Meski masih dalam tahap uji coba, armada berjenis bus rapid trans (BRT) itu mulai mendapat perhatian dari masyarakat. Terlihat mereka ikut menjajal layanan baru itu saat soft launching di pintu timur Terminal Tirtonadi, kemarin.
“Ini mau ke Kalioso (Karanganyar). Biasanya naik bus umum arah Sragen, tapi tadi diarahkan petugas terminal untuk naik Trans Jateng saja, mumpung masih gratis,” ujar warga Kalijambe, Sragen, Warsini, 64, yang biasa naik turun di Terminal Tirtonadi.
Selain karena layanan tersebut masih gratis, kenyamanan bus ini sangat diutamakan. Fasilitas di dalam armada cukup nyaman. Para penumpang tak harus berdesakan selama menempuh perjalanan dan bisa bersantai karena suhu ruangan dalam armada lebih sejuk daripada bus umum. “Kalau bus biasa biasanya agak penuh dan panas. Ini busnya pakai pendingin ruangan jadi tidak panas,” papar dia.
Hal serupa juga diungkapkan penumpang lainnya, Umrotin, 52. Warga Gilingan, Solo ini menilai Trans Jateng bakal jadi pilihan terbaik maupun alternatif bagi masyarakat yang sering bepergian menggunakan bus umum. Saat uji coba itu dia memang diarahkan petugas untuk menjajal bus baru itu. Mengingat dia juga hendak turun di Terminal Sumberlawang.
“Biasanya naik bus kecil yang sering penuh. Ini lebjh nyaman. Tadi saya tanya katanya masih gratis. Lalu saya tanya berapa tarif normalnya, kata petugas untuk umum hanya Rp 4.000. Ini separo biaya naik bus umum lainnya,” ucap dia.
Sekadar informasi, Trans Jateng trayek Solo-Sragen itu beroperasi mulai pukul 05.00-pukul 16.00. Selama tahap uji coba layanan, 14 armada itu dioperasikan secara gratis, sedangkan tarif normal baru akan dikenakan setelah resmi diluncurkan pada 9 September mendatang.
“Pada awal uji coba 1-9 September penumpang digratiskan. Setelah uji coba selesai nanti baru kami berlakukan tiket pada seluruh penumpang Trans Jateng. Tiket khusus pelajar, veteran, dan buruh hanya Rp 2.000 per penumpang. Sedangkan untuk penumpang umum tiketnya Rp 4.000 per penumpang,” terang Koordinator Layanan Trans Jateng Rahmat Hendratmoko.
Trayek Solo-Sragen ini dilengkapi 22 halte pemberhentian. Rinciannya 11 halte ke arah Sragen dan 11 halte ke arah Solo. Menimbang konsep layanan itu, Trans Jateng bisa jadi pilihan untuk alternatif perjalanan dari Solo ke Sragen atau sebaliknya.
Pemprov Jateng pun memastikan layanan itu tak akan mengganggu pelayanan bus lokal karena perbedaan standar operasional prosedur (SOP) maupun segmen penggunanya. “Rute ini dikelola konsorsium dari enam operator perusahaan otobus (PO) lokal. Jadi pembagian segmennya jelas. Juga melayani untuk keperluan kepariwisataan,” imbuh Sekretaris Dishub Jawa Tengah Henggar Budi Anggoro
Dia menilai keberadaan Trans Jateng ini bisa memudahkan wisatawan yang akan bepergian ke Museum Purbakala di Sangiran, Sragen melalui Kota Solo. Selain itu, keberadaan Trans Jateng bisa menekan angka kasus kecelakaan lalu lintas dengan melibatkan kendaraan pribadi.
“Kami berharap pelajar dan buruh tidak lagi naik sepeda motor dan beralih manfaatkan bus Trans Jateng untuk mengurangi kemacetan,” harap Henggar. (ves/bun/ria)
Jalur Trans Jateng Koridor Solo-Sragen PP
Rute:
Terminal Tirtonadi – Jalan Kapten Pierre Tendean – Jalan Kolonel Sugiyono – Jalan Raya Solo- Purwodadi – Jalan Sangiran – Museum Sangiran.
Museum Sangiran– Jalan Sangiran – Jalan Raya Solo-Purwodadi – Terminal Gemolong – Jalan Raya Solo Purwodadi – Terminal Sumberlawang
Tarif:
Penumpang umum Rp 4.000
Pelajar/Buruh/Veteran Rp 2.000
Jarak Antarmoda:
15-20 menit
Titik Pemberhentian:
22 halte Solo-Sragen
Titik Pemberhentian:
- Terminal Tipe A Tirtonadi Solo
- SMK Muhammadiyah Gondangrejo
- MAN 3 Sragen di Kalijambe
- SMKN 1 Kalijambe
- Museum Sangiran
- Puskesmas Kalijambe
- SMPN 1 Gemolong
- SMAN 1 Sumberlawang
- SMPN 1 Sumberlawang
- Terminal Sumberlawang, Sragen. Editor : Perdana Bayu Saputra