RADARSOLO.COM – Persebi Boyolali lolos ke babak 32 besar Liga 4 Nasional Piala Presiden 2026. Laskar Pandanarang akan menantang Wamena United, Celebest FC Palu, dan Persada Sumba Barat Daya di grup U.
Kesuksesan lolos dari babak 64 besar, ternyata memunculkan banyak catatan. Tim kepelatihan menegaskan hasil di laga sebelumnya belum membuat tim pelatih berpuas diri. Seperti kita ketahui, Persebi lolos usai tak terkalaHkan di babak 64 besar. Setelah menjalani dua kemenangan kontra Persipani Paniai (1-0) dan Persindra Indramayu (3-0). Ditambah ditahan imbang Persika 1951 Karawang 1-1.
Salah satu evaluasi utama datang dari sektor penyelesaian akhir. Dalam laga terakhir melawan Persindra Indramayu di Stadion Kebo Giro Boyolali, Sabtu (6/6/2026), Laskar Pandan Arang mampu menciptakan sejumlah peluang berbahaya. Namun, banyaknya peluang tersebut belum berbanding lurus dengan jumlah gol yang berhasil dicetak. Beberapa kesempatan emas justru terbuang sia-sia di depan gawang lawan.
Kondisi itu turut menjadi perhatian penyerang Persebi, Rizki Kurniawan. Menurutnya, persoalan utama tim bukan terletak pada proses membangun serangan, melainkan saat memasuki fase akhir penyelesaian peluang.
Dia menilai para pemain masih kurang tenang ketika berada di depan gawang lawan. Akibatnya, peluang yang seharusnya bisa dikonversi menjadi gol justru berakhir gagal.
"Ya sebetulnya kita kurang tenang aja sih di depan gawang, itu aja," ujar Rizki kepada media.
Pemain depan Persebi tersebut berharap aspek ketenangan dalam penyelesaian akhir bisa terus diasah dalam sesi latihan menjelang pertandingan berikutnya.
Menurutnya, peningkatan kualitas finishing menjadi salah satu kebutuhan mendesak apabila Persebi ingin berbicara lebih jauh di kompetisi nasional musim ini.
"Lebih tenang lagi mungkin pertandingan ke depan untuk kita lebih diasah lagi dan kita mungkin lebih banyak finishing lagi untuk menatap pertandingan berikutnya. Memang kendalanya adalah di finishing," lanjutnya.
Hal senada disampaikan pelatih Persebi, Indriyanto Nugroho. Mantan striker timnas Indonesia itu mengungkapkan bahwa materi latihan penyelesaian akhir sebenarnya sudah rutin diberikan kepada para pemain sejak awal kompetisi.
Meski demikian, dia mengakui situasi pertandingan sering kali berbeda dengan latihan. Faktor tekanan dan rasa gugup kerap memengaruhi keputusan pemain ketika mendapatkan peluang emas.
"Karena selama ini dari awal pun kita sudah ngajarin mereka finishing, tapi ya itu tadi, di sepak bola kita tidak bisa. Kadang gawang sudah kosong tapi namanya kita nervous bisa saja terjadi," katanya.
Karena itu, Indriyanto memastikan tim pelatih akan memanfaatkan waktu yang tersisa untuk memperbaiki persoalan tersebut. Selain menjalani pemulihan fisik, para pemain juga akan mendapat porsi latihan finishing yang lebih banyak.
Dengan jadwal yang cukup padat, Persebi hanya memiliki waktu sekitar dua hari untuk melakukan recovery sebelum kembali menjalani pertandingan di babak 32 besar.
Selain memperbaiki efektivitas lini depan, Persebi juga menyiapkan sejumlah strategi lain untuk menghadapi lawan-lawan berikutnya. Salah satunya adalah memaksimalkan situasi bola mati yang berpotensi menjadi pembeda dalam pertandingan.
Saat ditanya mengenai kemungkinan mengandalkan skema set piece, Indriyanto memberikan sinyal bahwa timnya telah menyiapkan senjata khusus yang belum sepenuhnya diperlihatkan pada fase grup.
"Pastinya kita punya senjata, tapi ya itulah nanti di pertandingan selanjutnya senjata itu akan kita gunakan," tandasnya. (hj/nik)
Editor : Niko auglandy