RADARSOLO.COM — Di saat tim-tim tetangga seperti Brasil, Kolombia, hingga Prancis diperkuat oleh deretan bintang kulit hitam yang dominan, skuad tim nasional Argentina justru menyajikan pemandangan berbeda.
Sepanjang sejarah sepak bola modern, tim yang kini dipimpin Lionel Messi ini hampir 100 persen diisi oleh pemain berkulit putih.
Sorotan terhadap komposisi pemain yang dinilai "kurang hitam" ini sempat memicu kritik dari selebritas dunia, termasuk mantan rapper AS Joe Budden usai Piala Dunia 2022.
Isu ini kembali menggelinding panas pada pergelaran Piala Dunia 2026 akibat serangkaian insiden friksi rasial di luar lapangan.
Mulai dari protes gestur anti-rasisme resmi FIFA oleh pelatih Mesir Hossam Hassan, hingga dugaan pelecehan rasial terhadap YouTuber IShowSpeed oleh oknum fans beratribut Argentina saat melawan Tanjung Verde.
Fenomena ini memicu pertanyaan besar, mengapa negara yang bertetangga dekat dengan Brasil ini hampir tidak memiliki perwakilan etnis kulit hitam di tim nasionalnya?
Baca Juga: Mengapa Argentina Panen Kebencian di Piala Dunia 2026? Hingga Ramai Desakan Usir Messi Dkk
Ternyata, jawabannya tidak sesederhana urusan bakat di lapangan, melainkan berakar kuat pada sejarah kelam pembersihan demografi masa lalu.
Dulu Mengisi Sepertiga Populasi
Banyak orang mengira Argentina sejak awal adalah negara yang homogen dengan mayoritas keturunan Eropa.
Padahal, fakta sejarah berkata sebaliknya.
Berdasarkan catatan George Reid Andrews dalam buku The Afro-Argentines of Buenos Aires, 1800-1900, wilayah Buenos Aires sempat menjadi pusat transit perdagangan budak asal Afrika pada abad ke-16 hingga ke-17.
Memasuki awal tahun 1800-an, populasi kulit hitam (Afro-Argentina) mencakup hampir sepertiga (33 persen) dari total penduduk negara tersebut.
Warga keturunan Afrika ini bahkan ikut berjuang di garis depan dalam Perang Kemerdekaan Argentina tahun 1810, sebelum perbudakan resmi dihapuskan total melalui Konstitusi 1853.
Namun, menginjak abad ke-21, angka tersebut menyusut drastis secara misterius.
Merujuk data biro sensus resmi Argentina (INDEC) serta data CIA The World FactBook, penduduk kulit hitam dan keturunannya saat ini tercatat kurang dari 1 persen saja dari total populasi.
Proyek "Pemutihan" Bangsa oleh Para Elite Negara
Hilangnya populasi kulit hitam dari peta demografi dan lapangan sepak bola Argentina merupakan dampak dari kebijakan politik sistematis abad ke-19 yang dikenal sebagai proyek blanqueamiento atau "pemutihan" bangsa.
Baca Juga: Persis Solo Wajib Waspada! Deltras FC Datangkan Pelatih dengan Ambisi Besar
Setelah merdeka, para elite politik Argentina saat itu merasa bahwa masa depan kemajuan negara harus disandarkan pada kultur Eropa.
Tokoh utama perumus Konstitusi Argentina 1853, Juan Bautista Alberdi, menelurkan doktrin terkenal: "memerintah berarti mendatangkan penduduk".
Prinsip tersebut bahkan disahkan secara hukum melalui Pasal 25 Konstitusi Argentina yang secara eksplisit mewajibkan negara untuk memprioritaskan dan mendorong arus imigrasi massal dari benua Eropa (terutama dari Italia dan Spanyol).
Kebijakan inilah yang membuat jutaan imigran Eropa datang membanjiri negara tersebut sepanjang abad ke-19 dan ke-20.
Sementara gelombang imigran Eropa terus digenjot, keberadaan masyarakat adat serta keturunan Afrika sengaja dipinggirkan dari narasi sejarah resmi nasional.
Efek dari narasi ini menciptakan mitos kolektif bahwa seluruh orang Argentina "datang dari kapal" Eropa.
Baca Juga: Status Kontrak Dejan Tumbas Terkuak, Jadi Sinyal Masa Depannya di Persis Solo?
Posisi Politik di Era Modern
Penyangkalan terhadap kontribusi serta keberadaan ras kulit hitam ini dinilai masih tercermin dalam kebijakan politik modern.
Pendiri organisasi Diáspora Africana de la Argentina (DIAFAR), Federico Pita, menyoroti bagaimana Argentina di bawah kepemimpinan Presiden Javier Milei menjadi salah satu dari sedikit negara yang menolak resolusi PBB terkait pengakuan perbudakan trans-Atlantik sebagai kejahatan kemanusiaan yang memerlukan reparasi.
Kombinasi antara kebijakan imigrasi masa lalu, asimilasi budaya yang masif, serta penghapusan narasi sejarah etnis minoritas inilah yang menjelaskan secara gamblang mengapa anak-anak muda berkulit hitam hampir tidak eksis di akademi-akademi sepak bola lokal setempat.
Realitas tersebut akhirnya membentuk wajah timnas Argentina yang kita kenal hari ini, sebuah potret tim yang murni didominasi oleh keturunan migran Eropa.
Editor : Syahaamah Fikria