Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Sejumlah Gending Jawa Iringi Pemberangkatan Jenazah Mangkunegara IX

Damianus Bram • Minggu, 15 Agustus 2021 | 17:15 WIB
SUGENG TINDAK: Ndalem Ageng Pura Mangkunegaran tempat jenazah MN IX disemayamkan, Sabtu (14/8). Hari ini, Minggu (15/8), raja yang dikenal tegas dan penyayang itu dimakamkan di Astana Girilayu, Matesih, Karanganyar. (M. IHSAN/RADAR SOLO)
SUGENG TINDAK: Ndalem Ageng Pura Mangkunegaran tempat jenazah MN IX disemayamkan, Sabtu (14/8). Hari ini, Minggu (15/8), raja yang dikenal tegas dan penyayang itu dimakamkan di Astana Girilayu, Matesih, Karanganyar. (M. IHSAN/RADAR SOLO)
SOLO - Sesuai rencana, hari ini Minggu (15/8) sekitar pukul 10.00, jenazah KGPAA Mangkunegara IX, diberangkatkan menuju peristirahatan terakhir di Astana Girilayu, Matesih, Karanganyar. Sejumlah gending Jawa bakal ditabuh mulai pemberangkatan jenazah dari Pura Mangkunegaran hingga tiba di Astana Girilayu.

Humas Pura Mangkunegaran Joko Pramudyo menerangkan, gending-gending itu antara lain Menyan Kobar, Laler Mengeng, dan Renyep. "Kemudian saat peti jenazah diangkat menuju ambulans akan ditabuh Gending Ketawang Pamegat Sih," tutur dia.

Mengantisipasi kerumunan, satu jam sebelum prosesi pemakaman dimulai, semua akses menuju Pura Mangkunegaran ditutup.

“Tahapan pemakaman dibuka oleh pambiworo dilanjutkan pembacaan riwayat hidup. Pambagiharjo mewakili keluarga menyampaikan sambutan. Berlanjut dari pemkot. Setelah sambutan, diteruskan penyerahan akta kematian dari pemkot kepada  keluarga dan dilanjutkan doa," terang Joko.

Setelah peti jenazah ditutup, imbuhnya, dilanjutkan prosesi brobosan oleh istri, anak, dan cucu MN IX. Baru kemudian jenazah diberangkatkan ke Astana Girilayu. Malam hari tadi juga digelar doa bersama lintas agama.  "Untuk takziah selama tujuh hari ke depan dilaksanakan secara terbatas untuk kerabat," jelasnya.

Dihubungi terpisah, Dosen Karawitan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta Suraji menuturkan, gending-gending tersebut merupakan sarana berdoa kepada Sang Pencipta.

Menyan Kobar, lanjutnya, diartikan sebagai dupa yang berkobar. Suasana duka yang dahulu dibarengi dengan membakar kemenyan ditangkap oleh Paku Buwono (PB) IV dengan membuat gending tersebut.

Sedangkan Laler Mengeng, laler berarti lalat, mengeng merupakan suara sayap lalat yang mendengung dan diibaratkan suara tangisan. “Gending ini merupakan perwujudan suasana sedih,” kata Suraji.

Tak jauh berbeda makna Gending Pamegat Sih, yakni menggambarkan suasana duka karena ditinggal orang yang sangat dicintai

Untuk Renyep, gending ini bertujuan menghibur hati agar lebih ikhlas ketika ditinggalkan orang terdekat. “Gandengan-nya Gending Eling-Eling Kasmaran. Tujuan, agar selalu ingat bahwa setiap yang hidup pasti mati,” ucapnya. (atn/wa/dam) Editor : Damianus Bram
#KGPAA Mangkunegara IX #KGPAA Mangkunegara IX Meninggal Dunia #Pura Mangkunegaran #Gending Jawa Iringi Pemberangkatan Jenazah #Ndalem Ageng Pura Mangkunegaran