
RADARSOLO.COM - Sejarah sepak bola Indonesia tidak bisa dilepaskan dari berdirinya Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia atau PSSI. Dirikan 1930, ternyata lambat laun jumlah anggotanya terus bertambah
Organisasi PSSI lahir di Jogjakarta pada 19 April 1930 atas prakarsa Ir. Soeratin Sosrosoegondo yang kemudian dipercaya menjadi ketua umum pertama.
Pada masa itu, sepak bola di Hindia Belanda masih didominasi organisasi bentukan pemerintah kolonial, yakni Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB) yang kemudian 1935-1940an berubah menjadi Nederlandsch Indische Voetbal Unie (NIVU).
Klub-klub pribumi nyaris tidak memiliki ruang dalam kompetisi yang mereka kelola. Situasi inilah yang mendorong lahirnya PSSI, bukan hanya sebagai organisasi olahraga, tetapi juga sebagai sarana mempersatukan bangsa melalui sepak bola.
Baca Juga: Hilang Kontak saat Hendak Servis Mobil, Remaja Asal Pamekasan Ditemukan Meninggal di Ceper Klaten
Sejak awal berdiri, PSSI langsung mendapat dukungan dari sejumlah bond atau perkumpulan sepak bola pribumi di berbagai daerah. Tercatat ada tujuh bond yang menjadi anggota pendiri.
Mereka adalah VIJ Jakarta yang kini dikenal sebagai Persija Jakarta, kemudian BIVB Bandung yang kelak menjadi Persib Bandung. Dari Yogyakarta hadir Persatuan Sepakraga Mataram (PSM) yang kemudian berkembang menjadi PSIM Jogja.
Baca Juga: Bansos PKH-BPNT Tahap 2 2026 Cair Kapan? Begini Cara Cek Status Penerima Resmi Lewat HP
Selain itu ada pula Vorstenlandsche Voetbal Bond (VVB) yang kini dikenal sebagai Persis Solo, kemudian Madioensche Voetbal Bond (MVB) yang berkembang menjadi PSM Madiun. Dari Magelang hadir Indonesische Voetbal Bond Magelang (IVBM) yang kini dikenal sebagai PPSM Magelang, serta Soerabajasche Indonesische Voetbal Bond (SIVB) yang kemudian menjadi Persebaya Surabaya.
Keberadaan tujuh bond tersebut menjadi fondasi awal berkembangnya PSSI. Dalam perjalanan berikutnya, semakin banyak perkumpulan sepak bola dari berbagai daerah yang tertarik bergabung. Sepak bola perlahan menjadi ruang pertemuan masyarakat pribumi dari berbagai wilayah.
Perkembangan itu terlihat jelas saat satu dekade setelah PSSI berdiri. Dalam arsip koran Berita PSSI edisi Maret 1940 yang didapat Jawa Pos Radar Solo, disebutkan bahwa jumlah anggota organisasi ini telah meningkat menjadi 20 bond. Beberapa di antaranya adalah Persibo Bogor, Persib Bandung, VIJ Jakarta, Persitas Tasikmalaya, PSIT Cirebon, Persibas Purwokerto, hingga PSKS Purworejo.
Selain itu terdapat pula bond lain seperti PPSM Magelang, PSIM Yogyakarta, PSIA Ambarawa, PSISa Salatiga, Persik Klaten, Persis Solo, Ksatrya Sragen, PSM Madiun, Rens Bojonegoro, Persibaja Surabaya, PSBI Blitar, Persim Malang, hingga PSIS Semarang.
Baca Juga: Puluhan Bangunan KDMP di Wonogiri Sudah Berdiri Megah, Belum Ada yang Terima Mobil Operasional
Menariknya, dalam arsip tersebut juga dijelaskan struktur anggota di masing-masing bond. Salah satu yang memiliki anggota terbanyak adalah PSIM Yogyakarta. Klub yang saat itu berkantor di kawasan Langenastran tersebut tercatat memiliki 16 perkumpulan anggota (tim internal), di antaranya RAS, NAS, HW, Sinar Matahari, Browidjojo, IMS, FVC, Sparta, JES, PSKM, Sangkoro Moedo, PKM, HKS, Saroetama, WM, hingga Semoet Ireng.
Sementara itu Persis Solo yang bermarkas di Keprabon juga memiliki sejumlah anggota internal, antara lain PS Romeo, HW, Mars, IM, Sinarkota, Garoeda, dan ARS. Di daerah Klaten, Persik Klaten yang sebelumnya bernama PSIK juga tercatat memiliki beberapa anggota seperti PS MOS, Sinar Klaten, dan HW.
Baca Juga: Membanggakan, Indonesia Bawa Pulang 9 Medali dari Kejuaraan Para Balap Sepeda Asia 2026
Ada pula bond bernama Ksatrya Sragen yang kini sudah tidak aktif lagi. Pada masa itu bond tersebut memiliki lima anggota inti, yakni PS Mans, KBI, Persik, HWI, dan Marm, serta satu anggota luar biasa bernama PS Chung Hua (klub etnis tionghoa).
Sementara dari Magelang, PPSM Magelang yang berkantor di Botton Koen No. 419 juga memiliki beberapa anggota seperti Alva, Mosvia, SPPI, AR, Mars, TSH, dan Chung Hua.
Sejarah tersebut menunjukkan bahwa sejak awal berdirinya, PSSI tidak hanya menjadi organisasi pengelola sepak bola. Lebih dari itu, PSSI menjadi wadah yang menyatukan berbagai perkumpulan pribumi dari banyak daerah di Hindia Belanda. Sepak bola pun berkembang bukan sekadar sebagai olahraga, tetapi juga sebagai simbol kebersamaan dan identitas bangsa. (nik)
Editor : Niko auglandy