RADARSOLO.COM - Hasil sidang Komite Disiplin (Komdis) PSSI pada 12 Februari 2026 menetapkan hukuman larangan beraktivitas selama tiga bulan dan denda Rp 30 juta kepada ofisial Malut United FC, Asghar Saleh.
Sanksi tersebut dijatuhkan setelah ia dianggap membuat pernyataan yang mendiskreditkan perangkat pertandingan dan persepakbolaan Indonesia melalui unggahan media sosial usai laga Persib Bandung kontra Malut United, 6 Februari 2026.
Unggahan itu berisi kritik keras terhadap keputusan wasit, termasuk soal penalti, penggunaan VAR, hingga jalannya pertandingan.
Komdis menyatakan bahwa pernyataan tersebut melanggar kode disiplin karena dinilai merugikan integritas kompetisi.
Namun Asghar tidak tinggal diam. Ia menilai proses sidang Komdis hanya formalitas sebelum hukuman dijatuhkan.
“Kritik dibungkam — para mafia menang,” tulisnya dalam unggahan panjang di Facebook, sesaat setelah menerima putusan.
“Sidang kurang lebih 20 menit dan saya sudah tahu arah sidang itu. Selama ini Komdis hanya pura-pura bersidang agar punya dasar menjatuhkan hukuman yang sudah disiapkan.”
Ia mengaku selama berkarier di dunia sepak bola sejak 2003, baru kali ini menjalani sidang Komdis, dan pengalaman itu menurutnya sulit dipahami.
Salah satu hal yang disorot adalah tidak adanya ruang klarifikasi yang memadai, seperti kasus yang ia singgung terkait hukuman untuk Yakob Sayuri.
“Asgar menilai keputusan itu dijatuhkan secara sepihak. Malut United bahkan tidak pernah dimintai penjelasan soal insiden di lorong pemain di Stadion Indomilk Arena,” tulisnya.
Dia bahkan mengklaim Yakob justru menjadi korban tindakan rasis dari oknum berompi media.
Tak berhenti di situ, Asghar mempertanyakan tudingan penghinaan terhadap dirinya. Ia menegaskan bahwa unggahan tersebut dibuat sebagai ekspresi pribadi, bukan mewakili jabatan resmi klub.
“Siapa yang saya hina? Para mafia yang saya sebut dalam postingan di akun ini. Saya menulis sebagai refleksi personal terhadap keburukan wasit dalam pertandingan yang disaksikan jutaan orang,” tegasnya.
Ia juga mempertanyakan alasan dirinya dianggap melanggar prinsip fair play. “Saya bukan pemain, bukan pelatih, atau pihak yang terlibat langsung dalam pertandingan. Tidak ada fair play yang saya langgar,” ujarnya.
Asghar turut menyinggung adanya nyanyian bernada penghinaan terhadap Malut United sepanjang laga yang menurutnya tidak mendapat perhatian Komdis.
“Dengarkan makian ‘Malut Anjing’ atau ‘Gustafo Anjing’ yang dinyanyikan sepanjang laga. Apa sikap Komdis? Saya menduga jawabannya: tidak ada laporan,” tulisnya lagi.
Ia pun menyentil potensi diskriminasi yang masih dialami tim-tim Indonesia Timur.
“Saya makin yakin ada ketidakadilan dalam proses ini,” ucapnya.
Secara resmi, Asghar menyatakan pamit sementara dari aktivitas yang berada di bawah federasi selama masa larangan tiga bulan.
Meski begitu, ia menegaskan dukungannya kepada Malut United tidak akan berhenti.
“Saya juga akan terus mengkritik segala sesuatu yang tidak benar dalam sepak bola Indonesia. Kalau kritik dibungkam dengan hukuman dan denda, maka saya akan terus melawan dengan akal sehat,” pungkasnya.
Editor : Niko auglandy