Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Stok Makanan Menipis, Mahasiswa Tiongkok Asal Solo Memohon Dievakuasi

Perdana Bayu Saputra • Kamis, 30 Januari 2020 | 20:55 WIB
Flafia berada di asrama mahasiswa Xihua University
Flafia berada di asrama mahasiswa Xihua University
SOLO – Mahasiswa asal Kota Bengawan yang saat ini menempuh studi di Xihua University Tiongkok tetap minta dievakuasi pulang ke Indonesia. Permintaan ini disampaikan orang tua dari salah seorang mahasiswa di sana Flafia Domitella Hindun Anjani.

“Sudah sejak Selasa (21/1) saya terus komunikasi intens dengan anak saya lewat WhatsApp. Sejak virus korona menyebar dan kondisi terakhir katanya dia mulai bingung karena stok makanan sudah mulai menipis. Sedangkan pihak kampus sudah meminta agar para mahasiswa asing untuk segera kembali ke negaranya karena di sana sudah ada korban (virus korona),” ungkap Mattheus Senggono, ayah Flafia, kemarin (29/1).

Menurut pria yang akrab disapa Gono ini, sejak awal merebaknya virus tersebut, pihak kampus hanya memberikan imbauan agar para mahasiswa membekali diri dengan alat proteksi seperti masker dan sarung tangan saat keluar kampus.  Namun dua hari setelah itu, imbauan ini berubah menjadi larangan keluar dari asrama kecuali untuk keperluan darurat seperti mencari bahan makanan. “Dan terakhir pihak kampus mengeluarkan pengumuman agar mahasiswa asing kembali ke negaranya,” imbuhnya.

Sebelumnya, total ada 10 rombongan mahasiswa asal Solo termasuk putrinya kuliah di Xihua University. Mereka merupakan lulusan D3 Pendidikan Bahasa Mandarin Universitas Sebelas Maret (UNS). Melalui kerja sama Confucius Institut UNS dengan Xihua University, anaknya bersama sembilan orang lainnya kuliah Negeri Tirai Bambu ini per Oktober 2019.

Dari 10 mahasiswa tersebut, dua sudah pulang ke Tanah Air sejak liburan Imlek. Sedangkan delapan orang masih di sana, termasuk Falfia. “Setelah ada pengumuman itu, dua mahasiswa berusaha pulang ke Indonesia, tapi kesulitan mencari tiket. Akhirnya tetap tinggal di asrama. Masalahnya saat ini stok bahan makanan sudah menipis. Karena pasar sudah tutup semua dan barang di minimarket juga semakin langka,” ujar Gono.

Gono sangat mencemaskan kondisi putrinya yang tengah terisolasi di Tiongkok. Dia berharap pihak kampus asal anaknya, UNS bisa memfasilitasi pemulangan anaknya lewat Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Beijing, Tiongkok. Terlebih di dekat kampus putrinya sudah banyak warga yang dirawat karena virus korona.

“Memang dari Provinsi Wuhan letaknya jauh, tapi di Sichuan kabarnya sudah ada satu korban meninggal dan 44 orang dirawat. Dan mereka ada yang tinggal di dekat asrama. Makanya kami pun cemas dengan kondisi anak kami,” sambungnya.

“Baru tiga bulan di sana terjadi kasus virus korona ini. Terakhir pihak kampus menyarankan untuk pulang ke Indonesia dan nanti kalau sudah aman akan mengabarkan kapan bisa kembali ke Tiongkok. Selain biaya untuk pulang, mereka juga kesulitan keluar dari Sichuan karena akses keluar maupun masuk ke sana sudah dibatasi. Makanya kami hanya bisa mengharapkan KBRI bisa membantu mengevakuasi anak kami bersama teman-temannya,” tegasnya.

Flafia melalui video call WhatsApp mengatakan, untuk mengantisipasi penularan virus korona itu, bila ke luar rumah tubuh harus tertutup rapat. Mulai dari memakai masker, sarung tangan, jaket dan lain-lain. “Keluar masuk kampus sampai di gerbang disuruh menunjukkan kartu mahasiswa dan dicek suhu tubuhnya. Setiap gerbang ada sekuriti yang jaga. Tidak sembarang orang boleh masuk kampus,” ujarnya.

Dikonfirmasi soal permintaan evakuasi para mahasiswa ini, Perwakilan Humas UNS Ariyanto mengatakan, Flafia dkk merupakan alumni UNS. “Berkaitan pemberitaan 17 mahasiswa UNS di Xihua University Tiongkok itu kurang tepat. Mereka sudah alumni (UNS) yang studi lanjut dan statusnya bukan dual degree,” ujarnya.

Di bagian lain, tenaga kerja Indonesia asal Wonogiri Tri Padmi, 33, yang tinggal di Kota Aberden, Hongkong mengatakan, di kota yang dia tinggali banyak supermarket kehabisan stok bahan makanan. Dia tidak tahu alasan secara pasti kenapa banyak orang berbelanja.

Meski begitu, kondisi kota yang dia tinggali tetap kondusif. Hanya saja, lansia banyak berkurang di taman-taman kota. Ditambah udara sangat dingin.

Menurut dia, dampak korona membuat harga masker mahal. Hal ini dimanfaatkan oknum-oknum warga setempat berbuat curang. Beberapa ditemui menjual masker-masker bekas.

Mahalnya masker itu, membuat dia terpaksa meminta kiriman masker dari Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, dia meminta kiriman 5 boks masker.

“Mudah-mudahan Minggu besok kirimannya sampai. Sayang kalau beli di sini. Selain mahal, khawatir masker bekas,” kata perawat lansia ini melalui sambungan teleponnya.

Kata Patmi, hanya dia satu-satunya warga Wonogiri yang bekerja di kota tersebut. Awalnya memang ada sesama pekerja migran yang sama-sama dari Wonogiri, tapi sudah menikah dengan warga Ponorogo.“Stok makanan di supermarket tidak berpengaruh kepada saya sih. Hanya harga maskernya ini yang tertalu mahal,” katanya sembari berharap ancaman korona cepat berlalu.

Senada diungkapkan seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran Chengdu University of TCM  di Chengdu, Tiongkok, Nafisa. Imbauan agar tidak bepergian sudah dia terima sejak virus korona mulai merebak. Meski berada di provinsi berbeda dengan Wuhan, namun, penderita virus korona di Chengdu sudah mencapai 37 orang.

“Saya belajar di Chengdu sejak 2018. Saat ini bukan hanya kekurangan masker lagi. Tapi sudah tidak ada masker lagi. Kami sekarang mengandalkan stok yang kami beli beberapa waktu lalu. Namun, jumlahnya tidak banyak,” katanya.

Nafisa mengaku khawatir dengan cepatnya penyebaran virus ini. Apalagi saat tengah memasuki musim liburan di Tiongkok. Untuk meminimalisasi tertular Nafis memilih berada di asrama. Dia memilih menyetok bahan makanan, masker serta handsanitazier. Sebab, di daerah tinggalnya saat ini sudah ada satu orang yang positif terjangkit virus korona.

“Selama liburan ini kami tidak keluar dan stay di kamar. Karena di tempatku ada satu yang terjangkit. Semoga tidak menular ke yang lain,” katanya. (aya/kwl/rgl/bun) Editor : Perdana Bayu Saputra
#xihua university #tiongkok #virus korona #evakuasi #solo #indonesia #UNS Solo #mahasiswa