Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Perjuangan Persis Solo Agar Tak Terdegradasi Jadi Cermin Kompetitor, Bernardo Tavares Dorong Federasi Ciptakan Lebih Banyak Turnamen

Hernindya Jalu Aditya Mahardika • Senin, 11 Mei 2026 | 15:11 WIB
Gelandang Persis Solo Zanadin Fariz saat melawan Persebaya Surabaya di Stadion Manahan,Sabtu (9/5/2026). (TIM MEDIA PERSIS SOLO)
Gelandang Persis Solo Zanadin Fariz saat melawan Persebaya Surabaya di Stadion Manahan,Sabtu (9/5/2026). (TIM MEDIA PERSIS SOLO)

RADARSOLO.COM – Nasib  yang semakin dekat ke jurang degradasi tak hanya membuat Persis Solo dan pendukungnya bimbang setengah mati. Situasi ini juga menyisakan ketegangan di papan bawah klasemen Super League saat ini.

Perjuangan Persis Solo agar tak terdegradasi juga memunculkan refleksi tim lainnya, tentang kerasnya struktur kompetisi sepak bola nasional.

Pelatih Persebaya Surabaya Bernardo Tavares menilai situasi yang dialami Laskar Sambernyawa menjadi gambaran betapa ketatnya persaingan di Liga Indonesia.

Hasil imbang 0-0 pada pekan ke-32 Super League 2025/2026 di Stadion Manahan, Sabtu (9/5/2026), membuat Persis Solo belum mampu keluar dari ancaman degradasi. Dengan dua pertandingan tersisa, posisi tim asuhan Milomir Seslija kini semakin terjepit.

Baca Juga: Masuk dalam Grup Neraka AFC Asian Cup 2027, John Herdman: Jadi Jalan Indonesia Menuju Piala Dunia 2030

Situasi Persis kian rumit setelah Persijap Jepara berhasil mengalahkan Persita. Hasil itu membuat Persijap mengamankan posisi mereka, sementara Persis harus berharap Madura United gagal meraih poin menghadapi Bhayangkara FC, Senin (11/5/2026) agar peluang bertahan tetap terbuka.

Usai pertandingan, Bernardo Tavares ditanya mengenai situasi Persis Solo yang semakin dekat dengan zona merah. Meski menegaskan dirinya adalah pelatih Persebaya, juru taktik asal Portugal itu menyampaikan simpati kepada tim tuan rumah.

“Seperti yang Anda bayangkan, saya adalah pelatih Persebaya. Apa yang bisa saya katakan untuk Persis Solo, untuk pemain dan staf pelatih mereka, adalah semoga beruntung untuk pertandingan-pertandingan selanjutnya,” ujar Bernardo Tavares pada pers konferensi usai laga. 

Baca Juga: Tak Lagi Pegang Kendali, Milomir Seslija Serahkan Nasib Persis Solo ke Tim Pesaing

Namun, tanggapan Bernardo tak berhenti pada ucapan simpati. Dia justru menggunakan situasi Persis sebagai pintu masuk untuk menyoroti format kompetisi yang menurutnya sangat keras.

Menurut Bernardo, kompetisi di Indonesia hanya menyediakan satu ruang untuk kebahagiaan tertinggi, yakni gelar juara. Di sisi lain, tiga klub harus menerima kenyataan pahit turun kasta setiap musim.

“Kami tahu saat ini Liga Indonesia penuh drama karena hanya satu tim yang bisa juara dan tiga tim harus turun kasta,” katanya.

Pelatih berusia 45 tahun itu menilai sepak bola seharusnya tidak semata menghadirkan tekanan dan kecemasan. Lebih dari itu, sepak bola juga perlu memberikan lebih banyak peluang bagi klub untuk merasakan prestasi.

“Sepak bola harusnya membawa kebahagiaan,” tegasnya.

Baca Juga: Update Klasemen Liga 1 Usai Persib Bandung dan Persijap Jepara Menang: Borneo FC dan Persis Solo Tengah Cemas

Karena itu, Bernardo mengusulkan agar federasi dan operator kompetisi mempertimbangkan penyelenggaraan turnamen tambahan di luar liga reguler.

Menurutnya, ajang seperti Piala Presiden atau kompetisi berbentuk Piala Liga dapat menjadi alternatif agar lebih banyak klub memiliki kesempatan mengangkat trofi.

“Mungkin perlu ada lebih banyak piala seperti Piala Presiden atau Cup League agar lebih banyak klub yang bisa memenangkan sesuatu,” ungkapnya.

Baca Juga: Nasib Persis Solo Ternyata Kini Bergantung pada Madura United, Ternyata Ini Alasannya

Bagi Persis Solo, ucapan Bernardo menjadi refleksi bahwa kerasnya kompetisi dapat membuat satu musim penuh kerja keras berujung pada degradasi.

Nasib Laskar Sambernyawa kini tak sepenuhnya berada di tangan sendiri dan bergantung pada hasil tim pesaing di papan bawah.

Di tengah tekanan tersebut, Persis masih harus berjuang hingga pekan terakhir. Sementara itu, gagasan Bernardo Tavares membuka diskusi bahwa di balik ketatnya perebutan gelar dan ancaman degradasi, sepak bola Indonesia juga membutuhkan lebih banyak panggung agar lebih banyak klub dapat merasakan kebanggaan menjadi juara. (hj/nik) 

Editor : Niko auglandy
#Super League #persis solo #persebaya