Kepada wartawan, Honda menjelaskan kronologi menurut pandangan matanya. Awalnya, dia memimpin rapat konsolidasi anak ranting yang dihadiri Sekretaris DPC PDIP Teguh Prakosa dan pengurus DPC Y.F. Sukasno
"Intinya rapat musyawarah anak ranting saya berikan sambutan, menjelaskan kepada pengurus, kader, simpatisan yang rawuh maupun tokoh masyarakat. Intinya pada saat sambutan tidak terjadi apa-apa. Sudah inkrah putusan DPP, sesuai intruksi harus rapat satu barisan memenangkan Mas Gibran dan Pak Teguh," katanya, Senin (20/7).
Setelah itu, lanjut Honda, sambutan dari Y.F. Sukasno. Belum selesai menyampaikan sambutan, salah seorang tampak melempar kardus snack ke arah depan. Honda tidak mengerti apakah lemparan itu diarahkan ke dirinya atau Sukasno.
"Habis itu saya bangun sudah ramai mengerubung, mau dilerai sudah dibawa keluar," ucapnya.
Jika dilihat dari isi sambutan, Honda menyebut tidak ada persoalan yang dapat memantik emosi peserta. Jika ada kabar soal perbedaan dukungan, ketua Komisi III DPRD Surakarta itu menilai hal tersebut wajar. Diakui dia, dalam tubuh PAC Jebres memang terdapat perbedaan pendapat terkait bakal calon wali kota Surakarta dalam Pilkada 2020.
"Banyak juga pengurus yang berbeda pada waktu itu, ndak ada persoalan, ndak ada pemecatan," ujar Honda.
Dia berharap ada proses penyelesaian secara kekeluargaan. Selain itu, Honda memastikan target untuk memenangkan Gibran-Teguh tetap dijalankan oleh PAC Jebres.
Diberitakan sebelumnya, Ketua Anak Ranting PDIP RW 28, Kampung Mondokan, Kelurahan/Kecamatan Jebres Agung Indaryanto melaporkan dugaan pengeroyokan yang dilakukan sejumlah kader dan satgas PDIP ke Satreskrim Polresta Surakarta, Senin. Pengeroyokan terjadi di sela-sela rapat konsolidasi anak ranting di RW 28, Minggu (19/7) malam.
Menurut Agung, kejadian bermula ketika di tengah rapat, dia merasa akan dilengserkan dari jabatannya. Agung yang merasa kecewa dan dilecehkan, langsung tersulut emosi dan membanting kardus snack. Namun kemudian dia dikeroyok dan dipukul oleh sejumlah kader dan satgas partai.
Pria yang akrab disapa Agung Walet ini menduga, motif pemukulan tersebut karena perbedaan pandangan antara dirinya dengan teman-teman lain di anak ranting terkait sosol bakal calon wali kota Surakarta. (irw/ria) Editor : Perdana Bayu Saputra