengakhiri laga tanpa kebobolan.
“Namun jika semua sudah terjadi di arah yang diinginkan, semua akan menjadi lebih baik. Kami sudah melihat sedikit hasilnya di laga melawan PSIM. Tidak mudah menghadapi mereka dengan skuad berkualitas yang sudah bersama selama tujuh bulan lamanya,” jelasnya.
Selain berbicara soal tekanan, Milo juga menyinggung dinamika internal tim. Kedatangan sejumlah penyerang anyar, termasuk rencana bergabungnya Febri Hariyadi, diyakini akan meningkatkan level persaingan dalam skuad.
“Saya rasa kami sudah melakukannya dengan baik, tapi kami tidak memenangkan laga. Sekarang kami memiliki penyerang baru dan juga Febri akan datang. Itu artinya para pemain lainnya harus meningkatkan level, tidak ada lagi zona nyaman,” ujarnya.
Namun situasi tersebut menghadirkan dilema tersendiri. Dengan tujuh pemain asing yang bisa dimainkan, dia harus membuat keputusan sulit terhadap beberapa pemain lokal yang tampil cukup baik dalam beberapa laga terakhir.
“Sekarang kami harus menyeimbangkan susunan pemain. Kami memiliki tujuh pemain asing dan harus mengorbankan beberapa pemain lokal yang bermain fantastis. Saya tidak ingin menyebutkan nama, tapi ada tiga sampai empat pemain yang berkembang sangat baik dan juga beberapa pemain akademi,” katanya.
Target utama tetap jelas yakni bertahan di liga. Dengan 13 pertandingan tersisa, Milo memilih pendekatan realistis dan bertahap. Ia menolak menyimpulkan terlalu dini sebelum seluruh proses dijalani.
“Kita harus bertahan di liga. Pertandingan sisa akan kami akan jalaninya satu demi satu. Setelah laga ini, kami bisa mendapatkan kesimpulan,” pungkasnya.
Kini publik Solo dihadapkan pada dua pilihan sudut pandang yakni menuntut hasil instan atau memberi ruang bagi proses yang tengah dibangun. Perombakan sudah dilakukan, risiko sudah diambil. Tinggal bagaimana sisa musim menjawab apakah keberanian itu berbuah keselamatan bagi Persis. (hj/nik)
Editor : Niko auglandy