RADARSOLO.COM – Jalan menuju sepak bola profesional tidak selalu ditempuh dengan cara yang sama. Dafa Habibullah dan Faizul Mukhlisin menjadi gambaran dua talenta muda Akademi Persis yang melewati proses berbeda sebelum akhirnya mendapat promosi ke tim senior.
Dafa lebih dulu mencuri perhatian berkat talenta teknisnya. Sementara Faizul membutuhkan proses lebih panjang untuk menunjukkan perkembangan. Namun, keduanya kini berada di titik yang sama setelah promosi dari Persis U-20 ke tim senior.
Direktur Akademi Persis Solo Rasiman menyebut karakter keduanya memang berbeda. Namun, ada alasan yang membuat Dafa dan Faizul layak mendapatkan kesempatan bersaing di level senior.
Baca Juga: Sopo Sing Tekun Tekan: Faizul Mukhlisin Sukses Tembus Tim Senior Persis Solo di Liga 2 2026/2027
Dafa sebenarnya sudah diproyeksikan meninggalkan kelompok U-20 pada musim sebelumnya. Namun, Rasiman melihat masih ada potensi yang bisa dikembangkan sehingga mempertahankannya untuk menjalani proses pembinaan lebih lanjut.
“Dafa itu sebetulnya sudah harusnya lulus tahun kemarin karena dia tahun terakhirnya. Saya tarik dia sebagai pemain joker karena melihat anak ini punya potensi, tapi masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, terutama di aspek fisik. Massa otot dia terlalu kecil kalau untuk bermain di liga,” kata Rasiman kepada Jawa Pos Radar Solo melalui telepon, Kamis (20/8/2026).
Baca Juga: Faizul Naik ke Tim Senior Persis Solo, Ricky Nelson Soroti Kecepatan dan Timing Bermain
Selain massa otot, daya tahan Dafa juga menjadi perhatian. Kapasitas aerobik dan anaerobiknya dinilai belum cukup untuk menghadapi tuntutan sepak bola senior.
Karena itu, pembinaan Dafa tidak hanya menyasar aspek teknik. Fisik dan taktikal ikut mendapat porsi besar dalam proses perkembangannya.
Hasilnya mulai terlihat pada EPA 2025/2026. Bek kiri tersebut berkembang menjadi salah satu pemain konsisten sekaligus dipercaya sebagai kapten Persis U-20.
Baca Juga: Dua Pemain Persis Solo U-20 Naik Kelas, Daffa dan Faizul Gabung Tim Senior
Catatan resmi Persis menunjukkan Dafa tampil 32 kali dan mencetak enam gol. Kemampuan menggunakan kaki kiri juga menjadi salah satu kelebihannya.
“Secara teknis kita sudah lihat lama bahwa anak ini mempunyai kemampuan teknis yang baik. Yang selanjutnya adalah kemampuan taktikal karena pengetahuan soal taktikal itu akan permanen. Jadi memang kita banyak bekerja di fisikal dan taktikal aspek di Dafa untuk mempersiapkan dia ke profesional,” terang Rasiman.
Faizul Andalkan Ketekunan
Jalan berbeda ditempuh Faizul. Penyerang yang kini berusia 18 tahun tersebut tidak langsung mencuri perhatian ketika pertama kali berada di akademi.
Rasiman bahkan mengakui ada pemain lain di kelompok U-20 yang memiliki talenta lebih besar. Namun, Faizul memiliki modal lain yang membuat perkembangannya terus berjalan.
Ketekunan menjadi salah satu kekuatan utama pemain tersebut. Ketika tidak bisa mengikuti latihan pagi, Faizul berusaha meminta kesempatan menjalani sesi latihan pengganti pada sore hari.
“More talented players than him di Under-20 sebetulnya. Tapi kategori ‘sopo sing tekun tekan’ itu memang istiqomah menjadi senjata yang paling ampuh sebetulnya di development. Ini harus menjadi motivasi buat anak-anak kita di akademi,” ujar Rasiman.
Baca Juga: Persis Solo Tambah Jam Terbang Jelang Championship, Dua-Tiga Uji Coba Disiapkan
Kerja keras tersebut kemudian membuahkan perkembangan signifikan. Faizul disebut sebagai salah satu pemain yang mengalami peningkatan paling cepat setelah mendapatkan pembinaan teknik, taktik, dan fisik secara lebih terarah.
Musim lalu, Faizul mencatatkan sembilan gol dari 31 penampilan bersama Persis U-20. Performa tersebut akhirnya membuka jalan baginya untuk menjalani trial bersama tim senior.
Rasiman turut memantau proses trial yang berlangsung sekitar satu bulan bersama Pelatih Kepala Persis Solo Ricky Nelson. Dari proses tersebut, terlihat karakter permainan Faizul yang dinilai sesuai dengan kebutuhan tim.
“Saya sudah jelaskan juga bahwa mungkin banyak pemain bagus di dalam tim, tapi Zul itu adalah pemain yang akan menolong tim kita. Artinya dia hilang bola langsung counter-pressing, dia memang pemain yang patuh dan mengerti tentang instruksi pelatih. Nah itu different level of players menurut saya,” jelasnya.
Baca Juga: Persis Solo Kalah Tipis dari Klub Liga 1 di Stadion Kebogiro
Menurut Rasiman, kemampuan tersebut menjadi nilai lebih Faizul. Dia tidak hanya berkembang secara individu, tetapi juga mampu memberikan kontribusi terhadap permainan tim, terutama ketika kehilangan penguasaan bola.
Tantangan Berikutnya Mental
Kini, tantangan baru menanti Dafa dan Faizul. Setelah aspek teknik, fisik, dan taktikal dinilai semakin siap, keduanya harus beradaptasi dengan tuntutan lingkungan tim senior.
“Di senior ini bukan soal tiga tadi, bukan teknik, fisik, taktik. Ini is all about mental aspect. Bagaimana dia beradaptasi dengan situasi yang baru, confidence, communication, belief, mengatasi kesulitan. Itu yang akan menentukan,” ungkap Rasiman.
Fase tersebut menjadi salah satu tahapan paling krusial dalam jalur pembinaan pemain. Persaingan, kemungkinan minim menit bermain, kelelahan, hingga tekanan di level profesional menjadi ujian baru yang harus dilewati.
Karena itu, perkembangan Dafa dan Faizul tetap akan dipantau. Keduanya kini menjadi bagian dari aset muda yang diproyeksikan dapat berkembang bersama Persis.
Promosi tersebut sekaligus menjadi gambaran mulai munculnya breakthrough players dari Akademi Persis. Sebelumnya, Rasiman juga menyebut Refan dan penjaga gawang Er Deva sebagai pemain yang layak mendapat kesempatan di level senior.
Kini, Dafa dan Faizul memiliki kesempatan yang sama untuk membuktikan diri. Dafa membawa talenta yang terus dipoles, sedangkan Faizul datang dengan modal ketekunan.
Dua jalan berbeda tersebut akhirnya bertemu di tim senior Persis. Tantangan berikutnya adalah membuktikan bahwa proses panjang di Akademi Persis mampu diterjemahkan menjadi performa nyata di level profesional. (hj/nik)
Editor : Niko auglandy