RADARSOLO.COM-Tepat Jumat (20/2/2026), duet Etik Suryani dan Eko Sapto Purnomo genap setahun mengemban amanah sebagai bupati dan wakil bupati Sukoharjo.
Dilantik bersama kepala daerah hasil Pilkada 2024 oleh Presiden Prabowo Subianto pada 20 Februari 2025, Etik-Sapto langsung tancap gas melanjutkan agenda pembangunan, dengan satu fokus yang tak pernah bergeser: jalan harus mulus.
Bagi Bupati Etik Suryani, yang kini memasuki periode kedua kepemimpinannya, infrastruktur jalan bukan sekadar proyek fisik.
Jalan adalah urat nadi ekonomi. Jalan adalah penghubung harapan. Jalan adalah wajah pelayanan publik yang paling nyata dirasakan masyarakat.
Data Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Sukoharjo menunjukkan capaian signifikan.
Sejak 2019—sebelum Etik memimpin—hingga akhir periode pertama pada 2024, panjang jalan berkondisi baik di Sukoharjo meningkat 200,615 kilometer atau melonjak 193,65 persen.
Angka itu menjadi fondasi kuat memasuki tahun pertama periode kedua.
“Pembangunan infrastruktur jalan menjadi prioritas utama pada 2025. Tahun ini, pembangunan infrastruktur jalan tetap dilanjutkan sebagai bagian dari peningkatan pelayanan publik,” ujar Etik saat diwawancarai, Jumat (27/2/2026).
Program Jalanku Mulus kembali digulirkan dengan pendekatan berbeda: konsep Ruas Tuntas.
Artinya, satu ruas jalan dikerjakan hingga benar-benar selesai dan optimal, bukan tambal sulam yang setengah-setengah.
Strategi ini dirancang untuk memperkuat konektivitas antarwilayah, memperlancar mobilitas warga dan pelaku usaha, sekaligus memastikan distribusi barang lebih efisien.
Tak berhenti pada aspal dan beton, Pemkab Sukoharjo juga menguatkan aspek keselamatan dan kenyamanan melalui program Terangi Jalanku.
Pemasangan lampu penerangan jalan umum (LPJU) dimasifkan di 12 kecamatan, terutama pada ruas penghubung antardesa dan titik rawan kecelakaan.
“Pemasangan LPJU dilakukan melalui program Terangi Jalanku. Sasarannya ruas jalan penghubung antardesa dan rawan kecelakaan. Sekarang jalan perdesaan lebih terang,” jelas Etik.
Namun, pembangunan Sukoharjo tak hanya soal infrastruktur fisik. Pemerintah daerah juga menanam investasi jangka panjang pada pembangunan manusia.
Salah satu simbolnya adalah rampungnya Grha Pustaka Sukoharjo, yang kini menjelma menjadi ikon wisata literasi bagi pelajar dan mahasiswa.
Ruang ini bukan sekadar perpustakaan, melainkan ruang tumbuh bagi gagasan dan kreativitas generasi muda.
Program unggulan lain yang baru pertama kali digulirkan pada 2025 adalah Beasiswa Kuliah Sukoharjo Pintar dan Umrah Gratis untuk Takmir Masjid.
Sekretaris Daerah (Sekda) Sukoharjo Abdul Haris Widodo menyebut, sebanyak 38 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta menjadi penerima beasiswa pada tahap awal.
“Hasil proses seleksi ini akan menjadi bahan evaluasi untuk pelaksanaan program pada 2026,” ujarnya.
Sementara itu, program Umrah Gratis untuk Takmir Masjid memberangkatkan 24 takmir masjid ke Tanah Suci pada Desember 2025.
Program ini tidak hanya bernilai simbolik, tetapi juga memperkuat peran sosial dan spiritual para penggerak masjid di tengah masyarakat.
“Program ini berdampak nyata dalam membangun nilai-nilai spiritual, memperdalam ilmu agama, dan memakmurkan masjid,” imbuh Haris.
Kombinasi pembangunan fisik dan nonfisik itu berkelindan dalam satu indikator kunci: Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
Pada 2025, Sukoharjo kembali mencatatkan diri sebagai daerah dengan IPM tertinggi se-Jawa Tengah dan masuk 10 besar nasional.
Trennya pun konsisten meningkat. Skor IPM Sukoharjo tercatat 77,13 pada 2021, naik menjadi 77,94 pada 2022, meningkat lagi menjadi 78,65 pada 2023, lalu 79,30 pada 2024, dan mencapai 79,90 pada 2025.
Angka-angka itu bukan sekadar statistik. Ia merepresentasikan harapan hidup yang lebih baik, akses pendidikan yang semakin luas, serta daya beli masyarakat yang terus tumbuh.
“Implikasinya, kualitas hidup masyarakat semakin meningkat berkat keberhasilan program pembangunan yang dijalankan Pemkab Sukoharjo,” tandas Haris.
Setahun mungkin waktu yang singkat dalam siklus pemerintahan.
Namun bagi Etik-Sapto, 365 hari pertama periode kedua menjadi fase konsolidasi sekaligus percepatan.
Jalan terus diaspal, lampu terus dinyalakan, beasiswa terus disalurkan, dan ruang literasi terus dibuka.
Di tengah tantangan ekonomi dan dinamika sosial yang terus bergerak, Sukoharjo memilih satu arah: melaju dengan infrastruktur yang kuat dan manusia yang berdaya. (kwl)
Editor : Tri wahyu Cahyono