RADARSOLO.COM – Persis Solo harus menelan kekalahan 0-2 saat menghadapi Arema FC di Stadion Kanjuruhan, Sabtu, 18 April 2026.
Namun, bukan hanya hasil pertandingan yang menjadi sorotan. Pelatih Persis Milomir Seslija, justru menyoroti atmosfer stadion yang dinilainya berbeda dari biasanya.
Dalam sesi konferensi pers usai laga, Milo mengungkapkan kekagumannya terhadap kondisi stadion yang kini terlihat lebih baik, terutama kualitas lapangan. Namun, ia menyayangkan minimnya kehadiran suporter yang membuat suasana terasa “kosong”.
“Stadion sekarang terlihat sangat luar biasa, dan menurut saya ini salah satu lapangan terbaik di Indonesia. Tapi tidak ada ambience, tidak ada Aremania,” ujarnya.
Baca Juga: RASOHISTORI, 18 April 2011: Gol Menit 59 Jadi Petaka buat Persis Solo
Menurutnya, sepak bola tanpa kehadiran suporter kehilangan esensi utamanya. Ia bahkan membandingkan kondisi tersebut dengan yang sempat dialami Persis Solo saat bermain tanpa dukungan penuh dari fans.
“Sepak bola tanpa fans itu tidak ada apa-apa, terutama di Indonesia. Atmosfer itu yang memaksa pemain tampil lebih dan memberikan segalanya di lapangan,” lanjutnya.
Milo juga menilai bahwa kehadiran suporter memiliki peran besar dalam meningkatkan performa tim. Dia mengaku pernah merasakan langsung bagaimana ribuan pendukung datang bahkan saat sesi latihan.
“Ketika saya melatih, ada 3.000 sampai 4.000 fans datang ke latihan. Itu yang sekarang hilang dari Arema. Saat Aremania kembali, mereka bisa jadi kekuatan besar,” tegasnya.
Ia bahkan menyebut bahwa Persis Solo memiliki basis suporter yang luar biasa. Dalam kondisi normal, dukungan bisa mencapai puluhan ribu dan sangat berpengaruh terhadap performa tim di lapangan.
Situasi ini juga berkaitan dengan kondisi yang tengah dialami Persis Solo. Akibat kericuhan suporter saat laga tandang melawan Persijap Jepara, Persis mendapatkan sanksi dari PSSI.
Sanksi tersebut berupa dua pertandingan tanpa penonton saat melawan Semen Padang dan Bhayangkara FC, serta dua laga berikutnya melawan Persija Jakarta dan Dewa United dengan pembatasan kehadiran suporter. Tepatnya hanya tribun timur dan barat yang dibuka, sementara tribun utara dan selatan harus ditutup.
Kondisi ini membuat Milo merasa miris. Baginya, sepak bola Indonesia memiliki kekuatan besar pada dukungan suporter, dan tanpa itu, pertandingan terasa kehilangan ruhnya.
“Di Indonesia, sepak bola tanpa suporter itu aneh. Banyak pemain berkembang karena dukungan fans. Tanpa mereka, sepak bola terasa sia-sia,” pungkasnya. (nik)
Editor : Niko auglandy