Selain teror pelemparan batu mobil ambulans milik PKU Muhammadiyah Cawas, Klaten, di Flyover Purwosari, Jumat dini hari (9/7), rentetan teror terhadap sopir ambulans juga terjadi di beberapa lokasi di eks Karesidenan Surakarta.
Ketua Persatuan Driver Ambulan Soloraya (Pedas) Nanang Khoironi mengatakan, dari laporan yang dia terima tercatat, dalam tiga hari terakhir empat teror dari orang tidak dikenal menimpa para sopir ambulans.
Dia menyebut fenomena video hoaks ambulans disuruh muter-muter untuk menakut-nakuti warga di Kudus itu membuat segelintir masyarakat mudah terprovokasi. Akhirnya melakukan tindakan anarkistis.
"Setelah hoaks kemarin (di Kudus), ada empat ambulans kena teror saat hendak mengantarkan pasien dan memakamkan jenazah. Ada yang diludahi, dimaki-maki, dan diacungkan jari tengah. Ya sudah lah, kami pelayanan dari masyarakat kembali ke masyarakat," papar dia.
Menurutnya, para pengemudi ambulans memilih bersabar selama teror yang dilakukan tidak melanggar perundang-undangan. Padahal, kabar yang beredar itu terjadi bukan di wilayah kes Karesidenan Surakarta dan narasi dalam kabar itu jelas hoaks.
Nanang menyebut setiap sirine dan strobo menyala sudah ada aturan. Sehingga para pengemudi tidak asal-asalan saat bertugas. Padahal, banyak ambulans sukarelawan yang bertugas dari pagi hingga pagi lagi untuk masyarakat. Tetapi malah teror yang diterima oleh mereka.
Dia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk saling mendukung. Penyalaan sirine dan strobo bukan keinginan pengemudi untuk cepat-cepat di jalan, namun ada pasien yang harus segera dibantu. Pelayanan ambulans mengutamakan keselamatan pasien segera sampai di rumah sakit untuk mendapat penanganan lebih cepat.
“Ayo saling mendukung, kami juga meninggalkan keluarga untuk masyarakat. Saat pelayanan, kami menanggap itu keluarga kami sendiri,” imbuh dia.
Nanang meminta masyarakat jangan langsung percaya informasi yang belum tentu benar. Masyarakat harus memilah informasi beredar dengan cermat sebelum bertindak ceroboh dan merugikan orang lain.
Meski beberapa kali menerima teror, Nanang mengatakan, psikologis pengemudi ambulans dalam keadaan baik. Seluruhnya bisa terkontrol dan mempercayakan proses hukum kepada kepolisian.
Nanang menyebut para pengemudi ambulans hanya bekerja untuk melayani masyarakat. Tentu mereka harus memtahui standar operasional prosedur (SOP).
"Dengan terbentuknya organisasi ini, kami mengimbau pengemudi kami untuk menaati SOP. Kalau anggota kami melanggar, kami berikan tindakan tegas. Misalnya menyalahgunakan strobo atau sirine," papar dia.
Di sisi lain dia mengapresiasi langkah tegas Kapolresta Surakarta Kombes Pol Ade Safri Simanjuntak, yang bakal mengambil langkah tegas terkait peristiswa pelemparan batu di Flyover Purwosari pada Jumat (9/7) dini hari. Kejadian itu sangat membuat tidak nyaman para pengemudi ambulan.
Ketua Komunitas Mobil Ambulans Muhammadiyah Klaten M Husni Tamrin sebelumnya juga telah melaporkan kejadian pelemparan batu terhadap mobil ambulans PKU Muhammadiyah Cawas di Flyover Purwosari itu ke Polresta Surakarta. “Kejadian sebelumnya ambulans kami ditabrak. Akhirnya berdamai dan kami maafkan. Kali ini agar ada efek jera kami bawa ke ranah hukum,” ujarnya.
Terpisah, Kasatreskrim Polresta Surakarta, AKP Djohan Andika menjelaskan, saat ini pihaknya sedang melakukan penyelidikan kasus pelemparan batu pada ambulans di Flyover Purwosari. "Saat ini sedang dalam tahap penyelidikan. Kami sudah periksa beberapa saksi," ucap Djohan saat dikonfirmasi, Minggu kemarin
Menurutnya, selain memeriksa beberapa saksi, penyelidki juga masih memeriksa CCTV (closed circuit television) di sekitar lokasi kejadian. Ini penting untuk melacak siapa pelaku pelemparan batu tersebut. (atn/bun/dam)
Editor : Damianus Bram